Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC.,  Amerika Serikat (AS). ( Foto: Daniel SLIM / AFP )

Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC., Amerika Serikat (AS). ( Foto: Daniel SLIM / AFP )

Inflasi AS Dinilai Terlalu Tinggi

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:16 WIB
Grace El Dora

WASHINGTON, investor.id - Inflasi Amerika Serikat (AS) dinilai sudah terlalu tinggi dan Federal Reserve (The Fed) akan menjadikan masalah ini sebagai prioritas. Pernyataan ini diungkapkan Lael Brainard, calon untuk mengambil posisi nomor dua di bank sentral pada Rabu (12/1) waktu setempat.

Brainard mengatakan, tugas terpenting The Fed adalah untuk fokus menurunkan kembali inflasi ke level target 2% sambil mempertahankan pemulihan yang mencakup semua orang. Brainard menyampaikan hal ini dalam sambutan pada dengar pendapat pencalonannya di hadapan Komite Perbankan Senat pada Kamis (13/1).

Komentarnya diumumkan di hari yang sama pemerintah merilis data inflasi. Data tersebut menunjukkan bahwa gelombang kenaikan harga untuk mobil, perumahan, makanan, dan energi mendorong harga konsumen AS hingga 7% lebih tinggi dibandingkkan tahun lalu, menjadi kenaikan terbesar harga dalam hampir empat dekade.

Baca juga : Wall Street Turun, Data Inflasi AS Lebih Kuat

The Fed telah mulai menghapus stimulus luar biasa yang diberikan untuk mendukung ekonomi selama pandemi. Publik telah memperkirakan adanya kenaikan suku bunga acuan pada Maret 2022, yang pertama dari tiga atau bahkan empat kenaikan tahun ini untuk meredam lonjakan harga.

Brainard adalah anggota Demokrat yang dinominasikan oleh Presiden AS Joe Biden untuk menjabat sebagai wakil ketua The Fed. Pada sambutannya Brainard mencatat bahwa dirinya tidak akan menjadi membiarkan inflasi terus naik.

"(Ekonomi) membuat kemajuan yang disambut baik, tetapi pandemi terus menimbulkan tantangan. Prioritas kami adalah melindungi keuntungan yang telah kita buat dan mendukung pemulihan secara penuh," katanya, Kamis.

Dia mencatat bahwa dirinya telah bekerja dengan presiden kedua partai selama menjabat di Departemen Keuangan dan The Fed. Ia juga mendukung kebijakan moneter yang responsif terhadap kondisi ekonomi yang berkembang.

Baca juga : Emas Menguat Tipis Respons Data Inflasi AS

Brainard berjanji akan membawa pandangan yang independen dan telah dipertimbangkan untuk rapat kebijakan The Fed. "Mendukung kebijakan yang menjadi kepentingan rakyat Amerika dan berdasarkan hukum dan analisis yang cermat terhadap bukti," imbuhnya.

Dia akan menggantikan Richard Clarida yang mengundurkan diri minggu ini, dua minggu sebelum masa jabatannya akan berakhir di tengah skandal aktivitas perdagangan saham.

Biden, yang popularitasnya tenggelam di tengah lonjakan inflasi, masih harus mengisi tiga kursi di dewan The Fed.
Inflasi Mereda

Meski tingkat inflasi masih tinggi, data menunjukkan harga mulai turun atau stabil menjelang akhir 2021 menurut The Fed pada Rabu. Hal ini menawarkan harapan bahwa gelombang inflasi yang dialami AS mulai reda.

Namun, survei Beige Book terbaru bank sentral tentang kondisi ekonomi yang mencakup periode dari akhir November 2021 hingga beberapa hari pertama 2022 juga memperingatkan tentang gelombang baru pandemi. Pasalnya, varian Omicron dari Covid-19 mengganggu bisnis karena telah menyebar secara nasional.

Sebagian besar orang yang berbicara dengan bank regional The Fed melaporkan pertumbuhan yang solid untuk harga. Laporan itu juga mengatakan beberapa pihak mencatat bahwa kenaikan harga sedikit melambat dari laju kuat yang dialami dalam beberapa bulan terakhir.

Baca jug : Peningkatan Infeksi di Asia Dapat Berdampak ke Rantai Pasokan dan Inflasi AS

Rilis itu diumumkan pada hari yang sama dengan pengumuman data dari Departemen Tenaga Kerja. Lembaga tersebut melaporkan indeks harga konsumen (CPI) telah naik 7% hingga 2021, yang merupakan kenaikan dalam periode 12 bulan terbesar sejak Juni 1982.

Lonjakan harga disebabkan oleh sejumlah faktor termasuk rantai pasokan global, serta masalah kekurangan pekerja dan komponen seperti semikonduktor. Kemungkinan hal ini akan mendorong bank sentral untuk segera menaikkan suku bunganya dari nol, berpotensi menaikkannya berulang kali sepanjang 2022.

Belanja konsumen tumbuh pada kecepatan stabil menjelang penyebaran Omicron. "Namun sebagian besar distrik mencatat penarikan tiba-tiba dalam perjalanan liburan, hunian hotel, dan perlindungan di restoran karena jumlah kasus baru meningkat dalam beberapa pekan terakhir," jelasnya.

"Meskipun optimisme secara umum tetap tinggi, beberapa distrik mengutip laporan dari bisnis bahwa ekspektasi untuk pertumbuhan selama beberapa bulan ke depan cukup mendingin selama beberapa minggu terakhir," kata laporan tersebut. 

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN