Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Botol kandidat vaksin Covid-19, yang dikenal sebagai AZD1222, sebagai hasil temuan bersama University of Oxford dan Vaccitech dalam kemitraan dengan raksasa farmasi AstraZeneca, pada 23 November 2020. ( Foto: john Cairns / University of Oxford / AFP )

Botol kandidat vaksin Covid-19, yang dikenal sebagai AZD1222, sebagai hasil temuan bersama University of Oxford dan Vaccitech dalam kemitraan dengan raksasa farmasi AstraZeneca, pada 23 November 2020. ( Foto: john Cairns / University of Oxford / AFP )

Inggris Setujui Penggunaan Vaksin Covid AstraZeneca-Oxford

Rabu, 30 Desember 2020 | 22:35 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Inggris menjadi negara pertama yang menyetujui penggunaan vaksin virus corona Covid-19 buatan AstraZeneca dan University of Oxford pada Rabu (30/12). Hal ini menyusul lonjakan ketakutan setelah ada deteksi varian baru virus corona di Inggris, yang dikhawatirkan oleh para ahli lebih menular.

Bahkan varian baru virus corona itu telah ditemuka di sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat (AS) dan India.

Pandemi Covid-19 telah mendorong upaya-upaya global luar biasa untuk mengembangkan vaksin dalam waktu singkat, serta mengikuti jejak Pfizer-BioNTech dan Moderna. Dengan demikian kandidat vaksin AstraZeneca-Oxford menjadi yang ketiga yang memperoleh persetujuan di dunia Barat.

“Ini benar-benar berita yang luar biasa. Kami sekarang akan bergerak untuk memvaksinasi orang-orang sebanyak mungkin dan secepat mungkin,” demikian cuit Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Namun ada yang berbeda dibandingkan vaksin buatan Pfizer-BioNTech dan Moderna, vaksin hasil pengembangan AstraZeneca dan Oxford tidak perlu disimpan pada suhu yang sangat rendah. Vaksin ini dapat disimpan, diangkut dan ditangani dalam kondisi berpendingin normal sehingga membuatnya lebih mudah, dan lebih murah untuk dikelola, serta memiliki tantangan logistik yang jauh lebih kecil, terutama untuk negara-negara yang kurang makmur.

Rusia dan Tiongkok pun mengklaim telah mengembangkan vaksin Covid-19, dan sudah mulai mengelolanya.

Sebelumnya, raksasa farmasi Tiongkok, Sinopharm pada Selasa (29/12) mengatakan bahwa uji coba tahap 3 kandidat vaksin telah menunjukkan tingkat efektivitas 79%, mendekati lebih dari 90% kemanjuran vaksin yang dicapai oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Pihak perusahaan juga telah mengajukan permohonan kepada regulator obat Tiongkok untuk mendapatkan persetujuan. Tetapi Negeri Tirai Bambu ini harus berjuang mendapatkan kepercayaan internasional untuk vaksinnya, mengingat kurangnya transparansi data, serta kritik atas penanganannya terhadap wabah awal virus corona di kota Wuhan, Tiongkok tengah; termasuk upaya-upayanya untuk membungkam pelapor.

Menurut sebuah studi dari Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Tiongkok, jumlah infeksi di kota itu mungkin 10 kali lebih tinggi dari angka resmi.

Sebagai informasi, seiring dengan meningkatnya pelaksanaan vaksinasi di Eropa dan Amerika Utara, tingkat infeksi global telah melonjak mendekati 82 juta kasus, dan hampir 1,8 juta kematian. Jerman, yang sempat mampu mengendalikan gelombang pertama virus corona dengan relatif baik, mendapat pukulan keras pada gelombang kedua.

“Terdapat lebih dari 1.000 angka kematian setiap hari untuk pertama kalinya,” kata pihak berwenang, pada Rabu.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN