Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petani menunjukkan buah sawit di perkebunan kelapa sawit di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/2/2022).  Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petani menunjukkan buah sawit di perkebunan kelapa sawit di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/2/2022). Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Malaysia Pangkas Pajak Ekspor Minyak Sawit Saat Krisis Pasokan Global

Selasa, 10 Mei 2022 | 16:44 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

KUALA LUMPUR, investor.id – Malaysia mempertimbangkan untuk memotong pajak ekspornya atas minyak sawit dan berencana untuk memperlambat implementasi mandat biodieselnya guna membantu memenuhi permintaan global di tengah kekurangan minyak nabati.

Menteri Industri dan Komoditas Perkebunan Zuraida Kamaruddin dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Selasa (10/5/2022) mengatakan bahwa kementeriannya telah mengusulkan pemotongan tersebut kepada kementerian keuangan, yang telah membentuk sebuah komite untuk melihat rinciannya.

Malaysia, produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia, dapat memotong pajak menjadi 4%-6% dari saat ini 8%. Pemotongan itu kemungkinan akan bersifat sementara dan keputusan dapat dibuat pada awal Juni.

"Dalam masa krisis ini, mungkin kita bisa sedikit melonggarkan agar lebih banyak minyak sawit yang bisa diekspor," kata Zuraida.

Malaysia sedang mencari untuk meningkatkan pangsa pasar minyak nabati setelah invasi Rusia ke Ukraina mengganggu pengiriman minyak bunga matahari dan langkah Indonesia untuk melarang ekspor minyak sawit semakin memperketat pasokan global.

Minyak sawit—digunakan dalam segala hal mulai dari kue hingga deterjen—menyumbang hampir 60% dari pengiriman minyak nabati global dan tidak adanya produsen utama Indonesia telah mengguncang pasar.

Zuraida mengatakan kepada Reuters bahwa negara-negara pengimpor telah meminta Malaysia untuk mengurangi pajak ekspornya, dan beberapa—seperti India, Iran dan Bangladesh—mengusulkan perdagangan barter.

Malaysia juga akan memperlambat implementasi mandat biodiesel B30, yang mengharuskan sebagian biodiesel negara dicampur dengan 30 persen minyak sawit, untuk memprioritaskan pasokan ke industri makanan.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN