Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tumpukan kontainer pengiriman terlihat di dermaga PortMiami, di Miami, Florida, Amerika Serikat (AS) pada pada 29 April 2020. ( Foto: Joe Raedle / Getty Images / AFP )

Tumpukan kontainer pengiriman terlihat di dermaga PortMiami, di Miami, Florida, Amerika Serikat (AS) pada pada 29 April 2020. ( Foto: Joe Raedle / Getty Images / AFP )

Laju Inflasi AS Naik Lagi

Sabtu, 26 Juni 2021 | 05:53 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Harga-harga di Amerika Serikat (AS) naik 3,9% pada Mei 2021 dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan itu terkait dibukanya kembali perekonomian setelah vaksinasi Covid-19 meluas.

Departemen Perdagangan (Depdag) AS dalam laporannya Jumat (25/6) menyampaikan, laju inflasi belanja konsumsi pribadi Mei 2021 disumbang oleh kenaikan 27,4% harga energi dan 0,4% kenaikan harga pangan.

Data itu juga menunjukkan bahwa konsumen AS masih menahan diri untuk belanja barang-barang mahal dan makan di restoran. Begitu pula dengan menginap di hotel dan berwisata.

Sehingga belanja konsumen secara keseluruhan pada bulan tersebut mencapai US$ 2,9 miliar. Pencapaian tersebut di bawah ekspektasi dan nyaris tidak berubah dari data bulan sebelumnya.

Sementara itu, pendapatan pribadi turun 2%. Data ini juga di bawah ekspektasi, yang disebabkan oleh habisnya stimulus tunai dari pemerintah yang disetujui pada Maret 2021.

Gregory Daco dari Oxford Economics menyatakan, data inflasi tersebut mengindikasikan bahwa konsumen AS akan terus mengeluarkan uang untuk belanja. Karena menurunya tingkat infeksi Covid-19 membuat kehidupan berangsur normal kembali.

“Fundamental yang kuat terus menjadi pendorong belanja konsumen, termasuk membaiknya situasi kesehatan, kondisi keuangan rumah tangga, bertambahnya penyerapan lapangan kerja, naiknya upah, dan bertambahnya simpanan. Kami perkirakan belanja konsumen tumbuh sekitar 9% tahun ini, yang bakalan menjadi yang terkuat sejak 1946,” tutur Daco, yang dikutip AFP.

Kalangan ekonom dan pasar finansial AS terus mencermati data inflasi ini, karena data ini juga yang tolok ukur The Federal Reserve (The Fed) untuk mengukur inflasi.

Kenaikan laju inflasi yang seiring pembukaan kembali aktivitas perekonomian itu sudah memunculkan perdebatan. Tentang apakah bank sentral AS tersebut akan lebih cepat menaikkan suku bunga acuan dan mengurangi stimulus moneternya.

Sementara itu, pasar saham AS dibuka menguat pada awal perdagangan Jumat, karena kenaikan inflasi tidak berpengaruh terhadap sentimen para investor.

Tapi menurut Patrick J O'Hare dari Briefing.com, data inflasi Mei itu sudah berada atau mendekati inflasi puncak. Yang artinya para pelaku pasar memperkirakan kabar inflasi dalam bulan-bulan mendatang akan lebih baik.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN