Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson. ( Foto:  STEFAN ROUSSEAU / POOL / AFP )

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson. ( Foto: STEFAN ROUSSEAU / POOL / AFP )

Inggris Nyatakan Siap Dengan Pasca-Brexit Tanpa Kesepakatan

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 08:02 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson pada Jumat (16/10) menegaskan negaranya siap untuk terus merundingkan kesepakatan perdagangan pasca-Brexit. Tapi, ia berkukuh bahwa Inggris juga siap tanpa kesepakatan jika Uni Eropa (UE) tidak menawarkan perubahan fundamental dalam negosiasinya.

Respons Johnson itu keluar setelah UE dalam pertemuan puncak Kamis (15/10) menuntutnya kompromi dalam isu-isu utama tapi selama ini menjadi penghambat adanya kesepakatan. UE juga menawarkan putaran baru perundingan pada pekan depan di London.

Menurut Johnson, hasil pertemuan puncak itu seperti akan mengesampingkan perjanjian perdagangan bebas menyeluruh dan ala Kanada antara Inggris dan UE. Johnson menuding UE tidak serius bernegosiasi dalam beberapa bulan terakhir ini.

“Mereka tetap ingin dapat mengontrol kebebasan legislatif dan perikanan kita, dengan cara yang jelas tidak bisa diterima oleh sebuah negara merdeka,” kata Johnson.

Kecuali UE mengubah pendekatannya secara mendasar, Johnson mengatakan bahwa Inggris memilih untuk tidak mencapai kesepakatan sama sekali.

“Jadi dengan kebesaran hati dan kepercayaan diri tinggi kami akan siap untuk menapak alternatif lain,” ujar Johnson.

Ia mengatakan Inggris siap untuk beroperasi berdasarkan aturan-aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mulai Januari 2021, yang mirip dengan hubungan Australia dan UE saat ini.

“Dan kami dapat melakukannya karena kami tahu akan ada perubahan pada 1 Januari, apa pun bentuk hubungan yang kami miliki,” ujar dia.

Johnson menyebut pada penetapan per sektor di area-area seperti jaminan sosial, penerbangan, dan kerja sama nuklir.

“Dan kami akan sangat makmur sebagai bangsa yang berdagang bebas serta independen, mengendalikan sendiri perbatasan, perikanan, dan menetapkan hukum sendiri,” papar Johnson.

Kelanjutan Perundingan

Johnson sebelumnya menetapkan pertemuan puncak UE itu sebagai batas waktu untuk mencapai kesepakatan. Tapi ia dihadapkan pada tekanan karena muncul peringatan bahwa perusahaan-perusahaan Inggris sangat tidak siap terhadap konsekuensi pasca-Brexit tanpa kesepakatan, setelah berakhirnya masa transisi pada 31 Desember 2020.

Inggris mengambil alih kembali kedaulatan atas perairan dan menolak pengawasan hukum dari UE atas kesepakatan apa pun yang tercapai nantinya. Inggris berkukuh bahwa ingin mencapai kesepakatan dagang seperti yang diadopsi oleh UE dengan Kanada pada 2017.

Sementara UE menekankan bahwa ekonomi Inggris jauh lebih terintegrasi dengan UE, dibandingkan Kanada. Pasar tunggal Eropa, kata UE, harus dilindungi sepeninggal Inggris jadi anggota.

Pada pertemuan puncak itu, para pemimpin UE menuntut Inggris berkompromi terhadap aturan perdagangan yang adil.

Ketua juru runding UE Michel Barnier juga mengajukan perundingan lagi di London pekan depan. UE mengonfirmasikan negosiasi intensif itu akan berlangsung mulai Senin (19/10).

PM Irlandia Micheal Martin mengatakan, para pemimpin UE memberikan keleluasaan yang dibutuhkan oleh Barnier untuk melanjutkan negosiasi. Juga untuk mencapai kesepakatan perdagangan bebas dan adil yang menyeluruh.

“Itu yang kami harapkan terjadi secara bertahap dari sekarang dan di masa depan, untuk merampungkan ini semua,” ujar dia, kepada wartawan di Brussels, Belgia.

Prancis dan negara-negara anggota UE lain yang kaya perikanan berkukuh untuk bisa tetap menangkap ikan di perairan Inggris. Ini juga menjadi salah satu ganjalan bagi tercapainya kesepakatan menyeluruh tersebut.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN