Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Pertahanan (Menhan) Inggris Ben Wallace. ( Foto: LEON NEAL /AFP )

Menteri Pertahanan (Menhan) Inggris Ben Wallace. ( Foto: LEON NEAL /AFP )

Inggris Ingatkan UE untuk Tidak Kontraproduktif

Senin, 22 Maret 2021 | 06:23 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Pemerintah Inggris pada Minggu (21/3) mengingatkan Uni Eropa (UE) untuk tidak bertindak kontraproduktif dengan menghentikan ekspor vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca, jika UE tidak menjadi yang pertama menerima pasokan sebagaimana dijanjikan.

Menteri Pertahanan (Menhan) Inggris Ben Wallace mengatakan, dunia sedang menonton bagaimana cara UE merespons kekurangan pasokan dosis vaksin dari raksasa farmasi Inggris-Swedia tersebut. Ia menandaskan bahwa reputasi UE dipertaruhkan.

Sebelumnya, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Sabtu (20/3) mengancam akan mengenakan larangan ekspor terhadap vaksin AstraZeneca. Kecuali perusahaan mengirimkan tambahan 90 juta dosis yang sudah disepakati untuk dikirimkan pada kuartal pertama 2021.

Wallace mengatakan bahwa cara-cara Balkanisasi atau membangun tembok di seputar produksi vaksin akan merugikan warga Inggris dan juga Eropa.

“Jika kontrak dilanggar dan itu sampai terjadi, itu akan sangat merusak blok perdagangan yang membanggakan dirinya selalu berlandaskan aturan hukum. Ini kontraproduktif karena satu hal yang kami tahu tentang produksi dan pembuatan vaksin adalah dengan kolaborasi,” ujar dia kepada Sky News.

Tindakan seperti itu, tambah Wallace, tidak hanya akan merugikan warga masing-masing untuk mendapatkan vaksin yang tepat, tapi juga banyak negara di seluruh dunia. “Ini akan merusak reputasi UE dan akan sangat sulit untuk diubah dalam jangka pendek,” ujar dia.

Perseteruan tiada henti antara Inggris dan UE tentang vaksin AstraZeneca ini terjadi saat Inggris terus sukses dengan program vaksinasi Covid-19-nya. Sementara UE terus kesulitan dan sekarang dihadapkan pada gelombang ketiga penularan virus tersebut.

Pemerintah Inggris akhir pekan lalu menyebut program vaksinasinya sukses besar. Setelah mengumumkan separuh populasi orang dewasanya atau hampir 27 juta orang sudah mendapatkan dosis pertama vaksin. Pada Jumat pekan lalu, Inggris mencatatkan rekor 711.156 vaksinasi Covid-19.

Tapi Inggris pun dihadapkan pada kekurangan pasokan dari Serum Institute of India. Kekurangan pasokan dari produsen vaksin terbesar dunia itu akan menghambat fase berikutnya vaksinasi bagi warga berusia 40 tahun ke atas. Akan tertunda dari sedianya April 2021 menjadi Mei 2021.

Sementara untuk vaksinasi Covid-19 di Eropa, Von der Leyen mengatakan bahwa AstraZeneca baru memasok 30% dari 90 juta dosis vaksin yang dijanjikan.

UE marah karena AstraZeneca sanggup memenuhi pasokan sesuai kontrak kepada Inggris. Sedangkan kepada UE tidak. Pihak perusahaan menyalahkan itu pada kendala produksi di pabriknya di UE. Sedangkan Inggris menyatakan vaksin AstraZeneca itu berasal dari sumber-sumber lain di luar Eropa.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN