Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo dari perusahaan-perusahaan digital Amerika Serikat (AS), Google, Apple, Facebook, dan Amazon yang ditampilkan di layar tablet. ( Foto: DENIS CHARLET / AFP )

Logo dari perusahaan-perusahaan digital Amerika Serikat (AS), Google, Apple, Facebook, dan Amazon yang ditampilkan di layar tablet. ( Foto: DENIS CHARLET / AFP )

Maryland Kenakan Pajak Pendapatan Iklan Digital

Senin, 15 Februari 2021 | 06:50 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SAN FRANCISCO, investor.id – Maryland telah menjadi negara bagian Amerika Serikat (AS) pertama yang mengenakan pajak pendapatan iklan digital. Hal ini terjadi setelah anggota dewan legislatif di Senat negara bagian tersebut meraup suara yang cukup untuk mengabaikan veto Gubernur Republik Larry Hogan. Dia disebut-sebut berusaha menggagalkan pengenaan pajak pendapatan yang diambil dari iklan daring (online) yang ditampilkan di Maryland.

“Ini semua tentang pajak dan tidak ada hasil. Ini bukanlah akhir dari pertarungan ini, ini hanyalah permulaan. Pajak ini tidak bisa dan tidak akan bertahan,” ujar Hogan dalam cuplikan video yang diunggah di Twitter, pada Jumat (12/2) waktu setempat

Pajak tersebut diperkirakan akan digugat di pengadilan.

Para pendukung pajak – yang uangnya akan disalurkan untuk pendidikan – pun sesumbar soal kemenangan bagi sekolah-sekolah yang kekurangan dana, sementara perusahaan internet meraup keuntungan dari iklan yang ditargetkan.

Tahun lalu, Hogan memveto rancangan undang-undang (RUU) itu. Menurut dia, RUU ini bakal menaikkan pajak bagi orang-orang yang sudah berjuang karena pandemi. Pasalnya, besaran potongan pajak hingga 10% akan diambil dari porsi pendapatan iklan digital yang dihasilkan dari penggunaan internet di negara bagian itu.

“Maryland akan menjadi negara bagian pertama di AS yang memastikan perusahaan-perusahaan teknologi besar membayar bagian yang adil sambil menghasilkan miliaran dolar setahun menggunakan data pribadi kami untuk menjual iklan digital,” kata Senator negara bagian Bill Ferguson dalam komentar mendukung RUU yang diunggah di Facebook.

Ferguson menambahkan, pajak pendapatan itu menargetkan perusahaan yang menghasilkan lebih dari US$ 100 juta setahun dari iklan digital.

Ada pun, Facebook dan Google yang mendominasi pasar periklanan digital serta menghasilkan pendapatan miliaran setiap tahun. Raksasa e-commerce Amazon pun sudah meningkatkan bisnis iklan digitalnya. Diperkirakan pajak dari pendapatan iklan digital ini bisa menghasilkan US$ 250 juta untuk masuk ke kas pemerintah di tahun pertama.

Negara-negara lain pun diharapkan mengikuti dalam membidik raksasa internet yang telah membangun kerajaan keuangan dengan layanan gratis yang didukung oleh iklan bertarget. Negara-negara termasuk Austria, Inggris, Prancis, dan Spanyol diketahui telah memberlakukan pajak layanan digital.

Sedangkan pemerintahan Presiden AS Joe Biden menyatakan dukungan untuk pajak global yang diusulkan pada raksasa digital seperti Amazon, Facebook dan Google.

Namun, legalitas pajak iklan digital di Maryland diperkirakan digugat di pengadilan.

“Maryland sekarang mendapat kehormatan yang meragukan sebagai satu-satunya negara bagian di negara itu yang pernah mengeluarkan pajak yang cacat seperti itu. Setidaknya para pebisnis dan konsumen Maryland dapat lebih tenang mengetahui bahwa pengadilan akan mengambil keputusan terakhir tentang masalah ini. Bahwa hukum, bukan politik, yang akan memutuskan hasilnya,” tutur Robert Callahan, sebagai wakil presiden grup perdagangan Asosiasi Internet.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN