Menu
Sign in
@ Contact
Search
Sebuah foto menunjukkan logo perusahaan minyak dan gas multinasional Inggris, Shell, di sebuah stasiun minyak dan gas di Berlin, Jerman, beberapa waktu lalu. (FOTO: ASTRID VELLGUTH / AFP)

Sebuah foto menunjukkan logo perusahaan minyak dan gas multinasional Inggris, Shell, di sebuah stasiun minyak dan gas di Berlin, Jerman, beberapa waktu lalu. (FOTO: ASTRID VELLGUTH / AFP)

Laba Shell Meroket, Perusahaan Buyback Saham Besar-Besaran

Kamis, 28 Juli 2022 | 17:22 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

LONDON, investor.id – Raksasa energi Inggris Shell mengatakan pada Kamis (28/7) bahwa laba bersihnya melonjak lebih dari lima kali lipat menjadi US$ 18 miliar pada kuartal II-2022. Peningkatan didorong oleh harga minyak dan gas yang bangkit kembali. Perusahaan juga mengumumkan pemberian penghargaan kepada pemegang saham dengan pembelian kembali (buyback) saham besar-besaran.

Lonjakan laba dalam tiga bulan hingga Juni 2022 sebagian disebabkan oleh pembalikan kerugian sebesar US$ 4,3 miliar, setelah perusahaan menaikkan perkiraannya untuk pasar gas dan minyak.

“Kami memberikan hasil keuangan yang kuat,” kata CEO Shell Ben van Beurden bersamaan dengan pengumuman laporan pendapatan, Kamis.

Baca juga: Laba TotalEnergies Naik Dua Kali Lipat karena Harga Minyak

Perusahaan energi besar yang terdaftar di London mengumumkan program buyback saham senilai US$ 6 miliar, setelah mengembalikan US$ 8,5 miliar kepada pemegang saham.

Sederhananya, buyback adalah investasi saham yang dilakukan emiten dengan cara membeli saham-saham yang beredar di bursa. Kepemilikan terhadap publik mengecil, tetapi likuiditas perusahaan terjaga.

“(Dengan pasar energi yang bergejolak, turbulensi ekonomi, dan kebutuhan berkelanjutan akan tindakan untuk mengatasi perubahan iklim, 2022 terus menghadirkan tantangan bagi konsumen, pemerintah, dan perusahaan,” lanjut Van Beurden.

Shell telah pulih kembali menjadi laba US$ 3,4 miliar pada kuartal II-2021 dari kerugian US$ 18,1 miliar pada periode yang sama 2020, ketika mengambil biaya penurunan nilai besar-besaran di pasar minyak yang dilanda Covid-19.

Namun, harga minyak dan gas melonjak tahun ini karena perang di Ukraina dan setelah negara-negara mencabut lockdown pandemi.

Harga gas meroket pada Maret 2022 setelah pemerintah Rusia meluncurkan serangan ke Ukraina. Harganya sekali lagi naik minggu ini, setelah Rusia membatasi pengiriman penting gas ke Eropa dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga: Presiden Korsel Perketat Pengawasan Short Selling Saham

Perusahaan-perusahaan besar energi dunia menuai keuntungan dari lonjakan harga minyak dan gas global tahun ini sebagai akibat dari perang di Ukraina.

TotalEnergies Prancis mengatakan pada Kamis bahwa laba bersih naik lebih dari dua kali lipat pada kuartal kedua menjadi 5,7 miliar euro (US$ 5,8 miliar) dari tahun sebelumnya.

“Sektor energi terus naik tinggi karena ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang disebabkan oleh krisis di Ukraina,” kata analis ekuitas Hargreaves Lansdown Laura Hoy.

Sementara itu, perang di Ukraina telah memicu eksodus perusahaan energi Barat dari Rusia.

Awal tahun ini, Shell mencatat laba kuartal pertama sebesar US$ 7,1 miliar, meskipun mengambil biaya US$ 3,9 miliar atas penarikannya dari aktivitas di Rusia.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com