Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Mauricio Macri menggelar jumpa pers di Istana Kepresidenan Casa Rosada, di Buenos Aires, Argentina pada 12 Agustus 2019. Mata uang peso Argentina melemah hampir 19% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pasca kekalahan Presiden Macri dalam pemungutan suara antarkandidat partai yang diadakan pada akhir pekan. AFP / Juan MABROMATA

Presiden Mauricio Macri menggelar jumpa pers di Istana Kepresidenan Casa Rosada, di Buenos Aires, Argentina pada 12 Agustus 2019. Mata uang peso Argentina melemah hampir 19% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pasca kekalahan Presiden Macri dalam pemungutan suara antarkandidat partai yang diadakan pada akhir pekan. AFP / Juan MABROMATA

Peso Argentina Rebound

Macri Prediksi Krisis Ekonomi Masih Memburuk

Happy Amanda Amalia, Rabu, 14 Agustus 2019 | 08:06 WIB

BUENOS AIRES, investor.id – Presiden Argentina yang pro-bisnis Mauricio Macri memprediksi krisis ekonomi negaranya masih bakal memburuk. Pernyataannya tersebut didasarkan pada anjloknya mata uang peso dan bursa efek di Buenos Aires pada Senin (12/8) waktu setempat, menyusul kekalahan Macri dari kandidat populis Alberto Fernandez dalam pemungutan suara antarkandidat partai untuk pemilihan presiden (pilpres) Oktober mendatang. Walaupun pada pembukaan perdagangan Selasa (13/8), peso Argentina rebound.

Menurut laporan, pasar dilanda kepanikan karena peso ditutup melemah pada 57,30 terhadap dolar, atau turun 18,76% dari angka penutupan Jumat (9/8). Sementara indeks Merval terjun bebas 38% pada saat penutupan perdagangan.

Di bursa efek New York, obligasi Argentina tercatat melemah sekitar 20% dan saham perusahaan-perusahaan dari negara Amerika Selatan yang dilanda resesi ini semakin parah dengan penurunan lebih dari 50%. Argentina adalah negara dengan perekonomian terbesar kedua di Amerika Selatan, setelah Brasil.

Tapi pembukaan perdagangan Selasa, peso Argentina diperdagangkan pada level 55 per dolar AS dibandingkan penutupan pada sesi sebelumnya.

Macri yang berasal dari kubu kanan-tengah kalah dengan selisih 15 poin dari kandidat kiri-tengah Alberto Fernandez, yang juga seorang Peronis atau pengikut mendiang presiden Juan Domingo Peron.

“Ini baru perasaan dari apa yang akan terjadi jika Fernandez dari partai Peronis – yang sekarang disebut Partai Justicialist (PJ) – yang berpasangan dengan mantan presiden, yang terlibat skandal korupsi, Cristina Kirchner terpilih. Ini tentang masa lalu, ada banyak orang yang tidak menyimpan uang mereka di negara ini, yang meninggalkan negara ini. Luar biasa apa yang bisa terjadi,” tutur Macri.

Sejak menjabat, Macri menuding kesengsaraan ekonomi yang melanda Argentina disebabkan oleh kebijakan-kebijakan yang diberlakukan tiga pemerintahan Kirchner berturut-turut, pada periode 2007-2015. Sebelum menjabat, presiden Cristina Kirchner didahului dengan satu masa jabatan dari mendiang suaminya Nestor.

“Kita tidak bisa kembali ke masa lalu karena dunia melihat ini sebagai akhir dari Argentina. Pilihan Kirchnerist tidak memiliki kredibilitas di dunia,” ujar Macri.

Macri sendiri sempat mengadakan pertemuan dengan Presiden Central Bank Guido Sandleris, sebelum pasar dibuka pada Senin.

Walaupun Central Bank membeli US$ 50 juta dalam bentuk peso untuk mencoba menghentikan penurunan, tetapi tidak berhasil.

Saat membahas mengenai kerugian terburuk yang melanda pada hari itu, Fernandez menuding reaksi pasar yang panik dikarenakan kebijakan pemerintah.

“Presiden tidak memiliki ketenangan dalam berpikir. Pasar memberikan peringatan bahwa pemerintah telah menempatkan dirinya dalam posisi yang tidak dapat ditanggapi,” kata Fernandez kepada Radio 10.

 

Ketidakpuasan Mendalam

Sebelumnya pada Minggu (11/8), Macri yang berhaluan kanan-tengah mendapat pukulan besar dalam upayanya untuk terpilih kembali menjadi presiden dalam pemilihan umum (pemilu) Oktober. Macri disebut-sebut hanya mengumpulkan 15 poin lebih sedikit dibandingkan calon presiden haluan kiri tengah Fernandez.

Menurut laporan, Argentina saat ini dalam resesi dan mencatatkan tingkat inflasi 22% untuk semester pertama tahun ini yang dipandang sebagai salah satu inflasi tertinggi di dunia. Selain itu, tingkat kemiskinan sekarang telah memengaruhi 32% populasi.

Walau mendapat dukungan dari Dana Moneter Internasional (IMF), namun rencana penghematan yang diprakarsai Macri sangat tidak disukai di kalangan warga umum Argentina, bahkan daya belanja warga telah berkurang secara dramatis. Akibatnya, peso kehilangan setengah nilainya terhadap dolar pada tahun lalu.

Namun, bursa saham Buenos Aires sempat menunjukkan kenaikan 8% pada Jumat, di tengah ekspektasi bahwa Macri akan berhasil dalam pemungutan suara Minggu. Tetapi, harapan-harapan tersebut pupus karena saham melemah 10% saat pembukaan perdagangan Senin, dan terus-menerus merosot sepanjang hari.

Bahkan, tercatat, saham sebagai pihak yang paling terpukul karena telah kehilangan hampir 50% dari nilainya.

Kini, Macri dihadapkan pada tugas yang menakutkan yaitu mencoba membalikkan defisit besar hanya dalam dua setengah bulan.

“Hasil dari pemungutan suara menunjukkan ketidakpuasan mendalam terhadap situasi ekonomi, dan kekhawatiran masyarakat bahwa pemerintah bakal terputus dari kenyataan dan tidak siap mengatasi masalah” ujar pengamat politik Carlos Fara kepada AFP. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN