Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Reserve Bank of India (RBI) yang terpasang di kantor pusat bank sentral India, di Mumbai. AFP / Indranil MUKHERJEE

Logo Reserve Bank of India (RBI) yang terpasang di kantor pusat bank sentral India, di Mumbai. AFP / Indranil MUKHERJEE

Kebijakan Bank Sentral India Bergantung pada Inflasi dan Pemulihan Ekonomi

Jumat, 8 Januari 2021 | 07:13 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA – Tekanan inflasi dan pemulihan ekonomi negara akan dijadikan panduan untuk menentukan langkah-langkah kebijakan dari Reserve Bank of India (RBI) di masa depan. Demikian disampaikan anggota komite kebijakan moneter bank sentral India Ashima Goyal.

Menurut pendapat pribadi Goyal – yang juga seorang profesor ekonomi di Indira Gandhi Institute for Development Research India – komite kebijakan moneter bank sentral India (RBI) khawatir dengan inflasi.

“Tingkat inflasi telah berada di atas target kami selama beberapa bulan terakhir, tetapi selama sebulan terakhir, inflasi telah turun. Saya pikir alasannya adalah karena secara umum, dampak yang dihasilkan lockdown terus-menerus masih kurang dari yang diharapkan,” ujar Goyal dalam program CNBC “Street Signs Asia” pada Rabu (6/1).

Pernyataannya tersebut merujuk pada aturan karantina nasional di India yang diberlakukan antara akhir Maret dan Mei tahun lalu, dengan tujuan memperlambat penyebaran virus corona Covid-19. Pandemi Covid-19 dilaporkan menjadi penyebab jatuhnya konsumsi swasta dan permintaan investasi, serta mendorong ekonomi menuju kontraksi dua kuartal berturut-turut.

Para ekonom pun disebut-sebut tidak terkesan dengan langkah-langkah kebijakan fiskal yang diumumkan Pemerintah India pada tahun lalu, untuk menghidupkan kembali pertumbuhan.

Beberapa di antara ekonom bahkan menyebutkan bahwa RBI akan menjalankan tugas berat dalam jangka pendek. Bank sentral India sendiri tidak mengubah tingkat suku bunga acuan yang dipinjamkannya kepada bank komersial, sejak Mei.

Tingkat inflasi tetap pun masih jauh di atas kisaran target RBI antara 2% dan 6% selama beberapa bulan terakhir. Namun pada November, laju inflasi ritel turun menjadi 6,93% karena harga pangan turun. Demikian dilaporkan Reuters.

Beberapa ekonom memprediksi lebih jauh bahwa tingkat inflasi mereda pada Desember dan juga pada awal 2021.

“Karena tekanan inflasi, RBI menahan untuk tidak menurunkan suku bunga setelah pemangkasan awal. Beberapa bulan terakhir, mereka stabil. Kami pikir inflasi akan kembali ke kisaran target,” ujar Goyal tanpa merinci jadwal spesifik kapan inflasi bisa turun di bawah 6%.

Saat ditanya tentang pergerakan suku bunga bank sentral di masa depan, Goyal menuturkan bahwa komite kebijakan moneter akan membuat keputusan “berdasarkan data”. “Kami melihat apa yang terjadi pada inflasi dan bagaimana pemulihan mulai terbentuk,” tambahnya.

Di sisi lain, Bank Dunia baru-baru ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi India akan pulih menjadi 5,4% pada 2021. Tetapi rebound dari basis rendah diimbangi oleh pertumbuhan investasi swasta yang tidak bergerak karena kelemahan sektor keuangan.

Sebelumnya pada Senin (4/1), para ekonom Citi mengatakan bahwa data menunjukkan posisi pemerintah “tidak terlalu genting” menjelang presentasi anggaran fiskal 2022 pada 1 Februari mendatang.

Mereka mengatakan, meski belanja terkait stimulus pemerintah di bidang-bidang seperti pertanian dan pedesaan semakin berkurang. Ada momentum dalam belanja dari kementerian terkait infrastruktur, termasuk kereta api, transportasi jalan raya, air dan perumahan.

Sementara kompresi belanja pemerintah menjadi hambatan pada Kuartal II tahun fiskal 2021, yang berakhir pada 31 Maret.

“Tren belanja Kuartal III mendukung pemulihan pertumbuhan. Pemerintah juga memperoleh pendapatan pajak bruto yang lebih baik dari perkiraan dalam beberapa bulan terakhir yang menunjukkan posisi fiskal yang kurang menantang,” kata para ekonom.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN