Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau International Air Transport Association (IATA). ( Foto: Wikipedia )

Logo Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau International Air Transport Association (IATA). ( Foto: Wikipedia )

Musim Dingin Bakal Berat Bagi Maskapai

Senin, 19 Oktober 2020 | 08:09 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Musim dingin tahun ini bakal sangat berat bagi para maskapai penerbangan dunia. Setelah harapan akan terjadinya pemulihan dari dampak krisis virus corona Covid-19 tidak terealisasi.

Selain terus memangkas biaya, para maskapai sekarang juga terus meminta bantuan pemerintah. “Kami berpacu dengan waktu. Kunci utama adalah memiliki dana kas dan kami harus bergerak sangat cepat,” ujar Stephane Albernhe, managing partner Archery Strategy Consulting, seperti dilansir AFP.

Pendapatan para maskapai global sudah anjlok 80% pada enam bulan pertama tahun ini. Hal ini dinyatakan badan industri perjalanan udara dunia atau IATA.

Pada saat sama, para maskapai dihadapkan ada pengeluaran rutin yang terus dikeluarkan. Yakni upah para kru, biaya pemeliharaan, bahan bakar, biaya bandara, dan biaya parkir pesawat.

Setelah sempat pulih tipis pada Juli 2020, seiring pelonggaran kebijakan-kebijakan karantina dan pembatasan pergerakan, trafik lalu lintas udara global anjlok lagi pada September 2020. Pemesanan tiket untuk musim dingin, yang dimulai 25 Oktober 2020, sudah anjlok 78% dibandingkan tahun lalu.

Salah satu kekecewaan terbesar yang dihadapi para maskapai adalah minimnya jumlah pelancong kelas bisnis. Mereka sekarang lebih memilih telekonferensi daripada terbang tapi berisiko terinfeksi virus Covid-19. Padahal penumpang kelas ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan bagi para maskapai.

Para maskapai juga sudah berkali-kali mencoba meyakinkan penumpang bahwa perjalanan udara aman. Tapi tidak begitu berhasil melawan langkah-langkah pembatasan yang diterapkan masing-masing negara. Termasuk karantina hingga 14 hari bagi para penumpang yang pulang dari bepergian.

“Risiko terkena Covid-19 selama perjalanan udara padahal sangat rendah,” ujar Dr David Powell, konsultan medis untuk IATA.

Para maskapai sekarang berharap pada sistem pengetesan di bandara akan memulihkan kepercayaan penumpang. Juga mengurangi, dan kalau bisa menghilangkan, keharusan untuk menjalankan karantina bagi penumpang.

Sejumlah bandara besar sudah mulai menguji coba sistem ini. Prancis akhir pekan lalu mengumumkan akan melakukan tes antigen mulai akhir bulan ini di bandara.

“Kami akan meluncurkan tes ini di bandara, khususnya untuk keberangkatan ke Amerika Serikat atau Italia dan untuk kedatangan dari negara-negara zona merah. Dengan cara ini diharapkan tidak ada lagi banyak orang yang tiba di Prancis tapi belum dites,” ujar Menteri Transportasi Prancis Jean-Baptiste Djebbari, kepada CNews TV

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN