Menu
Sign in
@ Contact
Search
Tumpukan kontainer pengiriman terlihat di dermaga PortMiami, di Miami, Florida, Amerika Serikat (AS) pada pada 29 April 2020. ( Foto: Joe Raedle / Getty Images / AFP )

Tumpukan kontainer pengiriman terlihat di dermaga PortMiami, di Miami, Florida, Amerika Serikat (AS) pada pada 29 April 2020. ( Foto: Joe Raedle / Getty Images / AFP )

Inflasi Produsen di AS juga Melambat

Jumat, 12 Agustus 2022 | 14:00 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Setelah inflasi konsumen menunjukkan perlambatan, inflasi produsen di Amerika Serikat (AS) juga melambat pada Juli 2022. Bahkan tajam. Karena merosotnya biaya energi sepanjang bulan lalu.

Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) AS melaporkan pada Kamis (11/8), indeks harga produsen (IHP), yang mengukur harga-harga di tingkat pabrik, turun 0,5% dibandingkan Juni 2022. Faktor pendorongnya adalah harga energi yang jatuh 9%.

Data tersebut dipandang semakin melegakan keluarga-keluarga di AS, yang sepanjang tahun ini dihadapkan pada inflasi tinggi.

Baca Juga: Inflasi Amerika Serikat Tinggi, Bagaimana Harga Emas?

Data terbaru IHP itu juga bertolak belakang dengan pandangan para ekonom, yang memperkirakan kenaikan tipis. Angka penurunannya juga disebutkan adalah yang terbesar sejak Februari 2015. Bahkan dibandingkan penurunan pada bulan-bulan awal pandemi Covid-19 pada 2020.

Perlambatan itu membuat IHP selama 12 bulan terakhir juga turun tajam dari 11,8% pada Juni 2022 menjadi 9,8% pada Juli 2022. Sekalipun angka ini masih tinggi.

Merosotnya harga energi dalam beberapa pekan terakhir juga membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di SPBU turun lagi menjadi US$ 3,99 per galon. Yang berarti untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir harga BBM segalon itu di bawah US$ 4. Sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 5,02 per galon pada pertengahan Juni 2022.

Baca Juga: Fokus Pasar: Pembukaan Kegiatan Ekonomi Amerika

Penurunan laju inflasi, konsumen dan produsen, di AS ini membuat pasar finansial diliputi harapan bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan mengurangi agresivitasnya dalam menaikkan suku bunga. Bank sentral AS tersebut sekarang diperkirakan menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada September 2022, dari estimasi semula menaikkannya 75 bps lagi.

The Fed diperkirakan tetap agresif menaikkan suku bunga lantaran level inflasi di AS masih tinggi.

“Potensi telah tercapainya puncak inflasi tahunan ini menjadi kabar baik bagi konsumen maupun pebisnis. Tapi dinamika kenaikan harga-harga secara historis bakalan berlanjut hingga akhir tahun. Sehingga The Fed bakalan tetap fokus pada kebijakan pengetatan untuk mengatasi tekanan inflasi itu,” tutur Mahir Rasheed, ekonom Oxford Economics, yang dilansir AFP.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com