Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi sisa-sisa makanan yang terbuang. ( Foto: AFP )

Ilustrasi sisa-sisa makanan yang terbuang. ( Foto: AFP )

Pandemi Covid-19 Jadi Pengingat Krisis Limbah Makanan di Asia Tenggara

Selasa, 21 September 2021 | 07:23 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Para ahli dan pelaku industri menyampaikan, bahwa pandemi Covid-19 menjadi peringatan yang menyoroti keadaan mendesak untuk memerangi krisis limbah makanan global. Di tengah aturan karantina (lockdown) dan terhentinya perjalanan global, pandemi ini telah mengungkap kerentanan jaringan pasokan.

Gangguan-gangguan akibat virus corona menciptakan hambatan dalam tenaga kerja pertanian, transportasi dan logistik, serta memicu kekurangan pangan global dan kenaikan harga.

Namun menurut Direktur Program Ilmu dan Teknologi Pangan di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, William Chen, pandemi Covid-19 adalah peringatan yang sangat baik.

“Sebelum Covid-19, orang-orang kurang menganggap serius isu perubahan iklim karena makanan datang dengan mudah. Tapi sekarang masalah ini mulai muncul di benak orang-orang. Saya tidak melihatnya sebagai tujuan yang sia-sia, tetapi kesempatan yang baik untuk melakukan langkah 'bersih-bersih rumah' dari sistem saat ini,” ujar dia kepada CNBC, Minggu (19/9).

Sementara itu, limbah makanan masih menjadi salah satu tantangan global terbesar. Bahkan, Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) memperkirakan sepertiga dari semua makanan yang diproduksi – atau sekitar 1,3 miliar ton – terbuang sia-sia setiap tahun.

Menurut laporan lain dari organisasi yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu, limbah makanan juga menyumbang 8% hingga 10% dari emisi gas rumah kaca global.

Boston Consulting Group mengungkap, mengurangi limbah makanan dapat menghasilkan penghematan US$700 miliar. Dan pelaku bisnis di Asia Tenggara sudah mengikuti dan melakukan pencegahan limbah makanan, serta redistribusi dan daur ulang makanan berlebih.

Mengatasi Sisa Makanan

Pada 2020, Singapura menghasilkan 665.000 ton limbah makanan atau menciptakan sekitar 11% dari total limbah yang dihasilkan di negara kota tersebut.

“Keluar dari pandemi, lebih banyak hotel dan maskapai penerbangan sekarang menangani limbah makanan, dan menempatkan keberlanjutan dalam daftar prioritas penting mereka. Hal ini adalah perubahan besar dari beberapa tahun yang lalu, ketika limbah makanan hampir tidak diperhatikan dan sangat menantang untuk melakukan percakapan dengan pemain industri. Penerimaan yang meningkat, sebagian berkat peningkatan pendidikan, peraturan pemerintah yang baru, dan keberlanjutan yang menjadi agenda utama perusahaan,” demikian penjelasan Rayner Loi, salah satu pendiri dan chief executive officer (CEO) perusahaan rintisan pengelolaan limbah makanan Lumitics yang berbasis kecerdasan artificial (artificial intelligence/AI) di Singapura.

Menurut undang-undang baru, mulai 2024 dan seterusnya, para pemilik dan penghuni tempat komersial dan industri di Singapura yang menghasilkan makanan dalam jumlah besar akan diminta memisahkan limbah makanan mereka untuk diolah.

Lumitics telah mengembangkan pelacak bertenaga kecerdasan buatan yang dipasang di tempat sampah untuk mengukur dan melacak semua sisa makanan. Dengan mempelajari secara real time soal apa dan berapa banyak sisa makanan yang dihasilkan, para koki dapat mengambil tindakan mengurangi jumlah yang dihasilkan untuk hidangan tertentu di antrean prasmanan. Alhasil, dari temuan Lumitics mampu mengurangi limbah makanan hingga 40% dan biaya makanan hingga 8%.

Lumitics telah menjalin kemitraan dengan jaringan hotel besar seperti Accor, Hyatt, Marina Bay Sands, serta operator seperti Singapore Airlines dan Etihad Airways. Untuk selanjutnya, perusahaan berencana memperluas ke 1.000 lokasi dalam lima tahun ke depan di seluruh Asia-Pasifik dimulai dengan Hong Kong, Malaysia, Indonesia dan Australia.

“Seluruh industri mulai menyadari gagasan bahwa limbah makanan adalah salah satu peluang penghematan biaya terbesar yang belum dimanfaatkan untuk dapur mana pun,” tambah Loi.

Sedangkan pemain lain yang memerangi limbah makanan adalah Yindii. Perushaaan startup anti-sampah makanan Thailand ini meluncurkan aplikasi untuk menghubungkan penduduk Bangkok yang sadar lingkungan dengan toko roti, kafe, supermarket, dan restoran.

Bisnis-bisnis ini mengisi inventaris (makanan) mereka yang tidak terjual di “kotak kejutan”, yang dapat diambil pelanggan dengan harga diskon 50% hingga 80% di penghujung hari, dan mengirimkannya ke rumah mereka.

Pendiri Yindii dan pengusaha Prancis Louis-Alban Batard-Dupre menggambarkan situasi limbah makanan di Negeri Gajah Putih itu sebagai “bencana”, karena baru 2% limbah makanan yang didaur ulang.

Di Thailand, sekitar 17 juta ton makanan yang tidak terpakai dibuang setiap tahun dan sekitar 64% dari 27,4 juta ton sampahnya terdiri dari sampah organik, termasuk makanan dan sampah dapur. Bahkan, para pelaku industri sendiri sangat meremehkan permasalahan tersebut.

“Sebagian besar pelaku bisnis bidang makanan yang kami temui berpikir bahwa mereka tidak membuang banyak uang. Ketika mereka mulai membuat perhitungan cepat tentang arti 6% hingga 14% dari pendapatan tambahan, kami biasanya dihubungi kembali,” ujar Batard-Dupre.

Batard-Dupre menuturkan, pola pikir para pedagang juga telah berubah, karena lebih banyak merek yang bersiap untuk masa depan pariwisata pasca-Covid yang berkelanjutan. “Sampai saat ini, Yindii telah melihat lebih dari 20.000 kotak kejutan dibeli. Mendistribusikan kembali makanan yang akan dibuang juga membantu banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, tambahnya.

Teknologi Membuka Jalan

Di sisi lain, teknologi mulai memainkan peran yang lebih besar dalam mengatasi limbah makanan.

“Asia Tenggara sangat rentan terhadap limbah makanan karena memiliki banyak peternakan skala kecil yang mengandalkan peternakan intensif dan tidak memiliki sarana untuk berinvestasi dalam teknologi pertanian yang lebih efisien,” ungkap Chen dari NTU, yang juga konsultan untuk Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB).

Kelas berpenghasilan menengah yang tumbuh juga lebih banyak mengkonsumsi, lanjut dia.

Ada pun salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) PBB bertujuan mengurangi separuh limbah makanan pada 2030 di tingkat ritel dan konsumen, serta mengurangi kehilangan makanan di sepanjang rantai produksi dan pasokan, termasuk pasca panen.

“Lebih banyak kemitraan swasta-publik akan menjadi kunci, di mana perusahaan rintisan kecil yang antusias dapat ditingkatkan dengan bantuan teknologi dan pendanaan dari pemerintah, atau bekerja dengan perusahaan multinasional besar untuk menutup kesenjangan,” ujar Chen.

Usaha lain yang menguntungkan tambah dia, adalah upcycling, yang mengacu pada mengambil bahan-bahan yang biasanya akan dibuang dan memprosesnya menjadi produk baru yang berkualitas tinggi serta dapat dipasarkan.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : CNBC

BAGIKAN