Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peta Laut Tiongkok Selatan yang disengketakan. ( Foto: AFP )

Peta Laut Tiongkok Selatan yang disengketakan. ( Foto: AFP )

Pakar Pertahanan: Agresi Tiongkok Memicu Pakta Keamanan Trilateral

Jumat, 17 September 2021 | 06:15 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Pakar pertahanan Peter Jennings mengatakan, langkah-langkah Tiongkok yang semakin agresif dan tegas berkontribusi pada pembentukan pakta keamanan trilateral baru antara Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Australia.

Kemitraan baru yang diumumkan pada Rabu (15/9), merupakan usaha untuk memperkuat stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Dalam pakta ini, AS dan Inggris akan membantu Australia memperoleh kapal selam bertenaga nuklir, yang bakal membantu angkatan laut Australia melawan kapal-kapal bertenaga nuklir milik Tiongkok di wilayah tersebut. Namun, ketiga negara itu menepis gagasan bahwa kemitraan yang dijalin ditujukan khusus untuk Tiongkok.

“Saya dapat meyakinkan Anda bahwa semua ini tidak akan berjalan jika bukan karena kebijakan yang lebih agresif dan tegas yang dilakukan oleh Presiden Xi Jinping selama setengah dekade terakhir atau lebih,” ujar Jennings, yang juga direktur eksekutif lembaga riset (think tank) Australian Strategic Policy Institute, kepada CNBC pada Kamis (16/9).

Dia menambahkan bahwa di bawah kepemimpinan Xi, Tiongkok telah memiliterisasi Laut Tiongkok Selatan, memperketat kontrol atas Hong Kong, mengancam Taiwan dan Jepang, serta menghukum Australia di bidang ekonomi.

“Tiongkok adalah masalah strategis di kawasan ini. Saya yakin Beijing tidak akan menyukai perkembangan ini, tetapi apa yang mereka harapkan? Sudah pasti terjadi bahwa negara-negara di kawasan ini akan berusaha memperkuat diri mereka sendiri untuk menghadapi Tiongkok yang lebih agresif, dan terus terang itulah yang terjadi dengan pengumuman ini,” demikian penjelasa Jennings.

Menanggapi pakta keamanan baru, Juru bicara Kedutaan Besar (Kedubes) Tiongkok di Washington, AS, Liu Pengyu menyampaikan kepada Reuters bahwa negara-negara tidak boleh membangun blok eksklusif yang menargetkan atau merugikan kepentingan pihak ketiga. “Secara khusus, mereka harus menyingkirkan mentalitas Perang Dingin dan prasangka ideologis mereka,” katanya.

Sementara itu, Derek Grossman, analis pertahanan senior dari RAND Corporation, mengatakan Tiongkok dapat menggunakan sanksi ekonomi sepihak sebagai respons atas pengelompokan keamanan baru tersebut.

“Tiongkok telah menggunakan itu sebagai instrumen di masa lalu untuk menghukum Australia karena dianggap pantas. Tapi ada banyak hal lain yang bisa dilakukan Tiongkok, mereka dapat meningkatkan ketegasan militernya di Laut Tiongkok Selatan, di Laut Tongkok Timur melawan Taiwan,” ujar Grossman kepada CNBC, Kamis.

Sedangkan para ahli geopolitik mengungkapkan bahwa Taiwan merupakan salah satu titik kritis paling berbahaya dalam persaingan strategis antara AS dan Tiongkok.

Menurut Jennings, penting untuk membangun efek pencegahan yang kuat di kawasan Indo-Pasifik sehingga Tiongkok bakal menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya mengejar permainan militer melawan Taiwan. (sumber lain/pya)


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN