Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pelanggan sedang melihat-lihat buah dan sayuran di kios penjual sayur, di pasar Kirkgate di Leeds, Inggris utara.,  Foto ilustrasi: Oli Scarff / AFP

Pelanggan sedang melihat-lihat buah dan sayuran di kios penjual sayur, di pasar Kirkgate di Leeds, Inggris utara., Foto ilustrasi: Oli Scarff / AFP

EKONOMI INGGRIS

Laju Inflasi Terus Melejit, Biaya Hidup bakal Mengimpit

Kamis, 20 Januari 2022 | 12:01 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Data resmi yang dirilis pada Rabu (19/1) menunjukkan laju inflasi tahunan di Inggris mendekati level tertinggi dalam 30 tahun pada Desember tahun lalu. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa biaya hidup bakal mencekik masyarakat karena tidak terimbangi oleh kenaikan upah.

Seperti diketahui, kondisi perekonomian di seluruh dunia sedang berjuang melawan laju inflasi tinggi selama beberapa dekade dan memaksa bank-bank sentral untuk menaikkan suku bunga.

Ini termasuk Bank of England (BoE) yang pada bulan lalu menaikkan acuan biaya pinjaman untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Dalam pernyataan yang dikeluarkan Kantor Statistik Nasional atau Office for National Statistics (ONS), tingkat inflasi Inggris pada bulan lalu mencapai 5,4% atau naik lebih jauh di atas target kenaikan harga untuk pakaian, energi domestik, makanan dan furnitur,

Bank sentral Inggris – yang memiliki tugas utama menjaga inflasi mendekati target 2,0% - kini diprediksi kembali menaikkan inflasi pada pertemuan Februari, di tengah meredanya kekhawatiran atas dampak ekonomi yang ditimbulkan virus corona Covid- 19 varian Omicron.

Sementara itu, nilai tukar matauang poundsterling Rabu mencapai puncaknya dalam 22 bulan, di tengah meningkatnya harapan akan kenaikan suku bunga lainnya. Menteri Keuangan Rishi Sunak sendiri berkeras bahwa Pemerintah konservatif Inggris memahami tekanan biaya hidup yang dirasakan masyarakat. Namun, oposisi besarnya, Partai Buruh berpendapat banyak keluarga yang akan diguncang oleh kenaikan pajak substansial dan kenaikan besar dalam tagihan energi.

Impitan Biaya Hidup

Menurut para analis, biaya hidup di Inggris diperkirakan melambung lebih tinggi pada April akibat kenaikan pajak dan rencana kenaikan tagihan energy domestik lebih lanjut. Sedangkan asuransi nasional, yang dibayarkan oleh para pekerja dan perusahaan, sedang dicabut guna membantu mendanai tunjangan perawatan sosial bagi kaum lanjut usia. Para analis juga memperkirakan kenaikan pajak yang lebih merugikan untuk membayarkan besarnya tagihan biaya terkait Covid.

Selain itu, harga listrik dan gas akan meroket lebih tinggi saat Pemerintah Inggris segera menaikkan batas tagihan energi di tengah biaya grosir yang memecahkan rekor.

“Dengan naiknya harga konsumen pada tingkat tercepat selama tiga dekade dan pertumbuhan upah yang melambat, warga Inggris semakin tertekan oleh biaya hidup,” ujar Jay Mawji, kepala penyedia perdagangan IX Prime, yang dilansir AFP. Tercatat bahwa tingkat inflasi tahunan Inggris terakhir lebih tinggi pada Maret 1992, ketika mencapai 7,1%. Angka tersebut telah mencapai level tertinggi satu dekade di 5,1% pada November.

“Tingkat inflasi naik lagi pada akhir tahun dan belum pernah lebih tinggi selama hampir 30 tahun. Harga pangan kembali tumbuh kuat, sementara itu kenaikan furnitur dan pakaian juga mendorong inflasi tahunan,” kata Kepala Ekonom ONS, Grant Fitzner.

Dia menambahkan, para konsumen dan pelaku bisnis yang berjuang dengan keadaan biaya melonjak, juga dilanda gejolak pandemi yang sedang berlangsung dan masalah rantai pasokan.

Data resmi Selasa juga menunjukkan bahwa pada saat yang sama, upah riil pada November mengalami penurunan di tahun tersebut untuk pertama kalinya, sejak pertengahan 2020 menyusul lonjakan inflasi.

Tidak Terhindarkan

“Lebih banyak derita yang terbentang di depan dalam bentuk kenaikan pajak pada April dan kemungkinan lonjakan tagihan energi sebesar 50%,” tambah Mawji.

BoE sendiri telah menaikkan biaya pinjaman utamanya dari level rekor terendah 0,1% menjadi 0,25% pada Desember, karena berusaha memerangi inflasi. Namun Ekonom Capital Economics, Paul Dales memperkirakan BoE akan menaikkan tingkat suku bunga pada bulan depan menjadi 0,5%.

Menanggapi hal itu, pialang saham Marc Kimsey, di pialang saham Frederick & Oliver, menyatakan setuju bahwa kenaikan suku bunga Februari sekarang tidak terhindarkan. Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey pun telah siap ditanyai soal inflasi yang meroket di komite parlemen Rabu malam waktu setempat. (afp)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN