Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Foto ilustrasi: AFP / Ben STANSALL

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Foto ilustrasi: AFP / Ben STANSALL

PANDEMI COVID-19

Kemiskinan di Inggris Bertambah Buruk

Senin, 6 April 2020 | 05:12 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Tingkat kemiskinan di Inggris sudah tinggi karena program penghematan selama 10 tahun terakhir, yang didorong oleh krisis finansial global. Wabah virus korona Covid-19, menurut para ahli, memperburuk kondisinya.

Data pemerintah menunjukkan lebih dari 14 juta orang di Inggris dikategorikan hidup dalam kemiskinan. Berarti jumlahnya hampir seperempat dari populasi Inggris.

Data itu menjelaskan bahwa sekitar 4,2 juta anak-anak di Inggris miskin. Atau sekitar 30% dari total orang yang dikategorikan miskin tersebut. Situasinya sekarang memburuk karena banyak yang kehilangan lapangan kerja, sebagai akibat kebijakan lockdown atau karantina wilayah untuk menekan penyebaran Covid-19.

“Risiko (untuk jadi) miskin sangat tinggi bagi pekerja di sektor pariwisata dan ritel. Karena umumnya berupah rendah dan lapangan kerjanya rentan,” ujar Dave Innes, kepala ekonom di Joseph Rowntree Foundation, organisasi pemerhati perubahan sosial, seperti dikutip dari AFP, Minggu (5/4).

Dalam dua pekan terakhir, sudah hampir satu juta orang dewasa di Inggris yang mengajukan Universal Credit. Ini adalah dana bantuan utama dari pemerintah. Jumlah yang mengajukan tersebut hampir 10 kali lipat banyaknya untuk rata-rata waktu selama dua pekan.

“Jika keluarga yang sebelum adanya wabah ini memiliki penghasilan lumayan lalu sekarang mengajukan Universal Credit, mereka tiba-tiba menjadi miskin,” ujar Louisa McGeehan, direktur Child Poverty Action Group UK.

Sementara untuk keluarga yang sebelum adanya wabah ini pun sudah dikategorikan miskin -dan anak-anaknya sekarang di rumah karena sekolah tutup- materi pengajaran yang sekarang dimuat online menambah persoalan. McGeehan mencatat banyak sekolah yang memuat materi-materi pengajarannya di internet. Dengan begitu anak-anak tetap bisa belajar di rumah.

“Tapi jika anak-anak itu di rumahnya tidak punya akses internet atau tidak punya komputer, berarti mereka tidak bisa mendapatkan pelajaran tersebut. Jadi bangsa ini sekarang dihadapkan dengan kemiskinan anak-anak yang diperburuk oleh dampak virus korona,” ujar McGeehan, kepada AFP. (afp)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN