Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang tenaga kesehatan sedang mengikuti uji coba atau latihan simulasi mempersiapkan pengiriman vaksin virus corona Covid di pusat kesehatan primer di Chennai, India, pada 2 Januari 2021. ( Foto: Arun Sankar / AFP )

Seorang tenaga kesehatan sedang mengikuti uji coba atau latihan simulasi mempersiapkan pengiriman vaksin virus corona Covid di pusat kesehatan primer di Chennai, India, pada 2 Januari 2021. ( Foto: Arun Sankar / AFP )

India Otorisasi Dua Vaksin Covid-19

Senin, 4 Januari 2021 | 07:16 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

NEW DELHI, investor.id – Pemerintah India memberikan izin penggunaan darurat pada Minggu (3/1) untuk dua vaksin virus corona Covid-19 buatan AstraZeneca-Oxford University, dan perusahaan farmasi setempat Bharat Biotech. Menurut regulator obat India, otorisasi ini membuka jalan untuk mendorong vaksinasi terbesar di dunia.

“Vaksin-vaksin dari Serum Institute (vaksin AstraZeneca-Oxford), dan Bharat Biotech (vaksin COVAXIN) disetujui untuk penggunaan terbatas dalam situasi darurat,” demikian disampaikan V.G. Somani dari Drugs Controller General of India (DCGI) dalam jumpa pers Minggu, yang dikutip AFP.

CEO Serum Institute Adar Poonawalla pun mencuit bahwa setelah mendapat persetujuan, vaksin akan siap diluncurkan dalam beberapa pekan mendatang mendatang.

Sebagai informasi, Drugs Controller General of India berada di dalam Organisasi Pengendalian Standar Obat Pusat (Central Drugs Standard Control Organisation/CDSCO) yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga. DCGI sendiri bertanggung jawab atas pengaturan farmasi dan perangkat medis.

Sementara itu, dalam cuitan Perdana Menteri Narendra Modi, persetujuan jalur cepat adalah “titik balik penentuan untuk memperkuat pertarungan penuh semangat, yang mempercepat jalan menuju negara yang lebih sehat dan bebas Covid”.

Pemerintah India juga menetapkan target ambisius untuk memvaksinasi 300 juta dari 1,3 miliar penduduknya pada pertengahan 2021.

Menyusul pencapaian target itu, pihak berwenang telah mengadakan pelatihan nasional sebelum melaksanakan kampanye vaksinasi massal. Menurut laporan, terdapat sekitar 96.000 tenaga kesehatan yang telah dilatih untuk memberikan suntikan vaksin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyambut baik kabar otorisasi vaksin tersebut.

“Penggunaan vaksin terhadap populasi yang diprioritaskan, bersama dengan implementasi lanjutan dari langkah-langkah kesehatan masyarakat lainnya, dan partisipasi masyarakat akan menjadi hal penting dalam mengurangi dampak Covid-19,” ujar Direktur regional WHO Poonam Khetrapal Singh dalam sebuah pernyataan.

Namun, baik perusahaan maupun CDSCO tidak akan mengungkapkan hasil kemanjurannya. Tapi berdasarkan sumber, yang mengatakan kepada Reuters, tingkat efektivitasnya mencapai lebih dari 60% dengan penggunaan dua dosis.

India tercatat sebagai negara paling terinfeksi kedua di dunia dengan rekor lebih dari 10,3 juta kasus dan hampir 150.000 kematian. Padahal tingkat infeksinya telah turun secara signifikan dari puncak pertengahan September sebanyak lebih dari 90.000 kasus setiap hari.

Seorang tenaga kesehatan sedang mengikuti uji coba atau latihan simulasi mempersiapkan pengiriman vaksin virus corona Covid di pusat kesehatan primer di Chennai, India, pada 2 Januari 2021. ( Foto: Arun Sankar / AFP )
Seorang tenaga kesehatan sedang mengikuti uji coba atau latihan simulasi mempersiapkan pengiriman vaksin virus corona Covid di pusat kesehatan primer di Chennai, India, pada 2 Januari 2021. ( Foto: Arun Sankar / AFP )

Keamanan Vaksin Diragukan

Di sisi lain, otorisasi pengunaan darurat vaksin menuai kekhawatiran di India. Seperti halnya di negara-negara lain, masyarakat masih meragukan tingkat keamanan vaksin.

Menurut survei yang dilakukan terhadap 18.000 responden di seluruh India, sebanyak 69% tidak merasa terburu-buru untuk mendapatkan vaksin.

“Awalnya saya senang dengan vaksin itu, tetapi tidak lagi. Karena saya tidak mempercayainya. Saya tidak akan disuntik,” ungkap Vijaya Das (58 tahun), yang berprofesi sebagai bankir, kepada AFP.

Komentarnya menggaungkan kekhawatiran serupa yang melanda seluruh negeri.

“Tidak ada vaksin yang 100% efektif. Jadi apa jaminannya bahwa saya tidak akan tertular virus corona setelah saya divaksin,” tutur Suman Saurabh (48 tahun), seorang manajer penjualan.

Sementara itu, Anand Krishnan – seorang profesor kedokteran di All India Institute of Medical Sciences di New Delhi – menyampaikan bahwa pihak berwenang perlu secara terbuka mengeluarkan lebih banyak data tentang uji coba vaksin.

“Mereka harus berbagi hasil uji coba, dan membiarkan para ilmuwan sampai pada kesimpulan mereka sendiri. Dengan begitu, keraguan vaksin akan jauh berkurang,” ujar Krishnan kepada AFP.

Baik vaksin buatan AstraZeneca-Oxford dan Bharat Biotech harus diberikan dalam dua dosis, serta memiliki kemampuan mudah dalam pengangkutan dan penyimpanan dalam lemari pendingin bersuhu normal.

Menurut Institut Serum India – sebagai produsen vaksin terbesar di dunia – pihaknya telah membuat antara 50 dan 60 juta dosis sebulan dari vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca-Oxford. Vaksin ini juga dinilai lebih murah dibandingkan vaksin Pfizer-BioNTech.

Sedangkan untuk COVAXIN buatan Bharat Biotech belum menyelesaikan uji coba Tahap III, tetapi Somani menyebutkan jika vaksin ini telah disetujui untuk penggunaan terbatas demi kepentingan publik. Tindakan pencegahan dalam mode uji klinis ini adalah dengan memiliki lebih banyak pilihan vaksin, terutama bagi kasus-kasus infeksi dari varian baru virus corona yang bermutasi.

Ditambahkan oleh Somani kepada wartawan, usai memberikan pengarahan, bahwa regulator obat tidak akan pernah menyetujui apapun jika ada masalah keamanan sekecil apapun.

“Vaksinnya 100% aman,” katanya seraya menambahkan bahwa efek samping seperti demam ringan, nyeri dan alergi merupakan hal umum yang terjadi usai vaksinasi.

Chairman Bharat Biotech Krishna Ella menyampaikan bahwa vaksin ini untuk mengatasi kebutuhan medis yang tidak terpenuhi selama pandemi. “Tujuan kami adalah untuk menyediakan akses global ke populasi yang paling membutuhkannya. COVAXIN telah menghasilkan data keamanan yang sangat baik dengan respons kekebalan yang kuat terhadap berbagai protein virus yang bertahan,” tuturnya.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN