Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bursa saham global. Foto: AFP

Ilustrasi bursa saham global. Foto: AFP

Investor Ritel Terjun ke Pesta Pasar Saham

Jumat, 25 September 2020 | 06:37 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

PARIS, investor.id – Para investor jangka panjang masih merugi karena pasar saham dalam pemulihan dari krisis virus corona Covid-19. Namun juga memberikan peluang aksi beli yang besar dan para investor ritel berlomba-lomba masuk ke pasar yang rebound, sekalipun kalangan analis mengingatkan untuk tidak terlalu berani.

Jumlah investor yang memasukkan ribuan dolar AS ke saham telah melonjak sejak Maret 2020. Trennya merata di banyak negara di seluruh dunia. Terutama karena tingkat suku bunga yang sangat rendah, yang berarti mereka yang telah menabung masih memiliki uang, namun dengan pilihan investasi yang lebih kecil.

“(Di India) kami telah melihat lonjakan tajam 50% pada pengguna yang pertama kali berinvestasi di pasar sejak Maret. Banyak ibu rumah tangga yang tidak memiliki pengalaman juga sudah mulai melakukan trading," konsultan keuangan Aditya Joshi mengatakan kepada AFP, Kamis (24/9).

Sementara itu, perekonomian negara telah mengalami penurunan rekor, dengan produk domestik bruto (PDB) anjlok hampir 24% dari satu kuartal ke kuartal berikutnya. Reserve Bank of India (RBI) telah mencatat dan mengingatkan, keterputusan di antara kedua kenyataan itu mengandung resiko.

"Pasar keuangan global yang relatif tinggi menunjukkan tidak hanya terputusnya hubungan ekonomi yang mendasari fundamental, tetapi juga menandakan risiko stabilitas keuangan, terutama untuk Ekonomi Pasar Berkembang (EME)," kata RBI dalam laporan yang dirilis bulan lalu.

Bursa Malaysia juga mengingatkan para investor ritel pada Agustus 2020, agar tidak mengejar rumor dan mendengarkan selebritas investasi yang tidak memiliki izin di media sosial. Ini mengulangi nasihat tradisional, yang mengatakan harus mempelajari fundamental perusahaan sebelum berinvestasi.

Di Prancis, pengawas pasar keuangan AMF telah mencatat 700.000 investor ritel baru sejak November tahun lalu. Bank online Boursorama menyatakan kepada AFP, jumlah orang yang menggunakan platform perdagangan pasarnya meningkat tiga kali lipat dan jumlah pesanan meningkat empat kali lebih tinggi.

Klien baru menginvestasikan rata-rata 5.000 euro (setara US$ 5.900), yang semuanya membuat 2020 sebagai tahun yang luar biasa untuk perusahaan.

Konsultan strategi digital Paris Alexandre (25 tahun) adalah salah satu investor tersebut dan ia memeriksa sahamnya dua kali sehari.

Sejak Maret 2020, nilai portofolionya yang mencapai 6.000 euro telah naik sekitar 15%, jauh lebih banyak daripada yang bisa dia hasilkan dengan rekening tabungan tradisional atau obligasi pemerintah. "Saya melihat angka-angka luar biasa, saya tahu itu," katanya.

Sementara menolak memberikan nama belakangnya, Alexandre bersedia mengungkapkan dirinya berinvestasi pada produsen pesawat terbang Airbus, serta Worldline dan Ingenico, dua perusahaan yang terlibat dalam pembayaran online.

Alexandre mengatakan, dirinya sadar segalanya bisa runtuh dari satu hari ke hari berikutnya.

Seluruhnya Merah

Ketika pandemi Covid -19 meledak pada Maret 2020 dan pemerintah menutup aktivitas bisnis di seluruh dunia, pasar saham dibanjiri angka merah.

Tetapi penelusuran Google untuk investasi pasar saham melonjak di banyak negara. Orang-orang yang terjebak di rumah melihat kesempatan untuk membeli saham dengan nilai anjlok.

Menurut kantor berita Bloomberg, investor ritel kini menguasai lebih dari 20% dari semua perdagangan di New York, dibandingkan dengan 15% pada 2019.

Desainer Prancis Gabriel Contassot mulai berinvestasi pada 17 Maret, sehari setelah Dow Jones Industrials Average mengalami penurunan terbesar dalam 33 tahun.

"Saya menganggap periode ini agak seperti penjualan," candanya, yang mengacu pada waktu yang diatur dalam tahun ketika pertokoan Prancis diizinkan untuk menjual dengan harga diskon.

Portofolio senilai US$ 18.000 miliknya terdiri dari perusahaan-perusahaan pemenang di masa pandemi, seperti Alibaba, Amazon, Tesla, Zoom, dan secara tertulis dia telah menghasilkan sekitar US$ 6.000.

Seperti banyak investor ritel baru di Amerika Serikat (AS), Contassot menggunakan ponsel pintar untuk membeli dan menjual saham melalui aplikasi. Ia menggunakan aplikasi Robinhood, yang tidak memungut biaya komisi dan ramah pengguna.

Di India, aplikasi yang populer adalah Zerodha atau Paytm Money dan mereka juga telah menempatkan banyak aplikasi di meja pedagang virtual. Gambaran serupa terjadi di bagian lain Asia.

Perusahaan yang terdaftar di Singapura telah didorong oleh masuknya 9,6 miliar dolar Singapura (setara US$ 7,0 miliar) dari investor ritel antara 1 Januari dan 22 September, menurut bursa lokal.

Pasar utama Korea Selatan (Korsel) melaporkan peningkatan bersih sebesar US$ 37,7 miliar dalam pembelian, dibandingkan dengan peningkatan bersih US$ 6,4 miliar dalam penjualan satu tahun sebelumnya.

Di Jepang, jumlah akun perdagangan ritel melonjak 72% pada akhir Maret dibandingkan dengan bulan yang sama di 2019, kata Badan Jasa Keuangan. Namun itu tidak selalu berakhir dengan baik.

"Saya tidak tahu bagaimana cara trading," kata Ayman Dassouli, pelajar di Prancis yang merelakan dana 3.000 euro.

Dananya hilang di platform eToro antara Juni dan Agustus. 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN