Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kanselir Jerman Angela Merkel memberikan pernyataan usai melakukan pembicaraan melalui konferensi video dengan para perdana menteri negara bagian Jerman, di Berlin pada 24 Maret 2021. ( Foto: STEFANIE LOOS / AFP / POOL )

Kanselir Jerman Angela Merkel memberikan pernyataan usai melakukan pembicaraan melalui konferensi video dengan para perdana menteri negara bagian Jerman, di Berlin pada 24 Maret 2021. ( Foto: STEFANIE LOOS / AFP / POOL )

Jerman Batalkan Karantina Saat Paskah

Kamis, 25 Maret 2021 | 07:04 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BERLIN, investor.id – Pemerintah Jerman membatalkan rencanan pemberlakukan karantina ketat pada akhir pekan perayaan Paskah, dengan menutup sebagian besar pertokoan di negara itu selama 1 hingga 5 April 2021, setelah mendapat protes dari masyarakat. Sebaliknya, pemerintah meminta penduduk untuk tinggal di rumah selama liburan. Bahkan Kanselir Angela Merkel mengakui kesalahan besarnya, setelah membatalkan langkah-langkah tersebut.

“Ini kesalahan saya sendiri. Seluruh proses telah menyebabkan ketidakpastian tambahan, yang mana saya meminta semua warga untuk memaafkan saya,” ujar Merkel, yang dikutip AFP, Rabu (24/3).

Sementara itu, Uni Eropa (UE) akan memperketat kontrol ekspor vaksin dalam upaya meningkatkan kampanye vaksinasi virus corona Covid-19 yang tersendat. Pasalnya, pelaksanaan vaksinasi di seluruh negara blok UE masih sulit. Lebih lagi, ada negara-negara yang terdampak paling parah di luar blok. Mereka pun menyalahkan masalah produksi dan pasokan pada peluncurannya yang lambat.

Pertikaian mengenai vaksin masih terjadi karena beberapa negara tengah memerangi gelombang ketiga virus. Sedangkan, beberapa pemerintah ingin memberlakukan tindakan anti-virus baru meskipun dilanda kelelahan, akibat karantina yang meluas lebih dari setahun setelah pandemi.

Pelajaran Kerendahan Hati

Di tempat lain di benua itu, Belgia menyatakan bakal melakukan karantina sebagian selama empat pekan, menutup sekolah dan membatasi akses ke toko-toko non-esensial karena berusaha memadamkan gelombang ketiga.

“Pandemi adalah pelajaran besar dalam kerendahan hati bagi politisi, untuk semua orang,” kata Perdana Menteri Alexander De Croo saat mengumumkan tindakan tersebut.

Sedangkan Polandia mencatat kasus infeksi harian tertinggi dengan hampir 30.000, sementara Belanda memperpanjang pembatasan virus corona hingga 20 April. Dan Pemerintah Norwegia mengungkapkan bakal meluncurkan aturan pembatasan baru pada pekan ini, termasuk melarang penjualan minuman beralkohol di bar-bar dan restoran.

Di sisi lain, vaksin dipandang sebagai jalan keluar dari pandemi yang kini telah menewaskan lebih dari 2,7 juta orang di seluruh dunia, dan menjerumuskan ekonomi global ke dalam resesi luar biasa dalam beberapa dekade.

Menurut catatan, kini terdapat lebih dari 479 dosis vaksin yang telah diberikan secara global, terutama di negara-negara kaya di mana Israel, Amerika Serikat dan Inggris yang memimpin. Tetapi dengan permintaan yang sudah jauh melebihi pasokan, negara-negara saling berebut untuk mendapatkan vaksin yang sangat dibutuhkan. Sementara itu, baru segelintir vaksin yang disetujui di seluruh dunia.

Ibarat Perang

Mengingat negara-negara kaya telah mempercepat upaya vaksin mereka, berkembang kekhawatiran tentang pasokan untuk seluruh dunia.

“Saya sangat prihatin bahwa banyak negara berpenghasilan rendah belum menerima satu dosis vaksin # COVID19. Vaksin harus menjadi barang publik global. Dunia harus bersatu untuk mewujudkannya,” demikian cuit Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Rabu.

Pandemi telah memburuk di banyak negara, dengan kasus infeksi di seluruh dunia diketahui mendekati 124 juta.

Bahkan jumlah korban tewas harian di Brasil mencapai 3.000 untuk pertama kalinya, karena infrastruktur perawatan kesehatan negara di Amerika Selatan itu terdesak ke tepi jurang oleh ledakan kasus.

“Pasokan oksigen medis untuk pasien Covid-19 pun telah berkurang ke tingkat yang mengkhawatirkan di enam dari 27 negara bagian Brasil,” kata para pejabat, Selasa.

Peringatan itu menimbulkan kekhawatiran terulangnya peristiwa mengerikan di kota Manaus utara pada Januari, ketika kekurangan oksigen menyebabkan puluhan pasien Covid-19 mati lemas.

“Anda tidak tahu bagaimana melihat keluarga berlarian mencari tabung oksigen, pertengkaran di luar tempat-tempat yang menjual oksigen. Itu ibarat perang – ketika orang-orang berlarian dengan putus asa tanpa tahu apa yang harus dilakukan,” ungkap dokter Adele Benzaken yang berbasis di Manaus kepada AFP.

Kisruh Vaksin AstraZeneca

Di sisi lain, UE pada Rabu mengatakan akan mengadopsi aturan ekspor yang lebih ketat untuk mencegah aliran vaksin satu arah yang tidak adil dari blok itu.

“Jalan terbuka harus berjalan di kedua arah,” kata Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Tindakan tersebut dapat membatasi ekspor vaksin ke negara-negara, seperti Inggris yang memproduksi beberapa vaksin mereka sendiri tetapi tidak mengirimkan dosisnya ke UE.

UE sendiri menuduh mantan anggota blok itu mengajukan klaim atas vaksin AstraZeneca yang diproduksi di sebuah pabrik di Belanda, juga mengatakan perusahaan yang berbasis di Inggris itu gagal memenuhi pengiriman yang dijanjikan ke UE.

Kekisruhannya memperparah penderitaan AstraZeneca setelah beberapa negara menangguhkan vaksinnya karena kekhawatiran pembekuan darah.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Obat Eropa (EMA) sama-sama mengatakan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca aman dan efektif, sekaligus menepis hubungannya dengan pembekuan darah.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN