Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel, Ulrike Demmer. ( Foto: Bundesregierung / Bergmann )

Wakil juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel, Ulrike Demmer. ( Foto: Bundesregierung / Bergmann )

Jerman Putuskan Perketat Kebijakan Pandemi

Sabtu, 10 April 2021 | 06:27 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BERLIN, investor.id – Para pemimpin Jerman telah setuju untuk memperketat undang-undang (UU) nasional tentang penanganan pandemi virus corona Covid-19, pada Jumat (9/4). UU ini merupakan langkah untuk menyerahkan kekuasaan yang lebih terpusat di Berlin demi menghadapi kebuntuan atas langkah-langkah karantina atau lockdown.

“Jerman berada di tengah gelombang ketiga, jadi pemerintah federal dan negara bagian telah setuju untuk menambahkan undang-undang nasional. Tujuannya di sini adalah untuk membuat aturan nasional yang seragam,” ujar Wakil juru bicara Kanselir Angela Merkel, Ulrike Demmer kepada wartawan, yang dikutip AFP.

Dia menambahkan bahwa perubahan undang-undang akan diajukan ke kabinet pada 13 April. Sebagai informasi, Jerman masih dalam cengkeraman kasus infeksi Covid-19 yang meningkat.

Padahal tempat-tempat pertunjukan budaya, restoran-restoran, dan fasilitas-fasilitas rekreasi telah ditutup selama berbulan-bulan. Otoritas kesehatan bahkan sudah memberikan peringatan pada Jumat, bahwa rumah sakit bisa kewalahan, kecuali diterapkan tindakan nasional yang lebih ketat.

Saat ini, langkah-langkah terkait virus corona diputuskan melalui konsultasi dengan Berlin dan – secara teori – diterapkan oleh negara-negara bagian. Namun, ada perpecahan antara para pemimpin regional dan nasional sehubungan dengan aturan pembatasan. Merkel sendiri sudah menyerukan mengenai pemberlakukan karantina yang lebih ketat, setelah beberapa daerah dan kota secara sepihak melonggarkan aturan pembatasan.

Tanpa tanda-tanda konsensus, Demmer pun memastikan lewat laporan media bahwa pembicaraan antara Merkel dan para perdana menteri negara bagian yang direncanakan Senin (12/4) telah dibatalkan.

Pertemuan rutin hingga saat ini menetapkan kebijakan untuk perang Jerman melawan pandemi virus corona, tetapi kerap ditandai oleh perselisihan sengit dan kepatuhan yang tidak jelas dalam beberapa pekan terakhir. Terutama, karena ada beberapa negara yang belum menindaklanjuti kesepakatan untuk menarik kembali tindakan pelonggaran di daerah, di mana tingkat insiden selama tujuh hari melebihi 100 kasus per 100.000 orang.

Demmer mengungkapkan, perubahan UU bakal membantu pemberlakuan “rem darurat” secara nasional. “Kami perlu menemukan solusi, karena rem darurat diterapkan dengan cara yang sangat berbeda,” katanya.

Seruan Mendesak

Menurut laporan surat kabar Jerman, Bild, usulan penyesuaian terhadap undang-undang tersebut juga akan menerapkan jam malam dan beberapa penutupan sekolah-sekolah, terutama di daerah yang terkena dampak paling parah.

Seruan untuk mengubah undang-undang telah berkembang selama sepekan terakhir di tengah meningkatnya jumlah kasus infeksi. Peringatan yang dikeluarkan otoritas kesehatan pada Jumat, menunjukkan bahwa pembatasan yang lebih kuat sangat penting.

“Kami membutuhkan lockdown untuk memecahkan gelombang ini. Tindakan yang lebih keras, pada ahirnya dapat menjadi jembatan untuk membuka kembali kehidupan publik,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Jerman, Jens Spahn.

Berdasarkan angka resmi pada Jumat, tercatat 25.464 kasus baru dalam 24 jam terakhir. Sedangkan, para dokter perawatan intensif memperingatkan bahwa rumah sakit bisa kewalahan karena kebanjiran pasien.

“Kami sangat prihatin tentang situasi saat ini. Kami berada di ambang sistem kesehatan kami yang kewalahan,” tutur Gernot Marx, presiden asosiasi pengobatan intensif (DIVI) Jerman.

Marx menjelaskan, bahwa Jerman saat ini hanya memiliki 3.000 tempat tidur di ruan perawatan intensif gratis setelah ada peningkatan dramatis dalam penerimaan dalam beberapa pekan terakhir. Dalam seruan mendesak kepada para pemimpin politik, dia meminta diberlakukan lockdown ketat selama dua sampai tiga pekan.

Kepala badan penyakit menular Robert Koch Institute, Lothar Wieler, juga menyerukan tindakan yang lebih ketat dalam menghadapi situasi yang sangat serius. “Jika kita tidak melakukan karantina diri, banyak orang yang akan kehilangan nyawa,” katanya.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN