Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) Teknisi dan Ekonom Jerman, yang lebih dikenal sebagai pendiri dan ketua eksekutif Forum Ekonomi Dunia Klaus Martin Schwab (dua dari kanan), Istri dan mantan sekretarisnya Hilde, bersama Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, di sela Pertemuan Tahunan WEF, Davos, Swiss, pekan lalu. Foto: IST

Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) Teknisi dan Ekonom Jerman, yang lebih dikenal sebagai pendiri dan ketua eksekutif Forum Ekonomi Dunia Klaus Martin Schwab (dua dari kanan), Istri dan mantan sekretarisnya Hilde, bersama Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, di sela Pertemuan Tahunan WEF, Davos, Swiss, pekan lalu. Foto: IST

WORLD ECONOMIC FORUM BERAKHIR

Korporasi Berkomitmen Kurangi Emisi Karbon

Iwan Subarkah Nurdiawan, Senin, 27 Januari 2020 | 07:41 WIB

DAVOS, investor.id  – Perdebatan panas antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa tentang perubahan iklim, dalam diskusi panel yang mengiringi penutupan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada Jumat (24/1) menggarisbawahi perbedaan tajam dua kekuatan lintas Atlantik dalam menangani krisis iklim. Namun demikian, sudah ada perubahan dari sejumlah korporasi yang memiliki komitmen untuk menuju dunia yang lebih ramah lingkungan dan mengurangi emisi karbon, walau kalangan aktivis menganggap perlu ada pertanggungjawaban terhadap rencana aksi tersebut.

Diskusi panel bertajuk ‘Prospek Ekonomi Global’ menelaah langkahlangkah moneter dan fiskal apa saja yang dibutuhkan untuk memitigasi penurunan ekonomi di 2020. Di dalamnya menyangkut dampak perubahan iklim, menaksir risiko-risiko geopolitik, serta prioritas-prioritas pertumbuhan yang inklusif.

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde berpendapat, sektor finansial dunia harus meninggalkan model proyeksi kuartalan dan jangka menengah. Mulai untuk memikirkan proyeksi 30 tahun ke depan.

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. ( Foto: AFP / Kenzo TRIBOUILLARD )
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. ( Foto: AFP / Kenzo TRIBOUILLARD )

Lagarde menyebut sektor finansial itu mencakup perbankan, akuntan, perusahaan-perusahaan, hingga lembaga-lembaga pemeringkat utang. Menteri Keuangan (Menkeu) AS Steven Mnuchin menjawab bahwa akan ada banyak orang yang memikirkannya.

Tapi menurut dia tidak mungkin untuk memodelkan risiko-risiko apa saja selama 30 tahun ke depan. “Dengan tingkat kepastian, karena sepanjang masa itu teknologi terus berubah,” ujar dia.

Electrek, blog asal AS yang khusus mendokumentasikan transisi transportasi dari bahan bakar fosil ke listrik menyatakan, pihaknya sudah membuat model tentang risiko-risiko itu bahkan untuk periode hingga 50 tahun lalu. Dan menurut Electrek, modelnya akurat.

“Jika kita dapat mendorong perusahaan- perusahaan ke arah (yang mana) mereka mengantisipasi transisi, menentukan harganya, dan memastikan mereka bergerak ke penggunaan yang lebih bersih, itu akan membantu,” kata Lagarde.

Mnuchin membahas bahwa risiko- risiko itu susah diukur dan perkiraan biayanya menjadi terlalu besar. “Jika kita ingin memajaki orang, ya lakukan saja dan kenakan pajak karbon. Tapi itu pajak atas orang-orang yang sudah bekerja keras,” kata dia.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin saat menghadiri pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada 21 Januari 2020. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin saat menghadiri pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada 21 Januari 2020. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Electrek mencatat bahwa para ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) sudah mempelajari hal ini. Hasilnya adalah bahwa pajak karbon dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi global hingga 2%. “Yang berarti (pada akhirnya) juga akan menguntungkan para pekerja keras,” kata Electrek.

Tapi Mnuchin sekali lagi menepis dampak finansial dari perubahan iklim. Ia juga mengajak para pihak untuk tidak menyebutnya perubahan iklim, tapi isu lingkungan. Mnuchin menambahkan, teknologi akan memberikan solusi untuk mengurangi emisi karbon. Selain itu, biaya-biaya aksinya akan terus menurun dalam tempo 10 tahun.

“Isu-isu lingkungan memang berdampak terhadap ekonomi, tapi ini hanya salah satu dari banyak isu penting,” tandas dia.

Mnuchin menyebut darurat kesehatan dunia saat ini terkait virus korona yang muncul dari Tiongkok. Lalu ambisi nuklir Iran dan kemungkinan harga minyak mentah dunia menembus US$ 120 per barel. Serta perlunya memberdayakan negara- negara miskin.

“Masih sangat banyak orang di dunia berkembang yang belum mendapatkan akses ke listrik. Kita harus menciptakan lingkungan yang akan membuat mereka hidup lebih baik,” tutur dia.

Investasi Besar-besaran

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Steven Mnuchin. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Steven Mnuchin. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Tapi Mnuchin menjadi minoritas dalam diskusi panel yang juga menghadirkan Deputi Direktur Pelaksana IMF Zhu Min, Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda, Menkeu Jerman Olaf Scholz, dan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. Georgieva mengatakan, perlu investasi besar-besaran untuk mengangkat perekonomian dunia dari empat rendah, yaitu produktivitas rendah, pertumbuhan rendah, inflasi rendah, dan suku bunga rendah.

“Kita harus memikirkan kebijakan- kebijakan yang baik bagi perekonomian, baik bagi lingkungan, dan baik bagi masyarakat. Tidak semuanya suram dan muram. Investasi hijau dapat membuka pintu bagi pemanfaatan dana simpanan dunia yang selama ini terparkir,” kata dia.

Menurut Lagarde, perusahaan-perusahaan dapat dibujuk untuk beraksi lebih cepat bila sudah tahu pasti berapa biaya transisi menuju ekonomi rendah karbon dan seberapa besar terpaan mereka terhadap risiko krisis iklim.

Ia mengatakan, menurut industri pemasaran ada tiga hal yang menggugah orang-orang, yakni seks, ketakutan, dan ketamakan.

“Saya tidak mau membahas yang pertama, tapi faktor ketakutannya sudah ada. Lihat saja bencana-bencana yang terjadi di seluruh dunia,” kata dia.

Christine Lagarde. Foto: IST
Christine Lagarde. Foto: IST

Sementara tentang ketamakan, Lagarde menyebut pengumuman belum lama ini dari Larry Fink, direktur eksekutif Blackrock, perusahaan manajer aset terbesar di dunia, yang akan mulai beralih ke investasi yang lebih berkelanjutan.

“Itu adalah indikasi bahwa perusahaan- perusahaan mulai khawatir dengan dampak darurat iklim terhadap pendapatan mereka,” ujar Lagarde.

Scholz mengatakan, keputusan Jerman untuk membayar lebih dari 40 miliar euro kepada wilayah-wilayah tambang batu bara dan perusahaan-perusahaan listrik untuk menutup PLTU batu baranya dapat dibenarkan mengingat besarnya skala ancaman krisis iklim.

“Perubahan iklim sudah terjadi dan akan melukai kita semua. Akan menimbulkan dampak-dampak negative juga terhadap perekonomian,” ujar dia.

Kalangan korporasi dan lembaga keuangan global sudah menunjukkan aksi-aksi dalam menangani dampak iklim terhadap keuangannya. Microsoft sudah mengumumkan akan nol karbon pada 2030. Starbucks juga sudah mengeluarkan inisiatif serupa. Bank Investasi Eropa atau EIB menyatakan mulai akhir tahun depan tidak akan mendanai lagi bahan bakar fosil.

Mark Carney, mantan gubernur Bank of England (BoE) mengingatkan bahwa perusahaan-perusahaan yang mengabaikan perubahan iklim akan bangkrut. McKinsey and Co belum lama ini merilis laporan bahwa dampak sosial ekonomi dari perubahan iklim sangat buruk.

Lalu CEO Goldman Sachs David Solomon meminta biaya karbon keluar pada Desember tahun ini. Lalu Aliansi Korporasi untuk Kendaraan Listrik atau CEVA baru saja diluncurkan, yang mana anggotanya antara lain DHL dan Ikea.

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Founder & Executive Chairman World Economic Forum (WEF) Klaus Schwab. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )
Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Founder & Executive Chairman World Economic Forum (WEF) Klaus Schwab. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Klaus Schwab, pendiri WEF di awal gelaran konferensi yang ke-50 tahun ini mengeluarkan surat. Isinya meminta perusahaan-perusahaan yang hadir untuk berkomitmen mencapai emisi nol gas rumah kaca pada 2050. Tapi, belum diumumkan sudah berapa banyak perusahaan yang menandatangani seruan tersebut.

Tanggung Jawab

Tapi kalangan analis seperti aktivis remaja Greta Thunberg merasa, seruan agar kalangan korporasi dan elite politik serius memerangi perubahan iklim telah benar-benar diabaikan.

“Sebelum datang kami sudah menyampaikan beberapa tuntutan untuk WEF ini. Dan tentu saja diabaikan sepenuhnya. (Tapi) kami juga tidak berharap banyak. Sepanjang ilmu pengetahuan diabaikan, dan faktanya belum dipertimbangkan, dan sepanjang situasinya tidak dianggap sebagai krisis, para pemimpin dunia dan bisnis dapat terus untuk menafikannya,” tutur Thunberg, Jumat, di Davos.

Mereka semua, tambah dia, merasa tidak perlu melakukan apa pun karena tidak dimintai pertanggungjawaban. Aktivis muda lainnya, Luisa Neubauer mengatakan, ia dan kelompoknya berencana memantau janji-janji yang diucapkan para pembicara di Davos dan akan menuntut pertanggungjawabannya.

“Di WEF ini kami melihat dan mendengar banyak kata-kata manis dan banyak pidato besar. Kami berharap dalam beberapa hari dan bulan ke depan, setiap ucapan itu berubah menjadi aksi nyata,” kata dia. (afp/berbagai sumber)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN