Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden saat mengumumkan tim keamanan dan kebijakan luar negeri dalam kabinet pemerintahannya di Wilmington, Delaware, pada 24 November 2020. ( Foto: CHANDAN KHANNA / AFP )

Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden saat mengumumkan tim keamanan dan kebijakan luar negeri dalam kabinet pemerintahannya di Wilmington, Delaware, pada 24 November 2020. ( Foto: CHANDAN KHANNA / AFP )

Perkenalkan Tim Keamanan dan Kebijakan Luar Negeri

Joe Biden: AS Kembali Pimpin Dunia

Kamis, 26 November 2020 | 06:33 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan bahwa Amerika telah kembali dan siap memimpin dunia. Pernyataan Biden ini ditandai dengan memperkenalkan anggota kabinet yang menangani urusan keamanan nasional dan kebijakan luar negeri, yang berasal dari kalangan veteran.

Dalam pengumuman yang disampaikan pada Selasa (24/11) waktu setempat, Biden menampilkan sosok pria dan wanita yang berdiri di belakangnya dengan menggunakan masker. Keenam orang itu terdiri atas menteri luar negeri, penasihat keamanan nasional, menteri keamanan dalam negeri, kepala intelijen, duta besar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan utusan untuk perubahan iklim.

“Para pegawai negeri ini akan memulihkan kepemimpinan global dan kepemimpinan moral Amerika,” ujar Biden, seperti dilansir AFP, Rabu (25/11).

Dia menambahkan, setelah dilantik pada 20 Januari 2021 dan Donald Trump meninggalkan Gedung Putih, maka Amerika Serikat akan kembali duduk di meja perundingan, “siap untuk menghadapi musuh-musuh kita dan tidak menolak sekutu-sekutu kita.”

“Ini adalah sebuah tim yang merefleksikan fakta bahwa Amerika telah kembali, siap untuk memimpin dunia, bukan malah mundur,” katanya seraya menyinggung kebijakan “America First” yang diusung Presiden Trump yang dipandang telah berjalan sendiri.

Pernyataan yang dikeluarkan Biden, seiring dengan kemunduran yang dialami Trump untuk membalikkan hasil perolehan suara dalam pemilihan presiden (pilpres) melalui tudingan penipuan yang tidak berdasar. Bahkan Negara Bagian Pennsylvania dan Nevada telah memberikan sertifikasi hasil pemilihan umum (pemilu) 3 November pada Selasa, atau selang sehari setelah Negara Bagian Michigan memberikan sertifikasi.

Situasi tersebut memicu Administrasi Layanan Umum atau General Services Administration (GSA) untuk meluncurkan proses transisi. Di samping itu, semakin banyak anggota Partai Republik yang menuntut diakhirinya kebuntuan sehingga Trump akhirnya mengizinkan keputusan GSA, yang secara efektif mengakui kekalahan.

Tetapi pada Selasa, Presiden Trump mencuitkan foto dirinya di Ruang Oval dengan tulisan “Saya tidak menyerahkan apa pun!!!!!”

Trump (74 tahun) sendiri diketahui sedang menghadiri upacara penyerahan kalkun hidup di Gedung Putih, yang merupakan bagian dari upaperayaan sebelum Hari Thanksgiving. Dalam kegiatan itu, Trump secara tidak langsung kembali berbicara soal pemilu AS, dengan mengatakan: “Saya katakan 'America First', tidak boleh menjauh dari itu.”

Pembangun Koalisi

Di sisi lain, daftar nama-nama anggota kabinet baru yang diungkapkan Biden – termasuk para mantan pejabat di bawah pemerintahan Barack Obama – telah menandakan kembalinya diplomasi dan multilateralisme tradisional AS.

“Amerika akan menegaskan kembali perannya di dunia, dan menjadi pembangun koalisi. Kita menghadapi dunia yang sama sekali berbeda. Presiden Trump telah mengubah lanskap kebijakan menjadi America First, yang berarti Amerika (berjalan) sendiri,” kata Biden

Biden juga menyangkal jika kabinet pemerintahannya ibarat masa jabatan ketiga Obama, mengingat dia pernah menjadi wakil presidennya periode 20 Januari 2009-20 Januari 2017.

Namun, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengecam seruan Biden tentang kerja sama internasional yang lebih besar. Dia mengatakan bahwa Trump telah difokuskan pada hasil nyata dan kenyataan di lapangan.

“Lebih banyak multilateralisme demi berkumpul dengan teman-teman mereka di pesta koktail? Itu bukan untuk kepentingan terbaik Amerika Serikat,” tutur Pompeo kepada Fox News.

Pompeo mengaku belum berbicara dengan Anthony Blinken – sebagai menlu AS yang akan datang – tapi akan melakukan transisi sesuai hukum.

Sementara itu, mantan menteri luar negeri John Kerry periode 2013-2017 – yang dipilih Biden sebagai utusan khusus untuk perubahan iklim – memastikan bahwa AS bakal bergabung kembali dengan Pakta Iklim Paris. Setelah AS secara resmi keluar pada awal bulan ini, di bawah kepemimpinan Trump.

Sedangkan Alejandro Mayorkas – yang kelahiran Kuba – ditunjuk mengepalai Departemen Keamanan Dalam Negeri AS. Di bawah Trump, lembaga itu mengeluarkan kebijakan pembatasan imigrasi yang ketat dan sering menjadi sumber kontroversi.

Ada pun Avril Haines dinominasikan untuk menjadi direktur intelijen nasional, yang menjadikannya wanita pertama untuk jabatan tersebut. Sementara itu Jake Sullivan ditunjuk sebagai penasihat keamanan nasional. Mantan gubernur The Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen diprediksi sebagai menteri keuangan (menkeu) AS, juga wanita pertama yang memegang jabatan itu.

Seperti diketahui, GSA memutuskan memberi Biden akses ke informasi rahasia sehingga memungkinkan para pembantunya untuk berkoordinasi dengan pejabat federal dalam menangani pandemi virus corona Covid-19 yang memburuk.

“Kami sudah melakukan pertemuan dengan tim Covid di Gedung Putih. Penjangkauan telah dilakukan dengan tulus,” ungkap Biden dalam wawancara televisi pertamanya dengan NBC, sejak memenangkan kursi kepresidenan.

Dalam 100 Hari Pertama

Biden menyampaikan, bahwa dalam 100 hari pertamanya menjabat, dirinya akan mengatasi krisis Covid-19, membatalkan kebijakan Trump yang 'merusak' lingkungan, dan mendorong rancangan undang-undang yang menawarkan jalur kewarganegaraan kepada jutaan penduduk yang tidak memiliki dokumen resmi.

Dia juga mengatakan ingin semua siswa kembali ke ruang kelas, meskipun ada biaya besar yang dikeluarkan supaya sekolah-sekolah beradaptasi aman dari Covid.

Kemenangan yang diraih dengan mulus oleh Biden membuat Trump mengeluarkan kartu terakhirnya yakni mencoba mengganggu proses sertifikasi suara di setiap negara bagian yang biasanya kerap mengajuan tantangan apabila ada klaim penyimpangan pada hasil pemilihan ke pengadilan

Namun, pelanggaran hukum sejauh ini telah gagal seiring dengan upaya-upaya penundaan sertifikasi negara. “Upaya tim hukum kampanye Trump sebenarnya tidak memiliki dasar, tidak memiliki dasar hukum. Satu-satunya tujuan mereka adalah untuk menunda yang tak terhindarkan,” ujar Bob Bauer, penasihat senior kampanye Biden.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN