Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Satu botol vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca- Oxford diperlihatkan di tempat Praktik Medis Pontcae, di Merthyr Tydfil, Wales selatan, Inggris, pada 4 Januari 2021. ( Foto: Geoff Caddick / AFP )

Satu botol vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca- Oxford diperlihatkan di tempat Praktik Medis Pontcae, di Merthyr Tydfil, Wales selatan, Inggris, pada 4 Januari 2021. ( Foto: Geoff Caddick / AFP )

Inggris Luncurkan Vaksin Oxford-AstraZeneca

Selasa, 5 Januari 2021 | 06:32 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Pemerintah Inggris mulai meluncurkan vaksin virus corona Covid-19 lokal buatan Oxford-AstraZeneca pada Senin (4/1). Inggris merilis 530.000 dosis vaksin dan dalam tempo tiga bulan diharapkan sudah dapat diberikan hingga puluhan juta dosis vaksin. Inggris sudah memesan 100 juta dosis vaksin ini, yang juga diharapkan dapat mengubah permainan dalam perang melawan pandemi Covid-19 di seluruh dunia.

Inggris sedang berjuang untuk mengendalikan gelombang kasus infeksi Covid-19 yang parah sehingga mengancam sistem kesehatan masyarakat. Pemerintah sudah mengeluarkan peringatan akan menerapkan aturan pembatasan yang lebih keras.

“Saya sangat senang mendapatkan vaksin Oxford. Vaksin ini sangat berarti bagi saya. Bagi saya, ini satu-satunya cara untuk kembali ke kehidupan normal,” ujar Brian Pinker, pensiunan manajer pemeliharaan berusia 82 tahun, di Rumah Sakit Churchill Oxford, seperti dikutip AFP.

NHS Inggris mengatakan bahwa Pinker adalah orang pertama yang menerima suntikan AstraZeneca.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Matt Hancock mengatakan kepada BBC bahwa perang Inggris melawan virus yang kembali muncul semakin dipercepat dengan diperkenalkannya vaksin AstraZeneca. Tercatat, virus corona yang melanda Inggris telah merenggut 75.000 jiwa.

Vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan University of Oxford tersebut dipandang menguntungkan oleh banyak ahli karena tidak memerlukan tempat penyimpanan dengan suhu yang sangat dingin, seperti pada vaksin buatan Pfizer-BioNTech dan Moderna. Ini berarti ada akses lebih besar ke vaksin bagian sebagian dunia yang kurang makmur untuk berperang melawan pandemi, yang telah menginfeksi hampir 85 juta orang di seluruh dunia, dan 1,8 juta korban meninggal dunia.

Sebagai informasi, Inggris telah memvaksinasi sekitar satu juta orang setelah memberikan otorisasi penggunaan darurat vaksin Pfizer pada awal Desember. Pihak berwenang juga berharap dapat memvaksinasi puluhan juta orang dalam tiga bulan ke depan. Demikian disampaikan Perdana Menteri Boris Johnson dalam wawancara dengan BBC.

Program vaksinasi juga dilakukan di negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman dan Yunani. Tetapi kondisi berbeda dialami oleh pemerintahan Prancis karena lambatnya pelaksanaan vaksinasi. Presiden Emmanuel Macron dikabarkan sangat gusar atas keterlambataan tersebut. Pasalnya, sejauh ini baru sekitar ratusan warga Prancis yang menerima vaksin, dibandingkan dengan lebih dari 200.000 warga di Jerman dan sekitar satu juta warga di Inggris.

Sedangkan di Beijing, Tiongkok, ribuan orang mengantre untuk menerima vaksin. Pemerintah Tiongkok menargetkan memvaksinasi jutaan orang menjelang musim mudik untuk merayakan Tahun Baru Imlek pada Februari mendatang.

Negeri Tirai Bambu itu telah memberikan sekitar 4,5 juta dosis vaksin darurat, yang sebagian besar belum terbukti efektivitasnya pada tahun ini. Dosis terbatas itu diberikan ke sebagian besar tenaga kesehatan dan pegawai negara lainnya yang akan bekerja di luar negeri. Demikian menurut pihak berwenang.

Vaksinasi AS Terkendala

Di tempat lain, para pejabat Amerika pada Minggu (3/1) membantah klaim Presiden Donald Trump yang menyebutkan catatan jumlah kematian di AS lebih dari 350.000 jiwa, terlalu dibesar-besarkan. Pembelaan mereka adalah karena terkendalanya proses peluncuran vaksin di negara yang paling parah terkena dampak Covid-19 di dunia. Amerika Serikat memiliki kasus infeksi lebih dari 20 juta, dan pemerintahan Trump telah menghadapi kritik keras atas cara-cara menangani pandemi, yang telah menghantam ekonomi AS.

Menurut laporan, pihak berwenang sudah mulai memberi vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan Moderna. Tetapi catatan menunjukkan baru 4,2 juta orang yang divaksinasi sejauh ini atau jauh di bawah prediksi resmi 20 juta orang pada saat pergantian tahun baru ke 2021.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN