Menu
Sign in
@ Contact
Search
Mantan Menteri Perdagangan, Pariwisata dan Investasi Australia 2016-2018  Steven Ciobo pada acara Investor Daily Summit 2022, di Jakarta, Rabu, 12 Oktober 2022. (Foto: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono)

Mantan Menteri Perdagangan, Pariwisata dan Investasi Australia 2016-2018 Steven Ciobo pada acara Investor Daily Summit 2022, di Jakarta, Rabu, 12 Oktober 2022. (Foto: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono)

Indonesia-Australia Bisa Kerja Sama di Rantai Pasok Litium

Kamis, 13 Okt 2022 | 13:08 WIB
Jayanty Nada Shofa (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Ada potensi bagi Indonesia dan Australia untuk bisa bekerja sama di rantai pasok litium. Indonesia dapat memproses litium yang ditambang dari Australia untuk kemudian diekspor ke negara lain seperti AS. Kerja sama ini juga menjadi kesempatan untuk mengoptimalkan perjanjian Indonesia Australia-Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Hal ini disampaikan oleh Mantan Menteri Perdagangan, Pariwisata dan Investasi Australia Steven Ciobo di acara Investor Daily Summit 2022 di Jakarta Convention Center, Rabu (12/10). Menurutnya, ketegangan antara AS-Tiongkok telah menciptakan peluang bagi Indonesia. Ia juga menilai bahwa pemerintah Indonesia tengah mencari peluang di rantai pasok.

"AS yang merupakan pasar terbesar dunia tentunya ingin memastikan rantai pasoknya terjamin, khususnya untuk komponen penting seperti litium dan logam tanah jarang," ucap Ciobo pada Plenary Session yang bertajuk "Facilitating Global Trade and Investment”.

Dalam hal ini, Indonesia dan Australia bisa memanfaatkan IA-CEPA yang sudah mulai berlaku pada Juli 2020. "Misalnya, kita bisa membangun rantai pasok litium yang ditambang dari Australia. Kemudian, diproses di Indonesia. Lalu dari Indonesia diekspor ke AS," lanjut Ciobo.

Advertisement

Ciobo menambahkan kerja sama di bidang litium ini juga sejalan dengan visi pemerintah Indonesia untuk menjadi pemimpin dunia sebagai pemasok mineral dan energi baru terbarukan. "Serta ini juga bisa membantu mendorong transisi menuju kendaraan listrik. Jadi saya rasa ada peluang yang muncul," kata Ciobo.

Sebagaimana diketahui, litium adalah komponen penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik. Indonesia memang kaya akan nikel, yang juga dibutuhkan untuk baterai kendaraan listrik, tetapi harus mengimpor litium. Belum lama ini, Indonesia Battery Corporation (IBC) mengatakan kebutuhan litium hydroxide mencapai 70.000 ton per tahunnya dan ini masih diimpor dari Tiongkok, Australia, hingga Chile.

Dilansir dari Australian Bureau of Statistics, Australia adalah eksportir terbesar litium. Pada tahun 2020, 46% litium dunia datang dari Australia. Bahkan ekspor litium juga diperkirakan bisa berkontribusi $9,4 miliar pada perekonomian Australia di tahun 2023-2024. Sementara itu, AS sebenarnya merupakan negara yang kaya akan litium. Data US Geological Survey 2020 menunjukkan AS memiliki 6,8 juta ton cadangan litium, tetapi AS hanya memiliki satu tambang litium aktif yang terletak di Nevada.

AS juga bergantung pada impor baterai ion litium dari Tiongkok untuk kebutuhan kendaraan listriknya. S&P Global Market Intelligence melaporkan Tiongkok mengekspor 109,017 ton baterai ion litium di kuartal II 2022 atau sekitar 73,5% dari dari total baterai yang diimpor AS pada periode waktu tersebut. Tapi impor baterai dari Tiongkok ke AS ini sebenarnya menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan 110,081 ton atau 77,5% di kuartal pertama.

Sebagai informasi, IA-CEPA menawarkan peluang dua arah dalam perdagangan barang dan jasa, penanaman modal, dan peningkatan daya saing tenaga kerja Indonesia.

Peluang Investasi

Dunia tengah menghadapi ketidakpastian seperti perang Rusia-Ukraina, pertumbuhan ekonomi yang melambat di Uni Eropa, serta inflasi tinggi di AS. Di saat yang sama, ada dana yang melimpah ruah untuk diinvestasikan. Berbicara soal investasi, Ciobo menilai Asia merupakan benua dengan peluang investasi terbesar bagi investor di seluruh dunia. Indonesia, lanjut Ciobo, juga menjadi contoh pertumbuhan di Asia.

Menurut Ciobo, Indonesia telah menjalankan kebijakan reformasi ekonomi mikro selama beberapa tahun di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Reformasi ekonomi tersebut telah membuahkan hasil yang manis.

“Kita telah melihat bagaimana Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan begitu kuat. Ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai tertinggi keempat atau kelima di dunia pada tahun 2050. Indonesia juga berkomitmen untuk menggaet investasi asing," kata Ciobo.

Investor Daily Summit 2022 digelar oleh grup media B Universe yang sebelumnya dikenal sebagai BeritaSatu Media Holdings. Acara yang berlangsung selama 11-12 Oktober 2022 ini mengusung tema “Optimism in Uncertainty”.

Editor : Jayanty Nada Shofa (JayantyNada.Shofa@beritasatumedia.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com