Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Varian Omicron. Foto: Istimewa

Varian Omicron. Foto: Istimewa

Omicron Memukul Pemulihan Sektor Ritel Inggris

Sabtu, 8 Januari 2022 | 06:28 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

LONDON, investor.id - Pembatasan yang diberlakukan setelah varian virus corona Omicron telah meruntuhkan pemulihan ekonomi yang baru-baru ini dinikmati oleh peritel Inggris dengan toko fisik. Hal ini diungkapkan Konsorsium Ritel Inggris (BRC) pada Jumat (7/1).

“(Sebagian besar kemajuan yang dibuat pada akhir 2021) terhapus pada Desember 2021 karenamelonjaknya kasus Omicron. Dan saran kerja dari rumah yang baru menghalangi banyak orang untuk berbelanja di dalam toko, terutama di kota-kota dan pusat kota,” jelas CEO BRC Helen Dickinson, Jumat.

Namun demikian, tambah dia, sementara langkah Inggris melihat penurunan moderat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya, (Inggris) tetap di atas tingkat ekonomi utama Eropa lainnya.

“Karena negara itu menghindari beberapa pembatasan yang lebih parah yang diterapkan di tempat lain,” tambahnya dalam sebuah pernyataan.

Jumlah pembeli yang mengunjungi toko-toko di Inggris turun hingga 18,6% pada Desember 2021 dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya atau sebelum timbulnya pandemi virus corona, menurut analisis BRC.

“Jejak kaki Desember (2021) menutup tahun yang menantang bagi toko fisik, yang melihat penurunan sepertiga dari tingkat sebelum pandemi,” tambah Dickinson.

Kasus Melonjak

CEO BRC Helen Dickinson
CEO BRC Helen Dickinson

Inggris menjadi salah satu Negara yang paling terpukul di Eropa oleh pandemi dengan jumlah kematian virus hampir 150.000. negara tersebut telah mengalami lonjakan baru dalam jumlah kasus karena kedatangan varian Omicron pada akhir November 2021.

Di Inggris lebih dari satu dari 20 orang memiliki Covid-19 dalam pekan yang berakhir 31 Desember 2021, menjadi tingkat infeksi tertinggi yang tercatat selama pandemi.

Sebuah kelompok bisnis memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan Inggris terpukul karena gangguan rantai pasokan yang berkelanjutan, inflasi yang melonjak, dan kenaikan biaya energi.

Kamar Dagang Inggris (BCC) mengatakan, studinya terhadap hampir 5.500 perusahaan menemukan bahwa rekor 58% mengharapkan kenaikan harga mereka di kuartal ini.

“Pelemahan terus-menerus dalam arus kas mengganggu karena membuat bisnis lebih terpapar dampak ekonomi Omicron, meningkatnya inflasi, dan potensi pembatasan lebih lanjut,” kata Kepala Ekonomi BCC Suren Thiru.

Terlepas dari angka yang belum pernah terjadi sebelumnya, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah memilih untuk tidak memberlakukan pembatasan yang lebih ketat di Inggris.

Ia beralasan, meningkatnya tingkat rawat inap dan penyakit serius belum memerlukan tindakan lebih lanjut.

Tetapi wilayah Inggris lainnya telah memperketat aturan. Pemerintah yang didelegasikan di Edinburgh, Cardiff, dan Belfast telah meluncurkan pembatasan setelah Natal untuk pertemuan sosialisasi dan acara-acara besar. Bank Sentral Inggris (BoE) bulan lalu telah menaikkan suku bunga utamanya menjadi 0,25% untuk memerangi inflasi Inggris yang tinggi. BoE menaikkan suku bunga dari rekor terendah 0,1%, tetapi tidak mengubah paket stimulus besarannya.

Ini menandai peningkatan pertama dalam lebih dari tiga tahun dan menjadikan Inggris negara pertama dari negara-negara G-7 yang mengangkat biaya pinjaman sejak awal pandemi. Inflasi tahunan Inggris meroket pada November 2021 menjadi 5,1%, lebih dari dua kali lipat target BoE di level 2,0%.

Kerahkan Militer

Sementara itu, Kementerian Pertahanan (MoD) Inggris mengerahkan pasukan militer ke sejumlah rumah sakit di London untuk mengurangi kekurangan staf yang parah, disebabkan oleh wabah Omicron.

Sekitar 200 personel angkatan bersenjata akan bergabung dengan petugas kesehatan di ibu kota. Kota itu sangat terpukul oleh meningkatnya kasus virus corona baru-baru ini, menyebabkan ketidakhadiran staf secara massal di banyak rumah sakit.

“Mereka telah menunjukkan nilai mereka berkali-kali selama pandemi ini, baik mengemudikan ambulans, memberikan vaksin, atau mendukung pasien di rumah sakit,” kata Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace.

Pengerahan itu akan mencakup 40 petugas medis militer dan 160 personel tugas umum. Inggris pada Selasa mencatat 218.724 kasus virus harian, angka tertinggi sejak pandemi dimulai. Meskipun angka kematian dan jumlah pasien yang membutuhkan ventilator tetap stabil, banyak staf kesehatan yang dites positif terkena virus dan harus mengasingkan diri, memberi tekanan pada sistem. CEO Konfederasi NHS Matthew Taylor mengatakan ada ribuan staf NHS yang tidak hadir.

“Memiliki 200 orang tambahan akan membantu, tetapi itu hanya sebagian kecil dari apa yang akan terus menjadi situasi yang sangat sulit,” ungkapnya.

Johnson pada Selasa (4/1) mengatakan rumah sakit seperti berada di dalam perang karena kekurangan staf. Banyak kelompok rumah sakit menyatakan insiden kritis,   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN