Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak menunjukkan kotak merah anggaran saat meninggalkan kediaman resminta di 11 Downing Street, di pusat kota London, pada 3 Maret 2021. ( Foto: Tolga Akmen / AFP  )

Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak menunjukkan kotak merah anggaran saat meninggalkan kediaman resminta di 11 Downing Street, di pusat kota London, pada 3 Maret 2021. ( Foto: Tolga Akmen / AFP )

Inggris akan Naikkan Pajak Korporasi jadi 25%

Kamis, 4 Maret 2021 | 06:19 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Pemerintah Inggris pada Rabu (3/3) menurunkan tajam perkiraan pertumbuhan ekonomi 2021, dan menaikkan pajak korporasi menjadi 25%. Menurut Pemerintah Inggris, pandemi virus corona Covid-19 masih terus menyebabkan kerusakan besar terhadap perekonomian, sehingga tambahan stimulus akan membuat utang pemerintah melonjak.

Menteri Keuangan (Menkeu) Rishi Sunak mengatakan dalam penyampaian anggaran tahunan di Parlemen Inggris, Rabu (3/3), laju ekonomi Inggris tahun ini akan tumbuh sebesar 4,0%. Berarti turun dari perkiraan pemerintah sebelumnya sebesar 5,5%. Tetapi masih lebih baik dibandingkan kontraksi dua digit pada 2020.

Sunak juga mengingatkan kepada parlemen bahwa pandemi Covid telah dan masih menimbulkan kerusakan besar.

“Ekonomi kita menyusut 10% tahun lalu. Ini penurunan terbesar dalam lebih dari 300 tahun. Utang kita yang tertinggi di luar masa perang,” ujar dia, yang dikutip AFP.

Sunak menambahkan, pajak atas laba perusahaan akan dinaikkan dari 19% yang berlaku saat ini menjadi 25% pada 2023. Langkah itu muncul bersamaan paket bantuan darurat negara senilai 407 miliar pounds (US$ 568 miliar) yang mengakibatkan lonjakan utang pemerintah.

Inggris adalah negara yang paling parah terkena dampak di Eropa dengan mencatatkan lebih dari 120.000 korban meninggal dunia akibat Covid dan empat juta kasus terkonfirmasi. Meski demikian ada secercah harapan akan pemulihan ekonomi yang telah didorong oleh percepatan program vaksinasi, yang membuat jutaan orang dewasa menerima vaksinasi.

Akan Pulih

Di sisi lain, kebijakan karantina (lockdown) ketiga Inggris mulai dicabut pada Senin (8/3). Pada saat itu sekolah-sekolah dibuka kembali, diikuti oleh pertokoan yang tidak menjual barang-barang esensial, dan perhotelan dalam beberapa bulan mendatang.

“Akan membutuhkan waktu lama bagi negara ini – dan seluruh dunia – untuk pulih dari situasi ekonomi yang luar biasa ini. Tapi kita akan pulih,” kata Sunak.

Dia mengatakan produk domestik bruto (PDB) diperkirakan meningkat 7,3% pada tahun depan, sekaligus menandai peningkatan dari pedoman sebelumnya 6,6%.

Sunak mengatakan, bahkan setelah pajak atas laba perusahaan dinaikkan secara signifikan, Inggris masih akan memiliki tarif pajak perusahaan terendah di kelompok G-7. “Lebih rendah dari Amerika Serikat, Kanada, Italia, Jepang, Jerman, dan Prancis,” tegasnya.

Di samping itu pada malam rapat anggaran, Perdana Menteri Boris Johnson mengumumkan akan memperpanjang skema cuti dengan membayar sebagian besar gaji bagi jutaan pekerja di sektor swasta. Perpanjangan cuti berbayar yang mencapai miliaran pound berlangsung hingga akhir September, lima bulan lebih lama dari yang direncanakan.

Anggaran tersebut juga mengkonfirmasi peluncuran Bank Infrastruktur dengan modal 12 miliar pounds. Bank kreditur itu dibentuk untuk mendanai proyek-proyek ekonomi hijau, dengan fokus pada bidang-bidang seperti penangkapan karbon dan energi terbarukan.

Sebagai informasi, laju ekonomi dilaporkan merosot pada 2020 karena dampak pandemi Covid. Hal ini diperparah dengan aktivitas-aktivitas yang juga terhambat oleh gejolak menjelang keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Masalah itu pun tercermin pada angka pengangguran Inggris yang telah melonjak hingga ke level tertinggi lima tahun, yakni sebesar 5,1%. 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN