Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor pusat Evergrande di Shenzhen, Tiongkok tenggara pada 14 September 2021.  ( Foto: NOEL CELIS / AFP )

Kantor pusat Evergrande di Shenzhen, Tiongkok tenggara pada 14 September 2021. ( Foto: NOEL CELIS / AFP )

Krisis Raksasa Properti Evergrande: Terlalu Banyak Berutang dan Masalah Tata Kelola

Kamis, 16 September 2021 | 06:00 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Kalangan analis berpendapat bahwa raksasa properti Tiongkok Evergrande telah melakukan dua kesalahan besar yang menyebabkannya mengalami krisis utang dan membuat para investor sangat cemas.

Kesalahan besar pertama, adalah Evergrande yang kini kekurangan uang, sudah terlalu banyak meminjam uang. Bahkan Evergrande adalah pengembang properti paling banyak berutang di dunia.

Kewajiban bayarnya sekarang mencapai lebih lebih dari US$ 300 miliar. Kondisi ini turut menimbulkan kepanikan di antara para pembeli properti, para pemegang obligasi, dan kontraktornya.

Sementara kesalahan besar kedua adalah tata kelola Evergrande yang menimbulkan pertanyaan. “Jadi ketika Anda memiliki keduanya bersama-sama, itu ibarat memiliki hutan yang benar-benar kering dengan bahan yang mudah terbakar,” ujar kepala pendapatan tetap Matthews Asia, Teresa Kong , yang juga seorang manajer portofolio, seperti dikutip CNBC pada Rabu (15/9).

Masalah yang melanda Evergrande dikabarkan terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, Evergrande Real Estate Group yang berkantor pusat di Shenzhen,Tiongkok telah mengingatkan para investor sebanyak dua kali dalam beberapa pekan, bahwa perusahaan dapat gagal bayar utang.

Menurut Evergrande risiko gagal bayarnya bisa meluas (cross default), yang berarti risikonya dapat melebar ke sektor-sektor terkait lain.

Pada Selasa (14/9), Evergrande mengatakan bahwa angka penjualan propertinya akan terus memburuk secara signifikan bulan ini, dan bakal memperparah penurunan arus kas yang parah.

“Perusahaan telah berjuang untuk mengumpulkan uang dengan mencoba menjual berbagai aset, tetapi itu belum menghasilkan penjualan,” ungkapnya.

Langkah terbaru yang diambil adalah Evergrande menawarkan properti dan tempat parkir, alih-alih membayar tunai utangnya. Namun tawaran tersebut ditolak oleh investor.

Aksi protes terhadap Evergrande pun telah menyebar ke lebih banyak kota di Tiongkok pada Rabu. Belasan pengunjuk rasa kembali lagi untuk hari ketiga berturut-turut ke kantor Evergrande di Shenzhen selatan, di mana perusahaan tersebut mulai menapaki tangga sukses pada 1996 dan menjadi konglomerat besar yang mewujudkan impian kepemilikan rumah di kalangan kelas menengah Tiongkok.

“Evergrande, kembalikan uang kami,” demikian teriakan pemrotes yang mendapat pengadanga oleh polisi yang sangat banyak, tapi menolak untuk bubar.

Aksi demonstrasi semakin diperburuk setelah upaya nyata Evergrande kemarin malam yang janji membayar utang dengan tawaran properti, tempat parkir dan unit komersial. “Mereka menawari kami (kepemilikan) toko, taman kanak-kanak dan unit parkir. Tapi kami tidak bisa menggunakannya. Tak satu pun dari kami setuju dengan ini,” tutur seorang wanita bernama Wang, yang dikutip AFP.

Dia menambahkan perusahaan keuangannya di pusat kota Chongqing benar-benar tidak berfungsi akibat hutang yang belum dibayar dari pengembang.

Menurut para ahli, pengembang Evergrande yang terdaftar di bursa Hong Kong memiliki lebih dari satu juta unit yang sudah dibayar di muka oleh pembeli, namun belum dibangun. Hal ini menambah rasa takut di antara investor Tiongkok, mengingat banyak dari mereka adalah pembeli baru yang pertama kali mencoba masuk pasar properti.

Efek Menular

Dalam hal penjualan, Evergrande adalah perusahaan properti terbesar kedua di Tiongkok. Para analis sendiri telah memantau kemungkinan penularan yang lebih luas di sektor real estat, dan risiko sistemik keuangan yang lebih besar di Negeri Tirai Bambu itu.

Kong mengingatkan, bahwa ada banyak pengaruh dalam sistem. “Itu sebabnya sangat penting untuk memastikan bahwa likuiditas terus berlanjut, dan kepercayaan terus adaYang terakhir, tentu saja untuk memastikan tidak ada lagi kerusuhan sosial karena Evergrande memang memiliki jangkauan yang sangat dalam,” ujar dia kepada CNBC.

Menurut situs laman perusahaan, Evergrande memiliki lebih dari 1.300 proyek real estat di lebih dari 280 kota di Tiongkok.

“Jadi, kemampuan mereka untuk menyerahkan properti sudah habis, dan jika itu dipangkas, kita sebenarnya bisa melihat beberapa masalah lagi,” tambah Kong.

Di sisi lain, dikatakan oleh Kong bahwa para investor asing yang memegang obligasi Evergrande dipastikan sangat cemas. Pasalnya, pemerintah sudah pasti bertujuan menjaga stabilitas sosial, dan itu berarti mengutamakan para pembeli rumah.

“Hal pertama yang ingin Anda lakukan adalah memberikan kepercayaan yang cukup, menyediakan likuiditas, sehingga mereka dapat menyelesaikan rumah-rumah itu, kepada masyarakat yang telah membayar uang muka,” kata Kong.

Para ibu dan dan investor-investor dadakan mungkin akan menjadi prioritas kedua – mengacu pada investor ritel yang kurang berpengalaman.

“Sedangkan investor luar negeri, lihat saja, mereka adalah para investor institusional yang sebenarnya harus memahami risiko ini. Jadi saya pikir kebanyakan investor ini harus melihat beberapa jenis amandemen dan perpanjangan, yang berarti bahwa mereka mungkin harus memotong pokok mereka atau, melihat kupon mereka dibayar di kemudian hari,” tutur Kong.

Sebagai informasi, kupon adalah bunga tahunan yang dibayarkan untuk obligasi. Menurut data Refinitiv Eikon, Evergrande memiliki enam obligasi yang jatuh tempo pada tahun depan, dan 10 obligasi pada 2023 dari total 24 obligasi yang telah diterbitkan. Obligasinya juga termasuk dalam berbagai indeks imbal hasil tinggi Asia. Tahun ini saja saham Evergrande telah anjlok hampir 80%, begitu juga dengan obligasinya yang turun.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN