Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Kesehatan (Menkes) Inggris, Sajid Javid (kanan) dan Kepala Eksekutif Badan Keamanan Kesehatan Inggris, Jenny Harries menghadiri konferensi pers di dalam Downing Street Briefing Room, pusat kota London pada 20 Oktober 2021. ( Foto: TOBY MELVILLE / POOL / AFP )

Menteri Kesehatan (Menkes) Inggris, Sajid Javid (kanan) dan Kepala Eksekutif Badan Keamanan Kesehatan Inggris, Jenny Harries menghadiri konferensi pers di dalam Downing Street Briefing Room, pusat kota London pada 20 Oktober 2021. ( Foto: TOBY MELVILLE / POOL / AFP )

Pakar Mengkhawatirkan Mutasi Varian Delta

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:43 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Mutasi varian Delta terbaru sedang diselidiki di Inggris menyusul kekhawatiran bahwa varian ini membuat virus lebih menular dan menganggu proses vaksin Covid-19 lebih lanjut. Di sisi lain, masih banyak yang belum diketahui soal seputar turunan atau subtipe varian Delta ini, yang secara resmi disebut sebagai AY.4.2, sementara beberapa orang menjulukinya dengan varian Delta plus yang baru.

Para pejabat kesehatan Pemerintah Inggris beranggapan masih terlalu dini untuk mengatakan, apakah mutasi menimbulkan risiko lebih besar bagi kesehatan masyarakat daripada varian Delta – yang secara signifikan lebih menular daripada jenis Covid-19 asli (dan penggantinya, varian Alpha).

Meski demikian, mereka menyatakan tetap memantau pergerakan mutasi dengan sangat cermat. Yang mana sekarang menyumbang 6% dari kasus Covid Inggris yang telah diurutkan secara genetik ketika kasus infeksi di negara itu meningkat dengan cepat.

Sebagai informasi, virus-virus terus bermutasi dan virus corona yang muncul awal di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada akhir 2019 telah melalui beberapa variasi kecil yang membuatnya lebih menular dan efektif menyebar. Hal ini pertama kali terlihat dengan kehadiran varian Alpha (pertama diurutkan di Inggris), yang kemudian menyebar secara global sebelum diambil alih oleh varian Delta yang lebih menular dan pertama kali ditemukan di India.

Delta, yang dijuluk sebagai varian mengkhawatirkan (variant of concern) oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO) pada Mei diklaim masih dominan secara global. Namun pada Jumat (15/10), Badan Keamanan Kesehatan Inggris atau Health Security Agency (HSA) mengeluarkan laporan bahwa turunan Delta yang baru ditetapkan sebagai AY.4.2 tercatat telah berkembang di Inggris.

HSA mengungkapkan sedang memantau subtipe, yang mencakup mutasi pada protein spike (A222V dan Y145H) yang digunakan virus corona untuk memasuki sel-sel kita.

Menteri Kesehatan (Menkes) Inggris, Sajid Javid. ( Foto: TOBY MELVILLE / POOL / AFP )
Menteri Kesehatan (Menkes) Inggris, Sajid Javid. ( Foto: TOBY MELVILLE / POOL / AFP )

Dalam Pengawasan

Menurut laporan, AY.4.2 sedang diidentifikasi dalam hal peningkatan jumlah kasus Covid di Inggris. Beberapa menunjukkan bahwa varian ini bisa menjadi faktor berpengaruh dalam berkembangnya krisis kesehatan negara, sehingga mendorong beberapa dokter menyerukan aturan-aturan pembatasan Covid-19 untuk diterapkan kembali.

“Frekuensi dari turunan itu sekarang meningkat,” tutur HSA pada pekan lalu, yang dikutip CNBC.

Catatan HSA menunjukkan pada pekan yang dimulai 27 September 2021, turunan tersebut menyumbang sekitar 6% dari semua urutan yang dihasilkan dengan lintasannya yang meningkat. “Perkiraan ini mungkin tidak tepat. (Tetapi), penilaian lebih lanjut sedang berlangsung,” demikian menurut catatan.

Inggris saat ini melihat lonjakan kasus Covid yang berkepanjangan dan mengkhawatirkan. Laporan yang masuk menyebutkan terdapat antara 40.000-50.000 kasus infeksi baru per hari dalam sepekan terakhir. Kondisi ini mendorong para ahli mempertanyakan, mengapa Inggris sangat rentan terhadap Covid saat ini.

Subtipe Delta dilaporkan 10-15% lebih mudah menular daripada varian Delta standar, tetapi masih terlalu dini untuk mengatakan dengan pasti apakah varian ini telah menyebabkan lonjakan kasus di Inggris Raya.

Perlu diingat meskipun AY.4.2 sedang dipantau, AY.4.2 belum diklasifikasikan sebagai varian yang sedang diselidiki (variant under investigation) atau varian mengkhawatirkan oleh WHO. Di mana, belum diidentifikasi memiliki perubahan genetik yang diprediksi memengaruhi karakteristik virus seperti penularan, tingkat keparahan penyakit, membuat tidak kebal, tidak dapat diagnostik atau terapeutik.

Varian itu juga belum dikonfirmasi menjadi penyebab transmisi komunitas yang signifikan atau beberapa klaster Covid-19. Namun, status tersebut dapat berubah setelah dilakukan pemantauan lebih lanjut, dan jika terus diurutkan dalam jumlah kasus yang terus meningkat.

Menemukan varian yang berpotensi lebih menular merupakan hal penting, karena ini dapat menyebabkan kasus Covid lebih banyak lagi di antara yang tidak divaksinasi.

Apalagi, sebagian besar dunia masih belum divaksinasi di mana menurut Our World in Data baru 2,8% orang di negara berpenghasilan rendah yang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid. Sedangkan negara-negara maju memperlihatkan semakin banyak kasus terobosan karena kekebalan terhadap Covid mengalami penurunan sekitar enam bulan setelah mendapat vaksinasi lengkap.

Varian yang lebih menular diklaim dapat merusak kemanjuran vaksin lebih jauh, meskipun belum ada indikasi bahwa kasus tersebut terjadi pada subtipe AY.4.2.

Komentar Ahli

Untuk saat ini, para pejabat kesehatan masih menunjukkan ketenangan dalam merespons subtipe Delta. Mereka mencatat, bahwa penting untuk mengawasi mutasi namun tidak panik.

Menanggapi Delta plus pada Rabu (20/10), Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Amerika Serikat (AS) atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Rochelle Walensky mencatat bahwa khususnya, varian AY.4.2 telah menarik perhatian dalam beberapa hari terakhir.

“Kami, kadang-kadang, mengidentifikasi sub-garis keturunan ini di Amerika Serikat, tetapi tidak dengan peningkatan frekuensi atau pengelompokan baru-baru ini, hingga saat ini,” ujarnya.

Seperti halnya AS, Pemerintah Israel mengatakan telah memastikan kasus varian AY.4.2 pada seorang bocah lelaki berusia 11 tahun yang memasuki negara itu, di bandara Ben Gurion. Pada Kamis (21/10), Rusia juga menyataka telah mendaftarkan beberapa kasus terisolasi dari varian AY.4.2.

Namun belum diketahui sejauh mana, jika ada, subtipe itu telah ditemukan di daratan Eropa. Oleh karena itu, juru bicara resmi perdana menteri Inggris meminta masyarakat tetap tenang pada Selasa (19/10.

“AY.4.2 adalah sesuatu yang sangat kami perhatikan, tetapi menekankan bahwa saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa varian ini lebih mudah menyebar. Belum ada bukti untuk itu, tetapi seperti yang Anda harapkan, kami memantaunya dengan cermat dan tidak akan ragu untuk mengambil tindakan jika perlu,” katanya kepada Sky News

Tampaknya para pejabat Pemerintah Inggris sangat enggan untuk menerapkan kembali pembatasan terkait Covid, meskipun ada seruan dari para profesional kesehatan untuk melakukannya. Ini mengingat rumah sakit di Inggris yang bakal kewalahan menghadapi permintaan saat musim dingin mendekat.

Kepala Grup Vaksin Oxford, Andrew Pollard – yang membantu mengembangkan vaksin buatan AstraZeneca-Oxford University – menyampaikan pada Rabu bahwa subvarian delta tidak akan mengubah gambaran Covid.

“Penemuan varian baru tentu saja penting untuk dipantau, tetapi itu tidak menunjukkan bahwa varian baru akan menjadi yang berikutnya menggantikan Delta. Bahkan jika itu terjadi, Delta sangat bagus dalam mentransmisikan populasi yang telah divaksinasi dan yang baru mungkin sedikit lebih baik tetapi tidak mungkin mengubah gambaran secara dramatis dari tempat kita sekarang,” demikian penjelasan Pollard kepada radio BBC, yang dilaporkan Reuters.

Sementara itu, Profesor Imunologi di Imperial College London, Danny Altmann, mengatakan kepada CNBC pada Senin bahwa subtipe perlu dipantau dan, sejauh mungkin, dikontrol dengan hati-hati. “Karena Delta sekarang telah menjadi mutan dominan di beberapa daerah selama sekitar enam bulan dan belum tergantikan oleh varian lain. Perkiraannya adalah Delta mungkin mewakili kinerja mutasi puncak yang dapat dicapai oleh virus ini. AY.4 mungkin mulai meragukan pernyataan ini,” demikian peringatan yang disampaikan.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN