Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Taro Kono, yang mengepalai peluncuran vaksin Covid-19 di Jepang, mengumumkan pencalonannya untuk ketua Partai Demokrat Liberal pada 10 September 2021. ( Foto: KAZUHIRO NOGI / AFP )

Taro Kono, yang mengepalai peluncuran vaksin Covid-19 di Jepang, mengumumkan pencalonannya untuk ketua Partai Demokrat Liberal pada 10 September 2021. ( Foto: KAZUHIRO NOGI / AFP )

Kono Unggul 27% Suara dalam Jajak Pendapat

Senin, 13 September 2021 | 06:02 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

TOKYO – Menteri Jepang yang bertanggung jawab atas vaksin Covid-19, Taro Kono, memimpin perolehan suara 27% dalam jajak pendapat tentang siapa yang harus menggantikan Perdana Menteri Yoshihide Suga sebagai ketua Partai Demokrat Liberal (Liberal Democratic Party/LDP) yang berkuasa.

Dalam jajak pendapat surat kabar Nikkei dan lembaga penyiaran TV Tokyo, yang menanyakan siapa orang yang tepat untuk memimpin partai dan menjadi perdana menteri berikutnya, Kono mendapat dukungan 27% suara. Hasil poling 9-11 September pun telah dirilis pada Sabtu (11/9).

Sementara itu, mantan sekretaris jenderal (sekjen) LDP Shigeru Ishiba berada di urutan kedua dengan raihan suara 17%, dan mantan kepala kebijakan Fumio Kishida berada di urutan ketiga dengan 14%. Sedangkan mantan menteri dalam negeri Sanae Takaichi berada di urutan kelima dengan suara 7%.

Seperti diketahui, Kono – yang juga menjabat sebagai menteri reformasi administrasi – telah mengumumkan pencalonan diri sebagai ketua LDP pada Jumat (10/9). Dia ada politikus ketiga yang meresmikan niatnya setelah Kishida dan Takaichi.

“Ishiba mungkin tidak mencalonkan diri sebagai pemimpin partai dan sebaliknya akan mendukung kandidat lain,” demikian laporan kantor berita Jiji pada Sabtu, dari sumber-sumber yang dekat dengannya, yang dikutip Reuters.

Di sisi lain, Suga secara mengejutkan menyapaikan pengumuman pada 3 September bahwa akan mengundurkan diri. Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya masa jabatan satu tahun yang telah dirusak oleh anjloknya dukungan publik dan ketidakpuasan masyarakat atas responsnya terhadap penanganan virus corona Covid-19.

Hal itu yang kemudian menetapkan tahapan pemungutan suara ketua partai pada 29 September di antara anggota LDP akar rumput dan anggota parlemen. Pemenang pemilihan ketua partai hampir dipastikan menjadi perdana menteri, mengingat LDP memiliki suara mayoritas di majelis rendah parlemen.

Setelah pemilihan ketua LDP, Pemerintah Jepang kemungkinan bakal mengadakan pemilihan umum (pemilu) di semester pertama pada November. Demikian laporan kantor berita Kyodo yang dikutip dari anggota parlemen partai yang berkuasa.

Hasil jajak pendapat Nikkei/TV Tokyo itu sendiri mengikuti dukungan publik kuat yang sejak awal ditunjukkan untuk Kono (58 tahun) menggantikan Suga.

Dukung Netralitas Karbon

Sebelumnya dalam konferensi pers di Tokyo, pada Jumat, Kono menggambarkan dirinya sebagai seorang reformis yang mengambil alih birokrasi Jepang yang kaku. Dia menggarisbawahi pencapaiannya dalam mendobrak hambatan selama peluncuran vaksinasi dan mempromosikan bekerja dari rumah.

Kendati dikenal sebagai kritikus energi nuklir, Kono terdengar lebih berhati-hati saat konferensi pers, dan menolak disebut anti-nuklir. Menurut dia, pembangkit listrik tenaga nuklir yang tidak aktif sejak bencana Fukushima 2011 dapat dimulai kembali guna membantu mencapai tujuan netralitas karbon pada 2050. Namun, dia menambahkan bahwa membangun pabrik baru adalah hal yang tidak realistis.

“Penggunaan tenaga nuklir pada akhirnya akan menjadi nol, tetapi jika kita ingin mencapai netralitas karbon pada 2050, dan berupaya mencegah perubahan iklim maka kita harus menghentikan penggunaan batu bara dan minyak terlebih dahulu, dan akhirnya menjauh dari gas alam. Kita juga perlu menghemat energi, dan kemudian memperkenalkan energi terbarukan secara maksimal sebagai prioritas. Jika masih ada lagi yang perlu dilakukan, saya pikir realistis untuk menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir yang dianggap aman,” demikian penjelasan Kono.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN