Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Amazon. ( Foto: EMMANUEL DUNAND / AFP )

Logo Amazon. ( Foto: EMMANUEL DUNAND / AFP )

Pandemi Covid-19 Dongkrak Nilai Merek Amazon

Happy Amanda Amalia, Rabu, 1 Juli 2020 | 07:36 WIB

LONDON, investor.id – Perusahaan konsultasi Kantar merilis daftar merek paling bernilai dalam laporan BrandZ Top 100 Most Valuable Global Brands, pada Selasa (30/6). Tahun ini, merek yang duduk di posisi teratas adalah Amazon dengan nilai merek naik hampir sepertiga menjadi US$ 415,9 miliar, dibandingkan tahun lalu.

Sementara itu, Apple berada di peringkat kedua dengan nilai US$ 352,2 miliar, disusul oleh Microsoft dengan nilai merek US$ 326,5 miliar. Sedangkan Google berada di peringkat keempat dengan nilai merek US$ 323,601 miliar.

Menurut laporan Kantar, peningkatan ini sebagian disebabkan oleh naiknya penggunaan perangkat lunak Microsoft Teams karena para karyawan bekerja dari rumah selama pandemi virus corona Covid-19.

Walau berita tentang penyebaran wabah virus corona Covid-19 telah menyebabkan saham anjlok pada Maret, tetapi harga saham bisnis daring (online) seperti Amazon – yang mengantarkan bahan baku konsumen – mengalami kenaikkan pada April karena banyak toko fisik yang ditutup. Namun respons raksasa e-commerce itu terhadap pandemi telah telah dikritik.

“Meskipun konsumen bergantung pada pengiriman ke rumah selama pandemi telah memperluas kemampuan logistik Amazon, itu juga menegaskan kekuatan Amazon,” demikian pernyataan laporan Kantar.

Sedangkan Alibaba berada di peringkat keenam dalam daftar BrandZ dengan nilai merek US$ 152,5 miliar, naik 16% dari tahun sebelumnya. Untuk JD.com, nilai merek naik 24% menjadi US$ 25,5 miliar.

“Merek-merek itu memungkinkan orang untuk menavigasi kehidupan dengan perangkat digital, dan mencapai kemudahan dan kenyamanan, yang umumnya meningkatan nilainya atau setidaknya mengungguli kategori mereka,” demikian menurut laporan itu.

Posisi Lebih Baik

Merek-merek ini juga dalam posisi lebih baik untuk bertahan dari krisis keuangan baru, dibandingkan 2008-2009, menurut David Roth, ketua BrandZ.

“Bisnis memahami pentingnya berinvestasi dalam pengembangan merek yang lebih kuat dan lebih tangguh sebagai hasilnya,” katanya dalam siaran pers yang dikiriman ke CNBC.

Peserta baru dengan nilai merek tertinggi dalam daftar 100 teratas adalah, aplikasi berbagi video TikTok dari Tiongkok dengan nilai merek US$ 16,9 miliar. Peringkat lebih tinggi dibandingkan merek itu di antaranya, KFC, Uber dan Adidas.

"TikTok merupakan salah satu merek paling menarik dan kreatif yang kami lihat memasuki daftar 100 teratas, dan telah menjadi pengubah permainan (game-changer) selama pandemi berlangsung,” ujar Elspeth Cheung, kepala global valuasi BrandZ dari Kantar, dalam sebuah pernyataan melalui surat elektronik (email).

Tetapi merek ByteDance masih dikerdilkan oleh saingan aplikasi media sosial Instagram, yang nilai mereknya US$ 41,5 miliar, begitu halnya yang dialami Facebook.

Menurut Kantar, nilai total 100 merek dalam daftar mencapai US$ 5 triliun, atau naik 5,9%. Saat pra-pandemi, nilainya diperkirakan meningkat sebesar 9%.

Sebagai informasi, BrandZ Top 100 Most Valuable Global Brands yang dirilis setiap tahun merupakan hasil dari melakukan pemeringkatan perusahaan berdasarkan penggabungan kapitalisasi pasar mereka dengan riset terhadap konsumen lebih dari 3,8 juta orang di seluruh dunia.

Kantar menyatakan, pemeringkatan BrandZ ditugaskan oleh grup iklan WPP dan dilakukan oleh Kantar. Mereka mengungkapkan telah melihat lebih dari 17.000 merek di 51 negara. Sebagian besar konsumen disurvei secara daring (online) selama satu tahun, sementara beberapa kelompok berpenghasilan rendah disurvei secara langsung. Untuk merek-merek khusus, marjin kesalahan data survei kurang dari 3%. (sumber lain)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN