Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga menghadiri konferensi pers soal respons Jepang terhadap pandemi virus corona Covid-19, di kediaman resminya di Tokyo, pada 30 Juli 2021. ( Foto: ISSEI KATO / POOL / AFP )

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga menghadiri konferensi pers soal respons Jepang terhadap pandemi virus corona Covid-19, di kediaman resminya di Tokyo, pada 30 Juli 2021. ( Foto: ISSEI KATO / POOL / AFP )

Jepang Pertimbangkan Pembatalan Kebijakan Isolasi Mandiri

Rabu, 4 Agustus 2021 | 12:27 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

TOKYO, investor.id – Menteri Kesehatan (Menkes) Jepang, Norihisa Tamura pada Rabu (4/8) mengisyaratkan pemerintah dapat mempertimbangkan pembatalan kebijakan baru kontroversial, yang meminta pasien Covid-19 dengan gejala yang kurang serius untuk menjalani isolasi di rumah daripada pergi ke rumah sakit.

Komentar, yang muncul di tengah meningkatnya kritik atas kebijakan tersebut, menggarisbawahi perjuangan Tokyo dalam menghadapi lonjakan varian delta yang membayangi Olimpiade.

Sebelumnya pada Senin (2/8), Perdana Menteri Yoshihide Suga mengumumkan bahwa hanya pasien Covid-19 yang sakit parah dan yang berisiko terkena penyakit yang akan dirawat di rumah sakit. Sementara itu, lain diisolasi di rumah. Perubahan kebijakan ini dikhawatirkan dapat menyebabkan peningkatan kematian.

Menkes Tamura pun membela perubahan kebijakan tersebut. Menurut dia dengan meminta orang-orang bergejala kurang serius untuk isolasi di rumah maka otoritas Jepang dapat memastikan tidak kehabisan tempat tidur di rumah sakit bagi masyarakat yang membutuhkan perawatan intensif.

“Pandemi telah memasuki fase baru. Kecuali kita memiliki cukup tempat tidur, kita tidak dapat membawa orang ke rumah sakit. Kami bertindak pre-emptive di sektor ini. Jika hal-hal tidak berjalan seperti yang kami harapkan, kami dapat membatalkan kebijakan tersebut,” ujar Tamura di hadapan anggota parlemen, yang dikutip Reuters.

Dia menambahkan, perubahan kebijakan merupakan langkah untuk menghadapi penyebaran varian baru yang sangat cepat dan tak terduga.

Di sisi lain, kecaman itu merupakan bentuk kemunduran lain bagi Suga. Dia disebut telah mengalami penurunan dukungan akibat cara-cara penanganannya terhadap pandemi menjelang pemilihan umum (pemilu) yang akan diadakan tahun ini.

Kantor berita Kyodo melaporkan, partai-partai oposisi pada Rabu telah sepakat meminta pemerintah membatalkan kebijakan rawat inap.

Bahkan seorang anggota parlemen dari Partai New Komeito – mitra koalisi Partai Demokrat Liberal Suga yang berkuasa – mendesak untuk dilakukan peninjauan atau dibatalkan.

Pemerintah Jepang telah melihat peningkatan tajam kasus virus corona. Di Tokyo saja sudah mencatatkan rekor tertinggi 4.058 infeksi baru pada Sabtu (31/7). Pada Selasa, angka kasus baru mencapai 3.709.

Baik Suga dan panitia penyelenggara Olimpiade menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pelaksanaan Summer Games pada 23 Juli-8 Agustus dengan lonjakan kasus yang tajam.

Tetapi Shigeru Omi, penasihat medis terkemuka di Jepang, menyampaikan di hadapan parlemen bahwa bahwa sebagai tuan rumah pelaksanaan Olimpiade mungkin telah memengaruhi sentimen publik. Kegiatan ini menunjukkan telah mengikis dampak permintaan pemerintah agara masyarakat tetap berada di rumah.

Menurutu Omi, pemberlakuan keadaan darurat nasional bisa menjadi pilihan untuk menangani pandemi. Keadaan darurat sendiri sudah diberlakukan di beberapa prefektur, serta Tokyo.

“Para pemimpin politik mengirimkan pesan kepada publik dengan sungguh-sungguh, tetapi mungkin tidak sekuat dan sekonsisten yang diharapkan. Kami melihat klaster Covid-19 muncul lebih luas termasuk di sekolah dan perkantoran,” katanya.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN