Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja dari perusahaan listrik China Southern Power Grid memanjat menara transmisi untuk memeriksa kabel-kabel listrik di Dongguan, provinsi Guangdong, Tiongkok. Puluhan juta penduduk di seluruh Tiongkok menghadapi kekurangan pasokan listrik. ( Foto: Reuters )

Pekerja dari perusahaan listrik China Southern Power Grid memanjat menara transmisi untuk memeriksa kabel-kabel listrik di Dongguan, provinsi Guangdong, Tiongkok. Puluhan juta penduduk di seluruh Tiongkok menghadapi kekurangan pasokan listrik. ( Foto: Reuters )

Kota-kota Besar di Tiongkok Gelap Gulita

Rabu, 6 Januari 2021 | 06:46 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Beberapa kota besar di Tiongkok dilaporkan dalam keadaan gelap gulita karena otoritas setempat membatasi penggunaan listrik. Pembatasan diperlukan menyusul menipisnya persediaan batubara. Menurut para analis, harga komoditas batubara di negara itu telah melonjak dan terkait ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Australia.

Beberapa analis pun mengaitkan soal kekurangan persediaan batubara dan pemadaman listrik dengan larangan tidak resmi atas batubara Australia. Hubungan kedua negara itu memburuk pada tahun lalu, setelah Australia mendukung penyelidikan internasional terhadap penanganan pandemi virus corona Covid-19 di Tiongkok.

Alhasil, batubara dimasukkan ke dalam salah satu daftar barang impor Australia yang dilarang Tiongkok, sebagai akibat dari perselisihan yang semakin meningkat. Tahun lalu, Tiongkok memberi tahu pembangkit-pembangkit listriknya untuk membatasi jumlah impor batu bara dari negara lain guna membatasi harga.

Namun, Tiongkok dilaporkan telah mencabut pembatasan tersebut, dan masih mempertahankan pembatasan impor batu bara dari Australia. Tiongkok juga dilaporkan menyampaikan pemberitahuan secara lisan kepada perusahaan-perusahaan listrik pelat merah dan pabrik-pabrik baja untuk berhenti mengimpor batu bara Australia. Padahal Tiongkok adalah konsumen batubara terbesar di dunia, dan sumber impor batubara terbesarnya adalah Australia.

Batubara masih menjadi sumber energi yang diandalkan oleh Tiongkok, walau pun telah berkomitmen pada rencana energi terbarukan. Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu merupakan pembeli terbesar kedua batubara termal Australia, yakni jenis batubara yang digunakan untuk menghasilkan listrik.

Penyebab Pemadaman

Di sisi lain, harga batubara di Tiongkok telah melonjak sebagai akibat dari kekurangan pasokan. Bahkan, perusahaan riset Wood Mackenzie memperkirakan harga batubara tetap tinggi selama puncak permintaan pada musim dingin.

“Pasar batu bara termal Tiongkok berada dalam kekacauan. Harganya meroket setelah rilis indeks harga harian ditangguhkan pada 3 Desember,” demikian disampaikan firma riset Wood Mackenzie, yang dikutip CNBC pada Senin (4/1).

Laporan itu mengatakan, penjatahan pasokan listrik telah dimulai di provinsi Hunan dan Zhejiang karena persediaan batubara yang menipis, serta minimnya ruang untuk peningkatan produksi dari para produsen Tiongkok.

Kekhawatiran penduduk Tiongkok tentang ketersediaan listrik pun melonjak pada Desember. Sebuah artikel daring mencantumkan jadwal pemadaman bergilir dari perusahaan listrik Shanghai State Grid untuk berbagai bagian daerah di Shanghai pada 22 Desember. Wilayah lain juga telah mengalami pembatasan penggunaan listrik.

Laporan yang disampaikan surat kabar South China Morning Post pekan lalu menyebutkan jika beberapa kota, terutama di Tiongkok selatan, telah memberlakukan batasan penggunaan listrik off-peak untuk pabrik-pabrik sejak pertengahan Desember.

“Di pusat teknologi Shenzhen, telah terjadi pemadaman listrik selama seminggu di berbagai daerah,” demikian bunyi laporan.

Namun, tidak diketahui secara jelas apakah pemadaman listrik tersebut benar-benar terjadi, atau sampai sejauh mana. Menurut ekonom senior Marcel Thieliant dari Capital Economics, pemadaman listrik itu menggarisbawahi bahwa Tiongkok bersedia berusaha keras untuk merugikan Australia.

Di sisi lain, otoritas Tiongkok tidak mengaitkan masalah pemadaman listrik dengan ketegangan Australia atau pembatasan batu bara. Sebaliknya, mereka mengaitkan pembatasan penggunaan daya dengan tingginya angka permintaan dan pemeliharaan rutin.

Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional mengatakan, Tiongkok telah menggunakan listrik 11% lebih banyak pada Desember ini daripada tahun lalu. Menurut Komisi, pemulihan ekonomi yang cepat, cuaca musim dingin dan pasokan terbatas telah mendorong beberapa daerah untuk membatasi penggunaan listrik.

Sedangkan data dari Commonwealth Bank of Australia menunjukkan, volume impor batu bara Tiongkok pada November 2020 turun 44% dibandingkan tahun lalu. Seiring suhu yang tetap rendah, pihak Komisi memperkirakan permintaan listrik nasional akan meningkat.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN