Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur negara bagian New York, Amerika Serikat (AS), Andrew Cuomo. ( Foto: ANGELA WEISS / AFP )

Gubernur negara bagian New York, Amerika Serikat (AS), Andrew Cuomo. ( Foto: ANGELA WEISS / AFP )

New York dan California Longgarkan Pembatasan

Kamis, 17 Juni 2021 | 05:59 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Jumlah kematian warga di Amerika Serikat (AS) akibat virus corona Covid-19 pada Selasa (15/6) waktu setempat telah melampaui 600.000 jiwa. Meski demikian, para pejabat tetap memberikan pujian atas kemajuan menuju kehidupan normal kembali karena program vaksinasinya menjanjikan mengatasi salah satu krisis kesehatan terburuk dalam sejarah Amerika.

Sejauh ini, Amerika Serikat sudah kewalahan menghadapi total korban meninggal dunia terbesar di seluruh negeri terbesar – yang disusul oleh Brasil dan India – pasca respons awalnya dalam penanganan pandemi yang menuai banyak kritikan. Tetapi sejak melakukan tindakan-tindakan teroganisir, program vaksinasinya menjadi yang paling efektif di dunia.

Kemajuan dalam melawan penyebaran virus corona juga mendapat sorotan setelah Pemerintah Negara Bagian New York mengumumkan, bahwa lebih dari 70% masyarakat dewasa telah menerima setidaknya vaksin dosis pertama sehingga aturan pembatasan negara bagian terakhir dapat dicabut.

“Masih terlalu banyak nyawa yang hilang. Hati saya untuk semua yang kehilangan orang-orang yang dicintai,” ujar Presiden Joe Biden pada Senin (14/6) di Brussels, Belgia, menanggapi hasil hitungan kematian akibat Covid-19 oleh Johns Hopkins University yang mendekati 600.000, yang dikutip AFP.

Dia menambahkan, meskipun jumlah kematian harian menurun tajam, korban jiwa yang terus berjatuhan masih merupakan tragedi nyata.

Biden sendiri telah menetapkan 4 Juli sebagai tanggal target untuk sedikitnya 70% orang dewasa AS sudah mendapatkan vaksin dosis pertama. Namun, beberapa negara bagian di wilayah Selatan masih tertinggal jauh di belakang dan negara-negara bagian itu mungkin tidak akan mencapai target.

Di kota New York – di mana lebih dari 33.000 meninggal dunia karena Covid – dilaporkan telah mengambil langkah maju yang besar karena hampir semua aturan pembatasan sudah dicabut.

“Kami telah mencapai vaksinasi 70%. Itu adalah tujuan nasional, dan kami mencapainya lebih cepat dari jadwal. Apa artinya 70%? Itu berarti kami sekarang dapat kembali ke kehidupan seperti yang kami kenal,” ungkap Gubernur New York Andrew Cuomo.

California Dibuka Kembali

Menyusul New York, California – sebagai negara bagian AS pertama yang memberlakukan perintah tinggal di rumah kurang dari 15 bulan yang lalu – juga dikabarkan merayakan hari pembukaan kembali pada Selasa, dengan mencabut hampir semua aturan jaga jarak sosial dan pembatasan kapasitas terkait pandemi.

Masyarakat yang telah divaksinasi bisa bebas melepas maskernya di hampir semua negara bagian terkaya dan terpadat di negara itu. Namun tetap ada pengecualian untuk beberapa lokasi, termasuk transportasi umum, sekolah, dan rumah sakit.

“Akhirnya kita berada di sini, 15 Juni, untuk membalik halaman, bergerak melampaui batas kapasitas, bergerak melampaui jarak sosial dan jarak fisik,” ujar Gubernur Gavin Newsom pada upacara untuk menandai pembukaan kembali penuh kegiatan ekonomi di California.

“Kami melihat lebih banyak kematian daripada yang ingin kami lihat – kami berpegangan tangan terlalu banyak karena keluarga tidak dapat datang ke unit,” kata Helen Cordova, sseorang perawat pertama di California pertama yang mendapatkan dosis vaksin pada Desember lalu.

Ibukota Washington pun disebut-sebut ikut bergabung dalam kelompok 70% masyarakat telah divaksin, pada Senin.

Gubernur California Gavin Newsom. ( Foto: RICH PEDRONCELLI / ASSOCIATED PRESS )
Gubernur California Gavin Newsom. ( Foto: RICH PEDRONCELLI / ASSOCIATED PRESS )

Kekhawatiran Varian Delta

Di sisi lain timbul pertanyaan, apakah program vaksinasi AS berhasil mengakhiri babak pandemi di Amerika? Karena hal ini bakal bergantung pada kemampuan pihak berwenang untuk mencapai mereka yang menolak divaksin – yang mana tetap menjadi yang paling rentan terhadap virus corona. Para ahli pun mengaku sangat khawatir tentang kemunculan varian Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India.

Kampanye vaksinasi di AS telah mendapat dorongan keras sejak otorisasi vaksin pertama pada Desember. Pelaksanaan vaksin sempat memuncak pada April, hingga lebih dari empat juta vaksinasi sehari. Tetapi sejak saat itu, kecepatannya terus melambat dengan cepat.

Menurut data resmi, terdapat lebih dari 52% populasi AS atau 174 juta orang yang telah menerima sedikitnya satu dosis dari salah satu dari tiga vaksin yang diizinkan di Negeri Paman Sam.

AS dilaporkan melewati angka kematian 500.000 pada akhir Februari, kurang dari empat bulan yang lalu. Sebagai perbandingan, butuh satu bulan bagi negara untuk bergeser dari angka 400.000 menjadi 500.000 kematian.

Para ahli tengah dilanda kekhawatiran soal munculnya varian Delta yang sekarang menyumbang 10% dari kasus infeksi di AS, dan kemungkinan menjadi varian yang dominan dalam beberapa bulan mendatang.

Hasil penelitian di Inggris menunjukkan, kini varian yang menyumbang 96% kasus infeksi, terbukti 60% lebih mudah menular daripada varian Alpha – yang pertama kali diidentifikasi di Inggris.

Otoritas kesehatan telah berusaha meyakinkan agar lebih banyak masyarakat mendapatkan vaksinasi, dengan meningkatkan tempat-tempat vaksinasi, dan membantu masyarakat mengaksesnya dalam kemitraan dengan perusahaan swasta yang dapat menyediakan transportasi atau tempat penitipan anak.

Beberapa negara bagian bahkan meluncurkan program lotere yang hanya dapat diikuti oleh orang-orang yang telah divaksinasi, dengan total hadiah hingga beberapa juta dolar.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN