Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto: IST.

Foto: IST.

Inflasi Turun, Tiongkok Buka Peluang Penurunan Suku Bunga

Kamis, 13 Januari 2022 | 09:53 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id - Inflasi di Tiongkok mereda pada Desember 2021 berkat penurunan harga bahan makanan dan komoditas. Analis mengatakan, data yang dirilis Rabu (12/1) telah memberi ruang bagi regulator mengungkap langkah-langkah untuk memulai ekonomi yang tersendat. Di antaranya kemungkinan penurunan suku bunga.

Seperti kebanyakan negara lain, pemerintah Tiongkok telah mengalami lonjakan harga hampir sepanjang tahun lalu karena kenaikan biaya energi. Kondisi ini memberikan tekanan pada ekonomi yang juga dihantam oleh krisis di sektor properti utama, yang mendorong pertumbuhan.

Harga inflasi pabrik Tiongkok sangat terpengaruh, mencapai level tertinggi dalam 26 tahun pada Oktober 2021. Ini meningkatkan kekhawatiran kenaikan tersebut akan mempengaruhi ekonomi global karena peran penting Tiongkok sebagai eksportir.

Namun pada Rabu (12/1), data menunjukkan indeks harga produsen (CPI) naik tidak sebesar yang diperkirakan yakni pada level 10,3% pada Desember 2021, memperpanjang perlambatan yang terlihat pada November 2021. CPI, sebagai ukuran utama inflasi ritel, mencapai 1,5% atau turun dari level 2,3% pada November 2021 yang juga jauh dari perkiraan.

"Kemungkinan penurunan suku bunga pada kuartal I-2022 tinggi dan jendela terdekat adalah bulan ini," kata ekonom China Renaissance Securities Hong Kong Bruce Pang, Rabu (12/1). CPI tidak akan menjadi perhatian pada 2022 dan menjadi ukuran utama. Dengan demikian, biaya makanan dan energi tidak membebani inflasi sehingga akan tetap di bawah 1,5%.

Sheana Yue dari Capital Economics mengatakan, tren saat ini menunjukkan kekhawatiran inflasi tidak akan menahan bank sentral dari langkah-langkah pelonggaran lebih lanjut termasuk kebijakan penurunan suku bunga.

Beberapa ekonom mengatakan bank sentral Tiongkok (PBoC) dapat memangkas biaya pinjaman paling cepat minggu depan, menandai penurunan suku bunga yang pertama sejak April 2020.

Inflasi yang melonjak telah menyulitkan para regulator, ketika mencoba berjalan di garis tipis. Antara mencoba menjaga harga agar tidak lepas kendali, sementara juga mencoba memulai ekonomi dengan pasar properti yang bermasalah dan penguncian baru yang disebabkan oleh Covid-19.

Perlambatan inflasi konsumen datang setelah pelonggaran harga sayuran, kata ahli statistik senior Biro Statistik Nasional (NBS) Dong Lijuan. Dia menambahkan, harga daging babi pokok turun moderat 36,7% dalam setahun.

Sementara itu, CPI terbantu karena ada penurunan langsung dalam harga sebagian besar barang industri hulu seperti batu bara dan logam berkat penurunan harga komoditas global, tambah Yue dari Capital Economics.

Wabah virus yang memburuk dapat mengganggu rantai pasokan lagi, kata Yue, dengan peningkatan pasokan batu bara dan konstruksi properti yang melambat. "(Namun) kami melihat penurunan lebih lanjut pada harga logam dan energi industri," ujarnya.

Kesenjangan menyempit antara inflasi konsumen dan harga inflasi pabrik mengurangi tekanan pada margin keuntungan, kata ekonom senior HSBC Jing Liu. "Lebih banyak pelonggaran diperlukan, karena CPI inti yang rendah secara konsisten menunjukkan tekanan pertumbuhan," ungkapnya. (afp)

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN