Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo World Economic Forum (WEF) terpampang di pusat Kongres menjelang pertemuan tahunan WEF di Davos, Swiss, pada 19 Januari 2020. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Logo World Economic Forum (WEF) terpampang di pusat Kongres menjelang pertemuan tahunan WEF di Davos, Swiss, pada 19 Januari 2020. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Krisis Iklim Ancam Lebih dari Separuh PDB Dunia

Senin, 20 Januari 2020 | 07:30 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

DAVOS, investor.id – Krisis iklim seperti hilangnya alam liar mengancam lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) dunia. Laporan ini disampaikan World Economic Forum (WEF), yang studinya berkolaborasi dengan PricewaterhouseCoopers (PwC) Inggris dan dirilis Minggu (19/1).

Hasil studi itu keluar setelah 2019 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah bagi lautan di seluruh dunia. Juga tahun terpanas kedua untuk rata-rata suhu udara global. Dan kebakaran hutan serta lahan yang melalap banyak wilayah di Amerika Serikat (AS), Hutan Amazon, dan Australia.

“Sebanyak US$ 44 triliun atau lebih dari separuh PDB dunia dari kegiatan ekonomi cukup atau sangat bergantung pada alam dan segala yang diberikannya. Oleh karena itu terancam jika alamnya musnah,” bunyi laporan tersebut.

Pertemuan tahunan WEF di Davos, Swiss tahun ini dijadwalkan berlangsung 21-24 Januari 2020. Para pemimpin negara dan bisnis dari seluruh dunia – selain keseluruhan peserta yang diperkirakan mencapai 3.000 orang - dijadwalkan tiba di kota resor ski tersebut hari ini, Senin (19/1). Di antara pokok pembahasan tahun ini adalah krisis iklim yang semakin membara di dunia.

Sektor konstruksi dunia, yang bernilai US$ 4 triliun, lalu pertanian (US$ 2,5 triliun), serta makanan minuman (US$ 1,4 triliun) menjadi tiga besar industri yang paling bergantung pada alam.

Total nilai perekonomian tiga industri tersebut ditaksir mencapai dua kali lipat perekonomian Jerman. Ketiganya, tambah studi tersebut, bergantung pada pengambilan langsung sumber daya alam dari hutan serta lautan. Ataupun dari ekosistem alam seperti tanah yang subur, air bersih, penyerbukan, serta iklim yang stabil.

Dengan demikian, pada saat kemampuan alam untuk menyediakan manfaatnya semakin berkurang, industri-industri tersebut bakal terdampak sangat besar.

Pemandangan bagian hutan hujan Amazon yang terbakar, di dekat Porto Velho, Negara bagan Rondonia, Brasil pada 26 Agustus. AFP / CARL DE SOUZA
Pemandangan bagian hutan hujan Amazon yang terbakar, di dekat Porto Velho, Negara bagan Rondonia, Brasil pada 26 Agustus. AFP / CARL DE SOUZA

Industri-industri yang sangat bergantung pada alam menghasilkan 15% dari PDB global atau sebesar US$ 13 triliun. Sedangkan industri-industri yang cukup bergantung pada alam sebesar 37% atau US$ 31 triliun.

“Kita harus mengatur ulang hubungan antara manusia dan alam. Kerusakan alam akibat kegiatan ekonomi tidak lagi dapat dianggap sebagai faktor eksternal. Laporan ini menunjukkan hilangnya alam nyata bagi seluruh sektor bisnis dan menjadi risiko besar serta luar biasa bagi ketahanan kolektif ekonomi di masa depan,” tutur Dominic Waughray, direktur pelaksana WEF, dalam laporan tersebut.

Tema besar WEF ke-50 tahun ini adalah Para Pemangku Kepentingan bagi Dunia yang Kohesif dan Berkelanjutan. Setiap tahunnya, WEF dikritik karena tidak bersentuhan dengan dunia nyata.

WEF mengaku ingin membantu pemerintah dan lembaga-lembaga internasional dalam memantau kemajuan terhadap pemenuhan Pakta Paris dan Sasaran-Sasaran Pembangunan Berkelanjutan yang di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

PBB sudah mengakui perubahan iklim sebagai isu yang akan menentukan nasib umat manusia ke depan. Laporan terbarunya menyebut krisis iklim sebagai tantangan terbesar bagi pembangunan yang berkelanjutan.

“Hal utama yang ditunjukkan laporan ini adalah bahwa kita semua dalam kesulitan. Para pemimpin bisnis maupun pemerintah masih punya waktu untuk beraksi terhadap temuan-temuan Laporan Baru Ekonomi Alam. Jika kita bekerja sama, COP15 dan COP26 dapat menghasilkan komitmen yang dibutuhkan untuk memindahkan planet ini dari ruang gawat darurat ke pemulihan,” ujar CEO Unilever Alan Jope. (afp/sn)

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN