Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera nasional Amerika Serikat (AS) dan bendera nasional Tiongkok. ( Foto: Reuters )

Bendera nasional Amerika Serikat (AS) dan bendera nasional Tiongkok. ( Foto: Reuters )

Ketidaksukaan Tiongkok-AS Tak Terbendung

Selasa, 27 Juli 2021 | 06:50 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id – Perasaan saling tidak suka atau pun dendam serta benci tak terbendung dan menandai dimulainya pembicaraan antara pemerintah Tiongkok dan utusan tertinggi Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden AS Joe Biden. Tiongkok mendesak pemerintah AS untuk berhenti menjelekkan Tiongkok, sementara AS menyinggung kasus-kasus terkait pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Tiongkok.

Kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman ke kota Tianjin adalah pertemuan besar pertama antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu. Sejak pembicaraan pada Maret lalu di Anchorage, Alaska, AS berakhir dengan saling umpat.

Lawatan Sherman bertujuan mencari pagar pembatas karena hubungan kedua negara memburuk atas berbagai masalah. Dari keamanan siber dan supremasi teknologi, hingga hak asasi manusia di Hong Kong dan Xinjiang.

Tetapi pernyataan yang dikeluarkan oleh pemerintah Tiongkok menunjukkan sikap yang kemudian mendasari awal pertemuan tersebut.

"Harapannya mungkin dengan menjelek-jelekkan Tiongkok, AS entah bagaimana bisa menyalahkan Tiongkok atas masalah strukturalnya sendiri," kata Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Xie Feng kepada Sherman, seperti dilansir Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Senin (26/7) pagi waktu setempat.

Ia mengatakan, negaranya mendesak AS untuk mengubah pola pikirnya yang sangat sesat dan kebijakan berbahayanya. Xie menambahkan, pemerintah AS memandang Tiongkok sebagai musuh bebuyutan.

Dia mengklaim bahwa orang-orang Tiongkok memandang retorika permusuhan AS sebagai upaya terselubung untuk menahan dan menekan Tiongkok. Ini disampaikan dalam komentar yang mengingatkan pada pernyataan saling kecam antara Menlu AS Antony Blinken dan Menlu Tiongkok Yang Jiechi di Alaska.

Sherman lewat media sosial Twitter pada Senin menyampaikan dirinya telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Wang Yi tentang komitmen pemerintah AS untuk persaingan yang sehat, melindungi HAM dan nilai-nilai demokrasi.

Perwakilan Departemen Luar Negeri AS mengatakan, Sherman telah mengangkat berbagai kekhawatiran tentang pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah Tiongkok di Hongkong, Xinjiang, dan Tibet.

"Wakil Sekretaris dan Penasihat Negara Wang melakukan diskusi yang jujur dan terbuka tentang berbagai masalah, menunjukkan pentingnya menjaga jalur komunikasi terbuka antara kedua negara kita. Mereka membahas cara untuk menetapkan persyaratan untuk manajemen yang bertanggung jawab atas hubungan AS-Tiongkok," bunyi pernyataan Deplu AS.

Penggambaran Berbeda

Tidak seperti penggambaran Xie tentang pembicaraan tersebut, para pejabat AS mengatakan pada Senin bahwa diskusi berlangsung terbuka, profesional dan langsung, meskipun tidak ada hasil khusus yang dicapai.

"Wakil Sekretaris sangat kuat dalam membuat pihak Tiongkok memahami informasi faktual bahwa kami mendukung apa yang kami bicarakan," kata seorang pejabat AS.

Ia menambahkan bahwa Sherman telah sangat jujur pada isu-isu seperti dugaan peretasan oleh Tiongkok.

"Kami mencari cara konstruktif untuk bergerak maju dalam beberapa masalah ini. Saya rasa kami tidak mengharapkan terobosan besar," imbuhnya.

Pihak AS juga mengangkat kebebasan media, serta tindakan militer pemerintah Tiongkok di Selat Taiwan dan atas klaim di Laut Tiongkok Selatan.

Di sisi lain, pemerintah Tiongkok lewat juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian kemudian mengatakan kepada wartawan, pihaknya mengeluarkan daftar tuntutan lengkap kepada AS. Di antaranya mencabut sanksi terhadap pejabat dan pembatasan visa pada pelajar Tiongkok, serta menghentikan penindasan terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Seruan untuk penyelidikan baru tentang asal-usul virus corona harus diakhiri, tambah Zhao, dalam peringatan menyeluruh untuk berhenti menginjak garis merah.

Kunjungan tersebut secara luas dipandang sebagai langkah persiapan untuk pertemuan terakhir antara Biden dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, ketika hubungan AS-Tiongkok terus terjun bebas dengan hanya sedikit tanda perbaikan.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN