Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Iran Hassan Rouhani. ( Foto: AFP PHOTO / HO / IRANIAN PRESIDENCY )

Presiden Iran Hassan Rouhani. ( Foto: AFP PHOTO / HO / IRANIAN PRESIDENCY )

Iran: Pengayaan Nuklir 60% Karena Israel

Kamis, 15 April 2021 | 07:12 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

TEHERAN, investor.id - Presiden Iran Hassan Rouhani pada Rabu (14/4) menyampaikan keputusan untuk meningkatkan pengayaan uranium menjadi 60%. Langkah itu disebutkan sebagai respons terhadap terorisme nuklir yang dilakukan musuh bebuyutannya, Israel, terhadap fasilitas Iran di Natanz.

“Pemerintah yang Iran memulai sentrifugal lanjutan dan memproduksi uranium yang lebih dimurnikan dikatakan merupakan respons atas kebencian Anda. Apa yang Anda lakukan adalah terorisme nuklir. Apa yang kami lakukan legal," kata Rouhani dalam pesan yang ditujukan pada negara Yahudi tersebut via televisi.

Ia mengacu pada ledakan Minggu (11/4) pagi waktu setempat, yang mematikan listrik di fasilitas nuklir utamanya di Iran tengah. Pengumuman Pemerintah Iran tentang peningkatan pengayaan telah membayangi pembicaraan di Wina, Austria. Konferensi damai tersebut bertujuan menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan kekuatan dunia yang kemudian ditinggalkan oleh Presiden AS Donald Trump hampir tiga tahun lalu.

Pihak Eropa dalam kesepakatan itu, Inggris, Prancis, dan Jerman pada Rabu menyatakan keprihatinan besar atas langkah pengayaan uranium oleh pemerintah Iran. “(Menolak) semua tindakan eskalasi oleh aktor mana pun,” ungkapnya.

Saingan regional Iran, Arab Saudi, juga menyatakan keprihatinannya dan meminta Pemerintah Iran untuk menghindari eskalasi.

Tidak Ada Alternatif

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan di media sosial Twitter, serangan ke fasilitas nuklir Natanz adalah tindakan yang dapat memicu kekacauan.

Dia mengingatkan Presiden AS Joe Biden bahwa situasinya hanya dapat diatasi dengan mencabut sanksi-sanksi yang dijatuhkan Trump terhadap Iran sejak 2018. "Tidak ada alternatif. Tidak banyak waktu," tambahnya.

Pemerintah Israel tidak mengkonfirmasi atau membantah keterlibatan. Tetapi laporan radio publik di negara itu mengatakan serangan itu adalah operasi sabotase oleh agen mata-mata Mossad, mengutip sumber intelijen yang tidak disebutkan namanya.

Utusan Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kazem Gharibabadi, menulis di Twitter bahwa langkah-langkah persiapan untuk memungkinkan pengayaan ke kemurnian yang lebih tinggi telah dimulai.

“Kami berharap untuk mengumpulkan produk minggu depan (dari sentrifugal di Natanz)," lanjutnya.

Langkah itu akan membawa pemerintah Iran mendekati ambang kemurnian 90% untuk penggunaan militer. Itu akan mempersingkat potensi waktu untuk membangun bom atom, sebuah tujuan yang disangkal oleh republik itu.

Pemerintah Israel secara konsisten berjanji akan menghentikan Iran untuk membangun bom atom, yang kemungkinan dianggap sebagai ancaman eksistensial.

Otoritas Iran juga tidak pernah berbasa-basi ketika berbicara tentang negara Yahudi itu. Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 2018 menegaskan kembali posisi lama Iran bahwa Israel, kata dia, adalah tumor ganas kanker yang harus diangkat dan dibasmi.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN