Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow sedang berbicara kepada media pada Selasa (6/8) di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Kudlow menyampaikan, bahwa Presiden AS Donald Trump tidak senang dengan kemajuan yang dihasilkan dari negosiasi di Beijing, Tiongkok pada awal bulan ini. AFP/SAUL LOEB

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow sedang berbicara kepada media pada Selasa (6/8) di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Kudlow menyampaikan, bahwa Presiden AS Donald Trump tidak senang dengan kemajuan yang dihasilkan dari negosiasi di Beijing, Tiongkok pada awal bulan ini. AFP/SAUL LOEB

Kalangan Ekonom AS Perkirakan Resesi pada 2020 atau 2021

Grace Eldora, Selasa, 20 Agustus 2019 | 09:04 WIB

WASHINGTON, investor.id - Mayoritas ekonom memperkirakan kemungkinan resesi Amerika Serikat (AS) dalam dua tahun ke depan. Namun menurut survey yang dirilis Senin (19/8), resesi dapat dicegah jika The Federal Reserve (The Fed) bertindak.

Survei itu keluar setelah Presiden AS Donald Trump berupaya menepis pembicaraan tentang ancaman resesi. Pekan lalu, sejumlah data menunjukkan gambaran beragam tentang ekonomi AS.

"Saya siap untuk segalanya. Saya tidak berpikir kita akan mengalami resesi. Kita bekerja dengan sangat baik. Konsumen kita kaya. Saya memberikan potongan pajak yang luar biasa dan mereka penuh dengan uang. Mereka membeli. Saya melihat angka Wal-Mart menggapai tinggi," kata Trump kepada wartawan, baru-baru ini.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar ekonom benar-benar mengatakan AS tidak akan mengalami resesi. “Tetapi seluruh dunia tidak melakukannya dengan baik seperti yang kita lakukan," lanjut Trump. Penasihat ekonomi utamanya, Larry Kudlow, juga menepis pembicaraan tentang resesi. "Saya yakin tidak melihat kemungkinan resesi. Konsumen bekerja dengan upah lebih tinggi. Mereka juga gencar berbelanja. Mereka sebenarnya juga menabung walau terus berbelanja. Jadi saya pikir sebenarnya pada paruh kedua, ekonomi menunjukkan kinerja sangat baik pada 2019," tutur Kudlow kepada NBC.

Hasil survei Asosiasi Nasional untuk Ekonom Bisnis (NABE) mendapati jauh lebih sedikit ahli yang memperkiarkan resesi berikutnya terjadi mulai tahun ini, dibandingkan dengan survei pada Februari 2019.

NABE melakukan jajak pendapat ketika Trump terus menekan The Fed. Ia juga menuntut lebih banyak stimulus, sebelum akhirnya bank sentral memangkas suku bunga acuan pada 31 Juli 2019.

Namun, The Fed sudah mengirimkan sinyal kuat pihaknya bermaksud menahan penaikan suku bunga, sebagaimana dilakukan sepanjang 2018. Dikarenakan kekhawatiran-kekhawatiran yang dapat mulai menggerogoti prospek ekonomi, termasuk perang dagang dengan Tiongkok.

"Survei terhadap para responden menunjukkan, ekspansi bakal berlanjut jika ada perubahan kebijakan moneter," tukas Presiden NABE Constance Hunter, yang adalah kepala ekonom di KPMG. Menurutnya, hanya 2% dari 226 responden sekarang melihat resesi tahun ini dibandingkan dengan 10% dalam survei Februari 2019.

Namun Hunter dalam ringkasan survey mengatakan, panel terbagi mengenai apakah penurunan akan terjadi pada 2020 atau 2021. Survey menunjukkan 38% memperkirakan kontraksi pertumbuhan tahun depan, sedangkan 34% menunjukkan kemungkinan resesi tidak terlihat hingga tahun berikutnya.

Lebih banyak ekonom menggeser prediksi resesi menjadi pada 2021. Sedangkan dalam laporan sebelumnya, lebih banyak yang memperkirakan hal itu pada tahun depan.

 

Kebijakan Bank Sentral

Hasilnya menunjukkan, 46% mengharapkan setidaknya satu pemotongan suku bunga lagi tahun ini oleh The Fed. Sekitar sepertiga responden memperkirakan suku bunga bertahan di level sekarang dan menyebut 2,25% sebagai batas atas dari rentang kebijakan suku bunga.

NABE menambahkan, para ekonom skeptis tentang resolusi perang perdagangan oleh Trump, meskipun 64% mengatakan mungkin akan ada kesepakatan superfisial.

Namun, itu sebelum Trump mengumumkan rencana pemberlakuan tarif 10% atas US$ 300 miliar impor Tiongkok belum terkena tarif AS. Langkah baru ini akan mulai berlaku dalam dua tahap, pada tanggal 1 September dan 15 Desember 2019.

Ketika Trump terus melancarkan kritik terbukanya terhadap The Fed, survei NABE menunjukkan kalangan ekonom mengkhawatirkan dampak hal tersebut. Sebanyak 55% mengatakan kritik Trump tidak mempengaruhi keputusan The Fed, tetapi mempengaruhi kepercayaan publik terhadap bank sentral.

Selain itu, lebih dari seperempat responden mengatakan kritik itu akan menyebabkan The Fed menjadi lebih dovish daripada seharusnya, sehingga dapat mengancam independensi bank sentral. (afp)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA