Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pendiri dari Liberty House Group dan Chairman Eksekutif Liberty Steel Group, Sanjeev Gupta. ( Foto: BEN STANSALL / AFP

Pendiri dari Liberty House Group dan Chairman Eksekutif Liberty Steel Group, Sanjeev Gupta. ( Foto: BEN STANSALL / AFP

Liberty Incar Bisnis Baja Milik ThyssenKrupp

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 07:57 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

LONDON, investor.id - Liberty Steel Group, yang dimiliki oleh miliarder India-Inggris Sanjeev Gupta, mengatakan pada Jumat (16/10) pihaknya telah melakukan penawaran indikatif yang tidak mengikat, atas aktivitas operasional baja raksasa di industri Jerman ThyssenKrupp.

Liberty mengatakan dalam sebuah pernyataan, perusahaan terbuka untuk mengintensifkan dialog dengan Thyssenkrupp dan ingin melibatkannya dalam uji tuntas lebih lanjut untuk memberikan penawaran yang berpotensi mengikat.

Pengumuman itu disampaikan ketika sektor baja Eropa terbebani berat oleh kelebihan pasokan, persaingan ketat dari Pemerintah Tiongkok, dan dampak ekonomi dari pandemi virus corona.

Majalah mingguan Jerman Der Spiegel melaporkan sebelumnya, ThyssenKrupp juga sedang berdiskusi dengan Tata Steel dan SSAB Swedia atas potensi penjualan.

CEO ThyssenKrupp Martina Merz pekan ini juga mengatakan, partisipasi negara adalah salah satu pilihan.

Khawatir pemutusan kerja besar-besaran, pekerja ThyssenKrupp milik serikat pekerja Jerman IG Metall pada Jumat mengadakan demonstrasi untuk menuntut paket penyelamatan dari Pemerintah Jerman.

Setelah pengumuman Liberty, saham ThyssenKrupp naik 17% dibandingkan dengan kenaikan 0,6% di bursa Frankfurt. Raksasa industri Jerman tersebut telah menderita kegagalan merger bidang usaha bajanya sebelumnya dengan Tata India, setelah diblokir oleh Komisi Eropa tahun lalu.

Penawar perusahaan tersebut, Liberty, adalah perusahaan bisnis baja dan pertambangan global dengan pendapatan tahunan sekitar US$ 15 miliar (setara 13 miliar euro) yang mempekerjakan 30.000 staf di lebih dari 200 lokasi di seluruh dunia.

"Dengan pengalaman transformasi dan pendekatan kewirausahaan, kemungkinan kombinasi Liberty Steel dan ThyssenKrupp Steel akan membuat grup yang kuat, memiliki posisi yang baik untuk mengatasi tantangan yang dihadapi industri baja Eropa, dan mempercepat transformasi menjadi baja hijau (ramah lingkungan)," ujar Liberty, Jumat (16/10), yang dilansir oleh AFP.

Pemerintah Jerman pada Juli mengadopsi rencana untuk menjadikan sektor bajanya netral karbon pada 2050, meskipun tidak ada tindakan nyata hingga saat ini.

Perusahaan baja akan membutuhkan 30 miliar euro pada 2050 dan 10 miliar pada 2030, untuk menjadi karbon netral, menurut tokoh di industri tersebut.

Liberty, bagian dari Liberty House Group milik Gupta, juga mengalami penurunan permintaan untuk produk baja Inggrisnya karena impor dari Tiongkok yang murah. Sektor baja Inggris telah berjuang selama beberapa waktu dan melewati 2019 yang sulit.

Namun pada November lalu, raksasa industri Tiongkok Jingye Group setuju untuk membeli British Steel yang bangkrut sebagai kesepakatan penyelamatan.

Konglomerat industri Jerman Thyssenkrupp mengatakan pada Agustus lalu, kerugiannya melebar di kuartal III-2020 akibat penutupan pabrik terkait pandemi virus corona.

Perusahaan baja yang digunakan untuk kapal selam, yang sudah berjuang sebelum pandemi melanda, membukukan kerugian bersih sebesar 678 juta euro (setara US$ 800 juta) dalam tiga bulan hingga Juni. Itu jauh lebih besar dibandingkan kerugian 94 juta euro setahun sebelumnya, tetapi lebih kecil dari kerugian 948 juta euro yang dicatat dalam tiga bulan sebelumnya.

"Kinerja Thyssenkrupp dalam sembilan bulan pertama tahun fiskal saat ini terpengaruh secara signifikan oleh efek pandemi virus corona. Akibat penutupan pabrik sementara pada pelanggan, produksi di banyak area hampir terhenti mulai kuartal ketiga," jelas pernyataan itu.

Thyssenkrupp, yang menjalankan tahun bisnisnya dari Oktober hingga September, mengatakan pesanan yang masuk turun menjadi 6,7 miliar euro di kuartal ketiga dari 10,2 miliar euro di periode yang sama tahun sebelumnya.

Perusahaan mengatakan, bisnis material dan komponennya, pemasok utama industri otomotif sangat terpukul oleh penguncian virus corona yang membuat pabrik dan dealer tutup selama berminggu-minggu.

Kelompok tersebut juga mengatakan, mereka menghadapi tantangan yang sedang berlangsung dalam bisnis baja dalam kondisi umum lingkungan pasar yang sudah sulit.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN