Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pembeli sedang melihat-lihat bahan-bahan makanan Tesco Superstore, di selatan London, Inggris. ( Foto: TOLGA AKMEN / AFP )

Seorang pembeli sedang melihat-lihat bahan-bahan makanan Tesco Superstore, di selatan London, Inggris. ( Foto: TOLGA AKMEN / AFP )

 Ekonomi Kuartal II Kontraksi 19,8%

Inggris Resesi Lagi

Kamis, 1 Oktober 2020 | 07:24 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Data resmi Kantor Statistik Nasional (ONS) pada Rabu (30/9) melaporkan bahwa ekonomi Inggris pada kuartal II kontraksi hampir seperlima atau sebanyak 19,8%. Sehingga negara ini kembali memasuki resesi, setelah resesi terakhir pada masa krisis finansial global lalu.

Menurut ONS, produk domestik bruto (PDB) Inggris mengalami kontraksi 19,8% pada periode April-Juni. Pernyataan ini sekaligus merevisi angka awal yang sebelumnya menyebutkan penurunan 20,4%. Pertumbuhan ekonomi juga dilaporkan turun 2,5% di mana angka ini lebih buruk dibandingkan penurunan sebelumnya sebanyak 2,2%.

Data-data suram yang dirilis oleh ONS tersebut memastikan bahwa Inggris telah memasuki resesi karena dua kali mengalami kontraksi berturut-turut dalam kegiatan perekonomiannya, yang dipicu oleh aturan lockdown nasional pada 23 Maret. Bahkan aturan itu pun belum sepenuhnya dilonggarkan hingga awal Juni.

“Meskipun benar bahwa perkiraan awal ini cenderung direvisi, kami lebih memilih untuk fokus pada besarnya kontraksi yang telah terjadi sebagai tanggapan terhadap pandemi virus corona. Jelas bahwa Inggris berada dalam catatan resesi terbesar,” demikian pernyataan ONS, seperti dikutip AFP.

Ditambahkan oleh ONS, bahwa darurat kesehatan global telah ikut memicu catatan penurunan aktivitas ekonomi di seluruh dunia pada Kuartal II. “Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Inggris sekarang 21,8% lebih kecil dibandingkan akhir 2019. Ukuran kontraksi ini elum pernah terjadi sebelumnya,” kata ONS menyimpulkan.

Di samping itu, semua sektor ekonomi yang hancur pada Kuartal II benar-benar mengalami penurunan produksi yang sangat besar. Belanja rumah tangga mengalami penurunan 23,6% karena sebagian besar warga Inggris tharus tinggal di rumah karena berada di bawah aturan karantina. Sementara itu, investasi bisnis turun 26,5%.

Aktivitas konstruksi pun merosot 35,7%, disusul oleh manufaktur yang turun 21,1%, jasa turun 19,2 %, dan produksi industri turun 16,3%.

Lebih dari 42.000 warga Inggris yang dites positif Covid-19 sejauh ini dilaporkan meninggal dunia. Jumlah kematian tersebut menjadikannya sebagai catatan terburuk di Eropa.

Ada kekhawatiran bahwa aturan pembatasan baru yang bertujuan mencegah karantina nasional kedua dapat menghentikan proses pemulihan rapuh yang diperkirakan terjadi pada kuartal III.

Pekan lalu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memperketat pembatasan untuk membendung lonjakan kasus virus korona. Dia memerintahkan pub-pub untuk tutup lebih awal dan menyarankan orang untuk kembali bekerja dari rumah.

“Aturan pembatasan Covid-19 yang diperbarui mungkin akan berarti bahwa PDB stagnan di Kuartal IV, dan risikonya sekarang adalah langkah-langkah penahanan yang diperbarui dapat menyebabkan proses pemulihan menjadi tersendat,” kata analis Capital Economics Ruth Gregory.

Para ekonom juga khawatir bahwa Inggris dapat mengalami lonjakan pengangguran setelah skema cuti kerja pemerintah – yang mensubsidi gaji sektor swasta – berakhir pada Oktober.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN