Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto yang diambil pada 17 Agustus 2020 memperlihatkan logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di markasnya di Jenewa, Swiss. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Foto yang diambil pada 17 Agustus 2020 memperlihatkan logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di markasnya di Jenewa, Swiss. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Omicron vs Delta: Varian Mana yang Lebih Cepat Menyebar?

Selasa, 30 November 2021 | 07:08 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Para ilmuwan sedang berlomba untuk memahami konsekuensi yang ditimbulkan dari varian baru Covid-19 yang dinamakan Omicron. Di tengah situasi tersebut, muncul salah satu pertanyaan paling penting, apakah versi baru virus corona ini dapat berlari lebih cepat dari varian Delta yang sekarang mendominasi global.

Menurut WHO, pihaknya sedang berkoordinasi dengan banyak peneliti di seluruh dunia guna lebih memahami bagaimana varian tersebut akan berdampak pada pandemi Covid-19. Temuan-temuan baru diperkirakan dirilis dalam beberapa hari dan pekan berikutnya.

Di samping itu, banyak juga yang mempertanyakan, apakah Omicron akan kebal terhadap perlindungan vaksin dan apakah varian ini bakal menyebabkan gejala penyakit yang lebih serius. Tetapi karakteristik-karakteristik semacam itu seharusnya tidak terlalu mengkhawatirkan jika Omicron relatif dapat dikendalikan.

Sebelumnya pada Jumat (26/11), Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menetapkan Omicron sebagai kategori varian yang menjadi perhatian (variant of concern), selang beberapa hari setelah pertama kali dilaporkan terdeteksi di Afrika Selatan (Afsel).

Beberapa pakar penyakit yang diwawancarai Reuters, menyatakan bahwa sudah ada alasan kuat untuk mempercayai Omicron akan membuat vaksin menjadi kurang efektif. Pasalnya, Omicron berbagi beberapa mutasi kunci dengan dua varian sebelumnya, Beta dan Gamma, yang membuatnya kurang rentan terhadap vaksin.

Selain itu, Omicron memiliki 26 mutasi unik, banyak di antaranya di daerah yang ditargetkan oleh antibodi vaksin. Namun Delta, dalam beberapa bulan telah menyebar jauh lebih cepat daripada pendahulunya.

“Jadi pertanyaannya, sebenarnya, bagaimana Omicron dapat menular tergantung pada Delta. Ini adalah hal utama yang perlu kita ketahui,” ujar John Moore, profesor mikrobiologi dan imunologi di Weill Cornell Medical College, New York, Amerika Serikat (AS).

Menurut para ahli, hal itu pula yang kemungkinan menjadi salah satu yang terakhir dijawab. Bahkan, para pejabat Afrika Selatan memperingatkan tentang Omicron setelah melakukan identifikasi pada puluhan kasus varian ini.

Pergerakan Varian

Para ilmuwan akan mengamati dengan cermat, apakah kasus-kasus yang disebabkan oleh Omicron yang dilaporkan di database publik mulai menggantikan kasus-kasus yang disebabkan oleh Delta. Pengamatan itu bisa memakan waktu tiga hingga enam minggu, tergantung seberapa cepat varian bergerak. Informasi lain seharusnya datang lebih cepat.

“Dalam waktu dua pekan, kita akan mendapatkan penanganan yang lebih baik pada tingkat keparahan penyakit ini. Kami mendengar laporan yang berbeda, di mana beberapa mengatakan varian ini adalah penyakit yang sangat ringan dan yang lain (melaporkan) beberapa kasus parah di rumah sakit Afrika Selatan,” tutur Dr Peter Hotez, ahli vaksin dan profesor virologi molekuler dan mikrobiologi di Baylor College of Medicine.

Dalam kerangka waktu yang sama, para peneliti mengharapkan memperoleh jawaban awal tentang apakah Omicron dapat kebal dari vaksin. Data awal ini bakal diperoleh dari hasil laboratorium yang menguji sampel darah dari orang yang divaksinasi atau hewan laboratorium, menganalisis antibodi dalam sampel setelah terpapar varian baru.

“Ada banyak laboratorium yang secara aktif berupaya membuat virus Omicron dan menguji sensitivitas antibodinya. Hal ini akan memakan waktu beberapa pekan,” tambah Moore.

Sedangkan David Ho, profesor mikrobiologi dan imunologi di Universitas Columbia di New York, percaya bahwa Omicron akan menunjukkan tingkat resistensi yang substansial, berdasarkan lokasi mutasinya pada protein spike virus – yakni pintu masuk virus corona menginfeksi manusia.

“Antibodi vaksin menargetkan tiga wilayah pada spike virus corona, dan Omicron memiliki mutasi di ketiga wilayah tersebut. Kami para ahli teknis jauh lebih khawatir daripada para ahli kesehatan masyarakat karena apa yang kami ketahui dari hasul analisis struktural Omicron,” ujar Ho.

Vaksin Tetap Membantu

Yang lain mencatat bahwa varian sebelumnya, seperti Beta, juga memiliki mutasi yang membuat vaksin menjadi kurang efektif. Tetapi vaksin tersebut masih dapat membantu mencegah gejala penyakit parah dan kematian. “Bahkan jika antibodi penawar yang diinduksi oleh vaksin menjadi kurang efektif, komponen sistem kekebalan lain yang dikenal sebagai sel T dan sel B kemungkinan akan mengimbanginya,” demikia penjelasan mereka.

“Dengan vaksinasi, menghasilkan kemungkinan Anda terhindar dirawat di rumah sakit,” kata John Wherry, direktur Institut Penn untuk Imunologi di Philadelphia.

Dr Michael Osterholm, seorang ahli penyakit menular di University of Minnesota, mengungkapkan bahwa studi dunia nyata pertama tentang efektivitas vaksin terhadap Omicron di masyarakat kemungkinan akan memakan waktu setidaknya tiga hingga empat pekan. “Ini karena para ahli mempelajari tingkatan yang disebut infeksi terobosan pada orang yang sudah diinokulasi,” tambah dia.

Di sisi lain, David Ho dari Columbia mengungkap fakta bahwa Omicron sudah menyebar mendahului Delta – yang disebut-sebut mengungguli semua varian lainnya dan tergolong mengkhawatirkan.

Tetapi ahli lain berkeras bahwa itu masih merupakan pertanyaan terbuka. “Ketika terjadi mutasi spesifik yang dapat membantu penyebaran Omicron, varian ini tidak terlihat terlalu jauh berbeda dari Alpha atau Delta,” kata Hotez.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN