Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(kiri-kanan): Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional, Anthony Fauci; Chief Science Officer Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan untuk Tanggap Covid, David Kessler; dan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Rochelle Walensky sedang berbincang di gedungCapitol Hill di Washington, DC, Amerika Serikat (AS), pada 15 April 2021. ( Foto: SUSAN WALSH / POOL / AFP )

(kiri-kanan): Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional, Anthony Fauci; Chief Science Officer Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan untuk Tanggap Covid, David Kessler; dan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Rochelle Walensky sedang berbincang di gedungCapitol Hill di Washington, DC, Amerika Serikat (AS), pada 15 April 2021. ( Foto: SUSAN WALSH / POOL / AFP )

Masalah Jantung pada Remaja Sehabis Vaksinasi akan Ditinjau

Kamis, 24 Juni 2021 | 06:56 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Sebuah panel ahli yang dibentuk oleh badan kesehatan utama Amerika Serikat (AS) dijadwalkan mengadakan pertemuan pada Rabu (23/6) waktu setempat. Tujuannya untuk meninjau data terkait lebih dari 300 kasus peradangan otot jantung di kalangan remaja dan dewasa muda setelah menerima vaksin Covid-19 jenis messenger RNA (mRNA).

Komite yang dibentuk oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) tersebut akan mendengarkan analisis risiko dan manfaat ketika peneliti mengeksplorasi apakah vaksin dapat menyebabkan miokarditis, serta kasus peradangan lapisan jantung atau perikarditis. Israel adalah negara pertama yang mengidentifikasi kemungkinan hubungan sebab akibat.

"Kasus-kasus ini jarang terjadi dan sebagian besar telah diselesaikan dengan istirahat serta perawatan suportif," kata Direktur CDC Rochelle Walensky, pekan lalu.

Awalnya pertemuan dijadwalkan Jumat (18/6) tetapi ditunda karena hari libur. Kasus-kasus yang dikonfirmasi telah diselidiki, berdasarkan laporan awal untuk sistem pemantauan keamanan vaksin. Datanya, tambah Walensky, berasal dari 20 juta lebih remaja dan dewasa muda yang telah divaksinasi. Meskipun 300 orang dari 20 juta orang adalah angka kecil, probabilitasnya masih lebih tinggi dari yang seharusnya diperkirakan untuk kelompok usia tersebut.

Pertemuan sebelumnya tentang masalah tersebut diadakan pada 10 Juni 2021 oleh Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan (FDA). Sebagian besar kasus terjadi di antara pria muda dan terjadi dalam waktu satu minggu setelah pemberian dosis kedua.

Sebagian Besar Ringan

Pemeriksaan terbaru oleh CDC akan menggali lebih dalam data terbaru yang telah diverifikasi secara independen, daripada yang dilaporkan sendiri.

"Saya prihatin, tetapi saya akan menekankan bahwa sebab dan akibat belum ditetapkan," kata Lorry Rubin, direktur penyakit menular pediatrik di Cohen Children's Medical Center, kepada AFP, Selasa (22/6) waktu setempat.

Dia mengatakan, rumah sakitnya telah melihat beberapa kasus remaja laki-laki yang mengalami nyeri dada dalam satu atau dua hari setelah pemberian dosis kedua vaksin mRNA.

Vaksin Pfizer saat ini merupakan satu-satunya suntikan yang diizinkan pada remaja berusia 12 tahun ke atas. "Sebaliknya, kasusnya relatif ringan," ujarnya.

Rubin menambahkan, kondisi pasien kembali normal dalam beberapa hari setelah pengobatan dengan obat-obatan seperti ibuprofen.

Miokarditis diketahui bersifat musiman. Insiden yang lebih tinggi pada bulan-bulan musim panas yang berpotensi terkait dengan enterovirus dan diperkirakan mempengaruhi satu per 100.000 anak per tahun.

Bahkan jika hubungan sebab akibat dengan vaksin telah ditetapkan, Rubin mengatakan bahwa itu harus dipertimbangkan terhadap risiko untuk anak-anak dari Covid-19.

Sementara anak-anak kurang terpengaruh dibandingkan orang dewasa, virus tersebut masih telah mengirim lebih dari 3.000 anak ke rumah sakit AS selama pandemi dan menyebabkan lebih dari 300 kematian menurut data resmi pejabat. Sekitar 2.700 orang di bawah 30 tahun telah meninggal karena Covid-19 di negara tersebut.

"Kami sebenarnya memiliki lebih banyak anak yang terinfeksi Covid-19 yang kami tahu memiliki dampak jangka panjang. Beberapa di antaranya telah menderita sakit cukup berat dengan gejala penyakit jantung di rumah sakit," jelas Lee Savio Beers, presiden Akademi Pediatri Amerika.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN