Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pelanggan berbelanja sayur di pasar di Nanjing, di provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, pada 11 Januari 2021. ( Foto: STR / AFP )

Pelanggan berbelanja sayur di pasar di Nanjing, di provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, pada 11 Januari 2021. ( Foto: STR / AFP )

Ekonomi Tiongkok

Inflasi di Tingkat Pabrik Tertinggi dalam 25 Tahun

Jumat, 15 Oktober 2021 | 07:01 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id - Inflasi di tingkat pabrik di Tiongkok pada bulan lalu mencapai level tertinggi dalam seperempat abad karena melonjaknya biaya-biaya terkait komoditas. Data yang dirilis pada Kamis (14/10) itu menambah kekhawatiran bahwa kenaikan harga-harga dapat berdampak ke rantai pasokan dan ke ekonomi global.

Seiring meredanya dampak pandemi Covid-19 dan ditariknya pembatasan-pembatasan terkait, kegiatan ekonomi di banyak negara mulai menggeliat lagi. Hal ini telah meningkatkan permintaan akan energi, yang terjadi bersamaan dengan rendahnya persediaan.

Situasi tersebut diperburuk oleh upaya pemerintah Tiongkok untuk memenuhi sasaran-sasaran lingkungan dengan memangkas target emisi karbondioksida.

Biro Statistik Nasional (NBS) Tiongkok melaporkan, indeks harga produsen (IHP) yang mengukur biaya barang di tingkat pabrik mencapai 10,7% pada bulan lalu. Angka tersebut menandai lompatan terbesar sejak Oktober 1996.

Indeks tersebut sebelumnya telah mencapai level tertinggi selama 13 tahun pada Agustus 2021. Hal ini mencerminkan lonjakan harga komoditas. Hingga tekanan terhadap sektor bisnis semakin berat.

Pada saat yang sama, banyak pabrik terpaksa menghentikan operasinya karena pemadaman listrik yang disebabkan oleh target pengurangan emisi, melonjaknya harga batu bara, dan kekurangan pasokan.

Pihak berwenang Tiongkok sejak itu memerintahkan tambang untuk memperluas produksi. Perusahaan energi diberitahu untuk memastikan ada pasokan bahan bakar yang memadai untuk musim dingin.

"Pada September, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kenaikan harga batubara dan beberapa produk industri padat energi, kenaikan harga produk industri terus meningkat," kata ahli statistik senior NBS Dong Lijuan dalam sebuah pernyataan, Kamis (14/10), yang dikutip AFP.

Dong menambahkan bahwa di antara 40 sektor industri yang disurvei, 36 sektor mengalami kenaikan harga termasuk pertambangan batu bara, yang mengalami kenaikan 74,9%.

Untuk saat ini, ada beberapa tanda kekurangan listrik yang mempengaruhi harga barang-barang konsumen jadi, kata Sheana Yue, asisten ekonom di Capital Economics.

Sementara indeks harga konsumen (IHK) yang adalah ukuran utama inflasi ritel mencapai 0,7% pada September atau sedikit turun dari rilis Agustus.

 

Risiko Stagflasi

Tetapi Zhiwei Zhang, kepala ekonom di Pinpoint Asset Management, mengingatkan bahwa dengan harga melonjak dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan, risiko stagflasi meningkat di Tiongkok serta seluruh dunia.

"Tujuan ambisius netralitas karbon menempatkan tekanan terus-menerus pada harga komoditas, yang akan diteruskan ke perusahaan hilir," tambah Zhang.

Pemerintah Tiongkok telah menetapkan target untuk mencapai emisi karbon puncak pada 2030 dan menjadi netral karbon pada 2060.

Ketika pihak berwenang mencari cara untuk meredakan krisis energi, para ekonom mengingatkan risiko memburuknya inflasi pabrik.

Kabinet Tiongkok atau Dewan Negara bulan ini menyatakan bahwa harga listrik akan diizinkan naik hingga 20% terhadap patokan atau dua kali lipat tingkat batas saat ini. Kondisi ini membantu produsen listrik mencatat keuntungan untuk meningkatkan pasokan.

Tetapi langkah seperti itu menambah tekanan inflasi, membuat pihak berwenang dengan tugas rumit mencoba menjinakkan harga sementara juga perlu meningkatkan ekonomi yang lesu. Data produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga akan dirilis minggu depan.

Ahli strategi senior Tiongkok ANZ Research Zhaopeng Xing mengatakan langkah pembatasan harga listrik kemungkinan akan meningkatkan PPI utama. Ia juga memperingatkan proyeksi September tidak akan menjadi puncaknya, serta memperkirakan angka yang lebih tinggi akan terjadi pada Oktober atau November.

Para analis sebelumnya mengingatkan pukulan yang membayangi dari krisis listrik pada aspek lain dari ekonomi Tiongkok seperti perdagangan luar negeri, sementara gangguan pasokan mungkin akan menyaring rantai pasokan.

Itu terjadi ketika bank sentral di seluruh dunia mulai mengurangi kebijakan moneter uang longgar yang diberlakukan pada awal pandemi. Ini yang merupakan kunci untuk mendukung ekonomi, tetapi sekarang mendorong kenaikan inflasi.

Kekhawatiran tentang sektor properti Tiongkok juga membuat bank sentral Tiongkok (PboC) memompa lebih banyak uang ke pasar dalam beberapa pekan terakhir.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN