Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja memindahkan buah sawit yang dipanen ke truk pengangkut sebelum diolah menjadi minyak sawit mentah (CPO) di perkebunan sawit di Pekanbaru pada 23 April 2022. (FOTO: WAHYUDI / AFP)

Pekerja memindahkan buah sawit yang dipanen ke truk pengangkut sebelum diolah menjadi minyak sawit mentah (CPO) di perkebunan sawit di Pekanbaru pada 23 April 2022. (FOTO: WAHYUDI / AFP)

Larangan Ekspor Minyak Sawit Bikin Importir Global Tanpa Rencana B

Selasa, 26 April 2022 | 16:53 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

MUMBAI, investor.id – Konsumen minyak nabati global tidak memiliki pilihan selain membayar mahal untuk pasokan, setelah larangan ekspor minyak sawit Indonesia yang mengejutkan memaksa pembeli tanpa rencana B untuk mencari alternatif. Sementara itu, pasar global kekurangan pasokan karena cuaca buruk dan serangan Rusia ke Ukraina.

Langkah produsen minyak sawit terbesar dunia untuk melarang ekspor mulai Kamis (28/4) akan mengangkat harga semua minyak nabati utama, termasuk minyak sawit, minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak lobak, menurut prediksi pengamat industri.

Itu akan memberikan tekanan ekstra pada konsumen yang sensitif terhadap harga-harga di Asia dan Afrika yang terkena dampak harga bahan bakar dan makanan yang lebih tinggi.

Baca juga: Daripada Larang Ekspor CPO dan Migor, Ekonom Sarankan Pemerintah Lakukan Ini

“Keputusan Indonesia tidak hanya memengaruhi ketersediaan minyak sawit, tetapi juga minyak nabati di seluruh dunia,” kata James Fry, ketua konsultan komoditas LMC International, kepada Reuters, Selasa.

Minyak kelapa sawit digunakan dalam segala hal, mulai dari pembuatan kue, menggoreng, hingga kosmetik, dan produk pembersih. Komoditas ini menyumbang hampir 60% dari pengiriman minyak nabati global.

Indonesia sebagai produsen utama menyumbang sekitar sepertiga dari semua ekspor minyak nabati. Sementara pemerintah mengumumkan larangan ekspor pada 22 April 2022 hingga pemberitahuan lebih lanjut, sebagai langkah mengatasi kenaikan harga di dalam negeri.

“Ini terjadi ketika tonase ekspor semua minyak utama lainnya berada di bawah tekanan. Minyak kedelai karena kekeringan di Amerika Selatan, minyak lobak karena panen kanola yang rusak di Kanada, dan minyak bunga matahari karena perang Rusia di Ukraina,” jelas Fry.

Harga minyak nabati telah meningkat lebih dari 50% dalam enam bulan terakhir, karena faktor dari kekurangan tenaga kerja di Malaysia hingga kekeringan di Argentina dan Kanada membatasi pasokan. Masing-masing adalah pengekspor minyak kedelai dan minyak kanola terbesar.

Pembeli berharap panen bunga matahari dari eksportir utama Ukraina akan mengurai benang kusut, tetapi pasokan dari Kyiv berhenti karena apa yang disebut pemerintah Rusia sebagai operasi khusus di negara itu.

Hal ini telah mendorong importir untuk mengandalkan minyak kelapa sawit untuk dapat menutup kesenjangan pasokan. Namun larangan mengejutkan pemerintah Indonesia memberikan kejutan ganda kepada pembeli, kata presiden badan perdagangan Solvent Extractors Association of India (SEA) Atul Chaturvedi.

Tidak Ada Alternatif

Importir seperti India, Bangladesh, dan Pakistan akan mencoba meningkatkan pembelian minyak sawit dari Malaysia. Tetapi produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia itu tidak dapat mengisi celah yang sebelumnya diisi Indonesia, kata Chaturvedi.

Indonesia biasanya memasok hampir setengah dari total impor minyak sawit India. Sementara Pakistan dan Bangladesh mengimpor hampir 80% minyak sawit dari Indonesia.

“Tidak ada yang bisa mengompensasi hilangnya minyak sawit Indonesia. Setiap negara akan menderita,” kata Rasheed JanMohd, ketua Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA).

Pada Februari 2022, harga minyak nabati melonjak ke rekor tertinggi karena pasokan minyak bunga matahari terganggu dari wilayah Laut Hitam.

Baca juga: Update Perang di Ukraina: AS Inisiasi KTT Barat untuk Bantuan hingga Ancaman Perang Dunia III Rusia

Kenaikan harga meningkatkan kebutuhan modal kerja untuk penyulingan minyak, yang memegang persediaan lebih rendah dari biasanya untuk mengantisipasi penurunan harga, kata seorang dealer yang berbasis di Mumbai dengan perusahaan perdagangan global.

Sebaliknya, semua harga minyak sudah reli lanjutan.

“Penyuling (refiner) terjebak pada langkah yang salah. Sekarang mereka tidak bisa menunggu selama beberapa minggu. Mereka harus melakukan pembelian untuk menjalankan pabrik,” kata dealer.

Pemerintah Indonesia telah mengizinkan pemuatan hingga 28 April 2022, sehingga negara-negara konsumen akan memiliki cukup pasokan untuk paruh pertama Mei 2022. Tetapi importir dapat menghadapi kekurangan mulai paruh kedua tahun ini, kata refiner yang berbasis di Dhaka.

Refiner Asia Selatan hanya akan melepaskan minyak secara perlahan ke pasar karena mereka tahu persediaan terbatas, katanya.

Di India, importir minyak nabati terbesar di dunia, harga minyak sawit naik hampir 5% selama akhir pekan lalu karena harga industri kekurangan dalam beberapa bulan mendatang. Harga juga naik di Pakistan dan Bangladesh.

Minyak sawit berjangka Malaysia rebound pada Selasa (26/4), setelah aksi jual di sesi sebelumnya. Kekhawatiran pasokan muncul kembali setelah pemerintah Indonesia mengatakan dapat memperluas larangan ekspor minyak sawit jika tidak dapat memenuhi permintaan lokal.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN