Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera nasional Amerika Serikat (AS) dan Taiwan. ( Foto: EPA )

Bendera nasional Amerika Serikat (AS) dan Taiwan. ( Foto: EPA )

KTT Demokrasi Biden Tuai Kemarahan Tiongkok, Rusia

Kamis, 25 November 2021 | 06:58 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id – Pemerintah Tiongkok dan Rusia bereaksi marah terhadap konferensi tingkat tinggi (KTT) demokrasi yang direncanakan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Tiongkok marah atas undangan AS untuk Taiwan, sementara Rusia menilai AS memecah belah negara-negara.

Konferensi global tersebut adalah janji kampanye oleh presiden AS. Biden menempatkan perjuangan antara demokrasi dan yang disebutnya pemerintahan otokratis di jantung kebijakan luar negerinya.

Pemerintah Taiwan yang diundang ke dalam KTT, dan bukan Tiongkok, menulai teguran kemarahan dari Tiongkok. Pihaknya mengatakan sangat menentang undangan untuk apa yang disebut KTT untuk Demokrasi.

Pemerintah Tiongkok mengklaim Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai bagian dari wilayahnya, untuk direbut kembali suatu hari nanti, jika perlu dengan cara paksa.

Sekitar 110 negara telah diundang ke KTT virtual tersebut, termasuk negara-negara sekutu utama AS bahkan Irak, India, dan Pakistan.

Tetapi pemerintah Rusia mengkritik daftar tamu KTT, yang dirilis Selasa (23/11) di situs Departemen Luar Negeri AS. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa AS lebih suka membuat garis pemisah baru. "Untuk membagi negara menjadi negara-negara yang menurut pendapat mereka adalah baik, dan yang buruk," katanya, Rabu (24/11).

"Semakin banyak negara memilih untuk memutuskan sendiri bagaimana cara hidup. Itu tidak bisa dan tidak boleh dilakukan," kata Juru bicara Rusia Dmitry Peskov kepada AFP.

Ia menambahkan bahwa pemerintah AS sedang mencoba untuk memprivatisasi istilah demokrasi.

Kudeta Diplomatik

Undangan tersebut merupakan kudeta besar bagi pemerintah Taiwan, pada saat Tiongkok meningkatkan kampanyenya untuk tetap mengunci Taiwan dari badan-badan internasional.

Sementara itu otoritas Taiwan mengatakan pertemuan itu akan menjadi kesempatan langka untuk memoles kepercayaan di panggung dunia.

"Melalui KTT ini, Taiwan dapat berbagi kisah sukses demokrasinya," ujar juru bicara kantor kepresidenan Taiwan Chang Xavier.

Hanya 15 negara yang secara resmi mengakui Taiwan di luar Tiongkok, meskipun banyak negara mempertahankan hubungan diplomatik secara de facto dengan pulau itu.

Pemerintah AS tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka, tetapi mempertahankannya sebagai sekutu regional yang penting dan menentang setiap perubahan status Taiwan secara paksa.

Pemerintah Tiongkok menolak setiap penggunaan kata "Taiwan" atau isyarat diplomatik yang mungkin memberi kesan legitimasi internasional untuk pulau itu.

 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN