Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Fed Jerome Powell. (FOTO: AFP)

Gubernur The Fed Jerome Powell. (FOTO: AFP)

Inflasi Tinggi, Fed Ingin Melihat Pertumbuhan AS Bergerak Turun

Rabu, 18 Mei 2022 | 11:41 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id – Bank sentral Amerika Serikat (AS) malah ingin melihat pertumbuhan ekonomi melambat dan bukti jelas dari perlambatan inflasi, sebelum menarik kembali upaya untuk memperlambat ekonomi, kata Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell.

Ekonomi terbesar dunia itu menghadapi inflasi tercepat dalam empat dekade, mendorong Fed untuk berjuang untuk mencoba mendinginkan tekanan harga. Pihaknya di awal bulan ini mengumumkan kenaikan suku bunga terbesar sejak 2000. Powell mengatakan, regulator setuju kenaikan agresif lainnya sedang dibahas untuk diterpkan Juni dan Juli 2022.

Baca juga: Powell Tidak Bisa Jamin Soft Landing Penerapan Upaya Kendalikan Inflasi

“Yang kita butuhkan adalah melihat ... pertumbuhan bergerak turun dari level yang sangat tinggi yang kita lihat tahun lalu, bergerak turun ke level yang masih positif,” katanya, dilansir dari AFP pada Rabu (18/5). Tetapi Fed juga ingin memungkinkan pasokan dapat memenuhi permintaan, kata Powell di sebuah acara dengan The Wall Street Journal.

“(Bankir sentral perlu melihat) bukti yang jelas dan meyakinkan bahwa tekanan inflasi mereda dan inflasi turun. Dan jika kami tidak melihat itu, maka kami harus mempertimbangkan untuk bergerak lebih agresif,” paparnya.

Tetapi prospeknya tidak pasti karena ekonomi masih diterpa oleh tantangan simultan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di dalamnya ada ketidakpastian karena dampak dari pandemi sekali dalam satu abad, masalah rantai pasokan yang sedang berlangsung, dampak pada harga dan komoditas dari perang di Ukraina, serta kekurangan tenaga kerja yang tidak terduga, katanya.

“Kita tidak tahu jalur ekonomi. Ada banyak peristiwa global yang terjadi yang dapat memengaruhi yang sebenarnya tidak di bawah kendali kami,” tegas Powell.

The Fed memangkas suku bunga pinjaman menjadi nol pada awal pandemi pada Maret 2020 dan memompa uang tunai ke dalam sistem keuangan untuk mencegah penurunan yang parah. Tetapi dengan ekonomi yang bergejolak kembali, dibantu oleh stimulus besar-besaran pemerintah, bank sentral mulai menarik kembali pada kebijakannya tahun ini, termasuk menaikkan suku bunga dua kali sejauh ini.

Setelah jatuh pada kuartal II-2020, pertumbuhan AS telah pulih dan melonjak 5,7% tahun lalu. Meskipun ada kontraksi produk domestik bruto (PDB) dalam tiga bulan pertama tahun ini, indeks harga konsumen (CPI) melonjak 8,5% dalam 12 bulan yang berakhir pada Maret 2022.

Baca juga: Musk Tidak Beli Twitter Tanpa Kejelasan Soal Akun Spam

Keputusan apakah akan memperlambat kenaikan suku bunga akan menjadi pertimbangan berdasarkan data yang masuk dalam beberapa bulan mendatang, tetapi misi untuk menurunkan inflasi sangat penting karena stabilitas harga adalah dasar ekonomi.

Gubernur Fed, yang baru-baru ini dikukuhkan untuk masa jabatan kedua di pucuk pimpinan kebijakan moneter AS, mengatakan bahwa ekonomi cukup kuat untuk menahan kenaikan suku bunga kredit. Tetapi proses untuk mengembalikannya ke keseimbangan dapat melibatkan beberapa kesulitan.

Para pejabat berharap untuk mencapai pendaratan lunak (soft landing) yakni memperlambat tekanan harga tanpa membawa ekonomi ke dalam resesi. Tetapi Powell mengakui bahwa The Fed tidak memiliki alat presisi yang tersedia dan beberapa penerapan kebijakan bisa sedikit bergelombang.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

BAGIKAN