Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif United Nations Childrens Fund (Unicef) Henrietta Fore. ( Foto: UNICEF / UN0154449 / Nesbitt )

Direktur Eksekutif United Nations Childrens Fund (Unicef) Henrietta Fore. ( Foto: UNICEF / UN0154449 / Nesbitt )

Pandemi Covid-19 Ancam Masa Depan Generasi Penerus

Jumat, 12 Maret 2021 | 07:15 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id – Pandemi virus corona Covid-19 telah berlangsung satu tahun dan diprediksi mengancam masa depan generasi penerus. Selama pandemi, banyak sekolah yang ditutup. Angka kemiskinan juga meningkat, terjadi kawin paksa, dan depresi. Indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur perkembangan anak dan remaja pun semuanya dilaporkan mengalami kemunduran.

United Nations Children's Fund (Unicef) lantas mengingatkan bahwa kemunduran yang terjadi menandai stigma abadi untuk seluruh generasi.

“Jumlah anak-anak yang kelaparan, terisolasi, dianiaya, gelisah, hidup dalam kemiskinan dan dipaksa menikah telah meningkat. Akses mereka ke pendidikan, sosialisasi dan layanan-layanan penting termasuk kesehatan, gizi dan perlindungan sudah menurun. Tanda-tanda bahwa anak-anak akan menanggung bekas pandemi di tahun-tahun mendatang, sudah tidak dapat diragukan lagi,” kata Direktur Eksekutif Unicef Henrietta Fore dalam sebuah pernyataan yang dirilis tepat satu tahun sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan Covid-19 sebagai pandemi, yang dilansir AFP.

Dihadapi dengan dampak menghancurkan seperti itu, Fore pun mendesak agar anak-anak ditempatkan “di jantung upaya pemulihan”, terutama dengan memprioritaskan sekolah-sekolah dalam perencanaan untuk dibuka kembali.

Unicef juga menunjukkan serangkaian angka mengkhawatirkan untuk mendukung kata-kata Fore.

Menurut Unicef, pandemi Covid-19 telah berdampak besar pada orang tua, anak-anak dan remaja di bawah usia 20 tahun – di mana mereka masuk ke dalam 13% dari 71 juta kasus virus corona yang dilaporkan di 107 negara, yang menyediakan data khusus terkait usia.

Sedangkan di negara-negara berkembang sendiri, proyeksinya menunjukkan peningkatan kemiskinan anak sebesar 15%.

Selain itu, sebanyak enam hingga tujuh juta lebih anak telah menderita kekurangan gizi pada 2020. Jumlah ini meningkat sebesar 14%, yang artinya terjadi lebih dari 10.000 kematian tambahan per bulan, terutama di kawasan sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan.

Penutupan sekolah selama hampir satu tahun juga memberikan dampak signifikan bagi 168 juta siswa di seluruh dunia. Bahkan sepertiga siswa dari jumlah tersebut dilaporkan tidak memiliki akses ke pendidikan daring (online).

Sebagai akibat dari sekolah yang ditutup dan situasi ekonomi yang memburuk, pandemi juga memicu terjadinya pernikahan 10 juta anak pada 2030. Catatan ini menambahkan 100 juta anak perempuan yang sudah dianggap berisiko untuk menikah pada saat itu.

Sedikitnya satu dari tujuh anak atau remaja disebut-sebut telah menghabiskan sebagian besar tahun terakhir di bawah pemberlakuan karantina atau lockdown sehingga meningkatkan kecemasan, depresi, dan isolasi.

Virus corona juga menyebabkan ditundanya kampanye vaksinasi terhadap penyakit lain – yang dimulai dengan campak – di 26 negara, sehingga meningkatkan ancaman terhadap kesehatan bagi orang yang belum memperoleh imunisasi.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN