Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Mayoritas Perusahaan AS Merasa Jadi Target di Tiongkok

ah, Kamis, 12 Februari 2015 | 23:07 WIB

BEIJING – Sebuah survei yang dirilis Rabu (11/2) menyatakan, sebagian besar perusahaan Amerika Serikat (AS) di Tiongkok merasa menjadi target oleh pihak berwenang setempat. Pemerintah Tiongkok diketahui melakukan serangkaian penyelidikan tingkat tinggi terhadap perusahaan-perusahaan asing.

 

Survei Kamar Dagang Amerika (AmCham) itu menemukan bahwa 57% responden percaya perusahaan asing menjadi sasaran penyelidikan praktik penentuan harga, antimonopoli, dan kampanye antikorupsi di bawah Presiden Xi Jinping.

 

Di antara mereka yang mengatakan perusahaan asing menjadi sasaran, sebanyak 65% mengatakan takut langkah tersebut akan berdampak negatif terhadap bisnisnya. Hasil survei tersebut adalah bagian dari survei tahunan ke-17 tentang iklim usaha oleh AmCham Tiongkok. Survei itu mendapat 477 tanggapan dari 1.012 perusahaan anggota organisasi itu.

 

"Kami semua prihatin, karena kami hanya bisa menonton dan mengamati kampanye oleh Xi Jinping dan kepemimpinan," kata ketua AmCham Tiongkok James Zimmerman, pada konferensi pers mengumumkan hasil survei tersebut.

 

Lebih lanjut ia mengatakan pihaknya tidak tahu apakah langkah itu akan mereda, atau siapa yang akan menjadi target berikutnya. Menurutnya, yang bisa dilakukan perusahaan asing adalah memberi contoh dan melakukan hal yang benar.

 

“Jangan ada toleransi sama sekali ketika berhadapan dengan masalah ini, jalankan progam kepatuhan dan bekerja sama dengan pemerintah ketika hal seperti ini muncul,” ucap James.

 

Hampir setengah dari perusahaan- perusahaan AS di Tiongok, yakni 47%, merasa kurang diterima di negara itu dibandingkan sebelumnya. Persentase ini naik dari 44% tahun lalu. Hasil sur vei ini keluar setelah pemerintah Tiongkok meningkatkan pemeriksaan terhadap perusahaan- perusahaan asing. Pemerintah

Tiongkok selama dua tahun terakhir meluncurkan penyelidikan atas dugaan malpraktik di sejumlah sektor, dari obat-obatan hingga susu formula bayi.

 

Pekan ini, perusahaan raksasa chip ponsel Qualcomm menyatakan akan mengubah praktik bisnisnya di Tiongkok dan membayar 6,088 miliar yuan (sekitar US$ 975 juta) untuk mengakhiri penyelidikan antipersaingan usaha di negara itu. Ini akan menjadi denda terbesar yang pernah dikenakan oleh pemerintah Tiongkok dalam sebuah kasus.

 

Perusahaan lain seperti Apple dan Starbucks kadang mendapat peliputan yang tidak menguntungkan dari media pemerintah atas isu-isu tentang layanan dan harga. Langkah pemerintah Tiongkok itu mendorong kekhawatiran dari kalangan investor bahwa perusahaan-perusahaan - terutama dari luar negeri - sedang menjadi target. Tiongkok menyatakan bahwa undang-undang antimonopoli tidak membedakan antara perusahaan domestik dan asing.

 

Hasil survei AmCham itu menyoroti sejumlah area lain yang menjadi sumber kekhawatiran perusahaan-perusahaan AS di Tiongkok. Hal ini termasuk dampak polusi udara, perlambatan pertumbuhan, partai berkuasa yang terus mencengkram ketat internet. Untuk pertama kalinya, mayoritas responden, 53%, menyatakan masalah kualitas udara telah menyulitkan mereka untuk mempekerjakan pekerja senior di Tiongkok. Angka ini naik dari 48% pada 2014 dan 34% pada 2013. (afp/leo)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA