Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memegang semikonduktor selama memberikan sambutan sebelum menandatangani Perintah Eksekutif tentang ekonomi, di Ruang Makan Negara Gedung Putih, di Washington, DC., pada 24 Februari 2021. ( Foto: Doug Mills / Pool / Getty Images / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memegang semikonduktor selama memberikan sambutan sebelum menandatangani Perintah Eksekutif tentang ekonomi, di Ruang Makan Negara Gedung Putih, di Washington, DC., pada 24 Februari 2021. ( Foto: Doug Mills / Pool / Getty Images / AFP )

Kelangkaan 'Chip' Dibahas Gedung Putih

Selasa, 13 April 2021 | 06:42 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Senin (12/4) siang waktu setempat bertemu secara virtual dengan para CEO otomotif dan teknologi AS. Masalah kelangkaan chip global yang menimpa para produsen otomotif menjadi pokok pembahasan.

Gedung Putih menyatakan, Biden dijadwalkan bergabung walau singkat dalam pertemuan tentang ketahanan rantai pasokan dan semikonduktor. Pertemuan ini digelar Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Brian Deese, dan Menteri Perdagangan Gina Raimondo.

CEO dari perusahaan-perusahaan teknologi yang dijadwalkan hadir dari General Motors, Ford, Northrup Grumman, Alphabet-Google, dan raksasa semikonduktor AS Intel.

Secara keseluruhan 10 bos perusahaan dijadwalkan hadir. Termasuk Mark Liu, executive chairman Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), salah satu perusahaan yang vital bagi pasokan komponen elektronik dunia.

Pemerintahan Biden juga dijadwalkan menjelaskan paket infrastruktur US$ 2 triliun. Bagian dari rencana ini adalah kantor baru di Departemen Perdagangan yang akan didukung dana US$ 50 miliar untuk mendukung produksi barang-barang sangat penting. Juga untuk mendukung legislasi di Kongres untuk investasi sebesar US$ 50 miliar lagi dalam riset dan manufaktur semikonduktor.

Kelangkaan semikonduktor ini telah sangat memukul industri otomotif AS. General Motors, Ford, dan lainnya sampai mengurangi produksi atau menutup beberapa bagian produksi.

Clarence E Brown, salah satu presiden serikat buruh otomotif AS berharap pemerintah dapat memecahkan masalah ini dan tidak terulang kembali. Walaupun selama 47 tahun berkarier di GM, ia mengaku sudah pernah mengalami pemogokan buruh, penutupan pabrik, dan pengurangan karyawan karena kelangkaan suku cadang-suku cadang.

“Saya bukan multimilyuner korporat, tapi tidak butuh ilmu tinggi-tinggi untuk tahu ada yang salah dengan masalah ini. Saya sudah 40 tahun lebih bersama General Motors, dan selama itu saya memahami satu hal, jika rencana A tidak jalan, mana rencana B? Harus ada perbaikan sehingga hal seperti ini tidak terjadi lagi,” kata dia kepada CNBC.

Ia berharap para pihak yang berwenang, termasuk presiden, bisa memunculkan satu rencana agar masalah ini tidak terulang. Brown mengaku pernah bertemu Biden saat dalam masa kampanye datang ke pabrik GM di 2019.

“Masalah ini bukan hanya masalahnya General Motors atau Ford atau pun sekadar urusan mobil. Tapi juga sudah berdampak ke sektor-sektor lain di negara ini,” tambah Brown.

Tapi menurut kalangan pakar dan pejabat perusahaan, tidak banyak yang dapat dilakukan Biden untuk memaksa para produsen chip, yang mayoritas berasal dari Asia dan khususnya Taiwan, untuk mengalokasikan lebih banyak pasukannya ke industri otomotif AS.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN