Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. ( Foto: NICHOLAS KAMM / AFP )

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. ( Foto: NICHOLAS KAMM / AFP )

Ketidaksetaraan dan Inflasi Ganggu Pemulihan

Kamis, 7 Oktober 2021 | 05:58 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengingatkan bahwa ekonomi global yang rebound dari krisis Covid-19 akan mengalami penurunan pada tahun ini. Penyebabnya, banyak negara sedang berjuang menghadapi kenaikan harga, beban utang tinggi, dan pemulihan yang berbeda di mana banyak negara miskin masih tertinggal dari negara-negara kaya.

Meskipun IMF memiliki kekuatan baru bernilai ratusan miliar dolar untuk membantu negara-negara pulih dari bencana, Georgieva mengungkapkan bahwa faktor-faktor mulai dari kenaikan harga pangan hingga akses vaksin yang tidak setara telah menimbulkan kerugian.

“Kita menghadapi pemulihan global yang masih berjalan 'tertatih-tatih' akibat pandemi, dan dampaknya. Kita tidak dapat berjalan dengan baik,” ujar Georgieva dalam pidato yang disampaikan secara virtual dari Washington, Amerika Serikat (AS) hingga Bocconi University di Milan, Italia pada Selasa (5/10) waktu setempat, yang dikutip AFP.

IMF dijadwalkan merilis proyeksi pertumbuhan baru pada pekan depan, tetapi Georgieva memperingatkan bahwa laju pertumbuhan tahun ini diperkirakan sedikit moderat dari prediksi 6% pada Juli.

Selain itu, risiko dan hambatan untuk pemulihan global yang seimbang menjadi lebih jelas. Hal-hal ini, termasuk melebarnya perbedaan antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin dalam lintasan pemulihan mereka dari pandemi.

“Produksi ekonomi di negara maju diproyeksikan kembali ke tren pra-pandemi pada 2022. Tetapi sebagian besar negara paling berkembang dan berkembang akan membutuhkan waktu bertahun-tahun lagi untuk pulih. Pemulihan yang tertunda ini-lah yang bakal mempersulit menghindari kerusakan ekonomi jangka panjang termasuk dari kehilangan pekerjaan, yang sangat memukul kaum muda, perempuan dan pekerja informal,” kata Georgieva.

Kekuatan Lebih

Pidato Georgieva itu juga disampaikan menjelang pertemuan musim gugur IMF dan Bank Dunia, di mana akan jadi pertama yang mengungkap World Economic Outlook atau Prospek Ekonomi Dunia terbaru tentang penawaran berbagai topik.

Sejak laporan sebelumnya pada Juli, perangkat IMF untuk menangani krisis global telah sangat diperluas dengan peningkatan US$ 650 miliar dalam bentuk cadangan tunai untuk negara-negara anggota, yang dikenal sebagai Hak Penarikan Khusus (Special Drawing Rights/SDR).

Dari total cadangan tersebut, sebanyak US$ 275 miliar di antaranya diberikan ke negara-negara berkembang dan maju supaya dapat digunakan negara saat perekonomiannya pulih. Namun, dalam pidatonya, Georgieva meminta kepada negara-negara yang tidak membutuhkan agar menyalurkannya ke dalam program anti-kemiskinan IMF.

Georgieva mengibaratkan pemulihan global dari pandemi seperti berjalan dengan batu di dalam sepatu kita dan pemulihan itu bisa saja keluar jalur. Dia menambahkan, Italia dan negara-negara lain di Eropa telah mengalami percepatan ekonomi tetapi raksasa ekonomi dunia Amerika Serikat dan Tiongkok mengalami momentum yang melambat.

“Sebaliknya, di banyak negara lain, pertumbuhan terus memburuk, terhambat oleh rendahnya akses vaksin dan respons kebijakan yang terbatas. Perbedaan dalam peruntungan ekonomi ini menjadi lebih persisten,” tutur Georgieva.

Utang Setara PDB

Di sisi lain, salah satu alasannya adalah inflasi, yang telah merangkak naik di seluruh dunia. Harga pangan juga menunjukkan peningkatan lebih dari 30% selama setahun terakhir, dan diikuti harga energi yang meningkat.

“IMF memperkirakan lonjakan akan mereda tahun depan, tetapi bakal berlanjut di negara berkembang dan ekonomi berkembang,” tambah Georgieva.

Lalu ada utang publik global, yang diperkirakan telah mencapai hampir 100% dari PDB. Georgieva pun kembali meminta para kreditur swasta untuk berpartisipasi dalam inisiatif penangguhan utang kelompk G-20 bagi negara-negara miskin, sekaligus menyerukan agar negara-negara transparan tentang utang mereka.

“Kita tidak bisa berada dalam situasi ketika kita hanya melihat puncak gunung es,” ujar dia.

Menutup kesenjangan-kesenjangan tersebut akan membutuhkan langkah-langkah, termasuk meningkatkan ketersediaan vaksin Covid-19. Namun Georgieva mengatakan bahwa diperlukan dorongan lebih besar bagi IMF dan Bank Dunia untuk memenuhi target 40% vaksinasi di seluruh dunia pada akhir tahun ini, dan 70% di semester pertama 2022.

Dia juga menuturkan bahwa negara-negara harus mengambil kesempatan untuk melakukan reformasi ekonomi yang bertujuan mengurangi emisi karbon, membangun infrastruktur digital dan menetapkan pajak minimum global guna mengekang pajak-pajak perusahaan di luar negeri.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN